Hutan Mangrove di Sei Tawar Rusak Parah

Redaksi: Sabtu, 29 April 2017 | 11.11.00

Lahan persawahan masyarakat yang dimasuki air asin. (Foto: Thamrin Nasution)


LABUHANBATU| HARIAN9 
Kondisi kerusakan hutan bakau (mangrove) di desa Sei Tawar Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, dinilai semakin mengkhawatirkan, akibatnya belasan hektare lahan persawahan masyarakat di dusun III Sei Tawar digenangi air asin diprediksi persawahan ini akan terjadi gagal panen, kata salah seorang masyarakat bernama Wartam (55).

"Seharusnya air asin ini tidak masuk kelahan persawahan masyarakat karena adanya benteng penahan air asin ,namun karena kerusakan hutan mangrove ini tidak ada lagi mampu menahan ketinggian air yang langsung dari laut," jelasmya.

Dikatakannya, dampak dari kerusakan hutan mangrove ini, bukan saja merusak lahan pertanian, akan tetapi masyarakat di sana mengkhawatirkan timbulnya sunami di mana kawasan ini berhadapan langsung dengan Selat Malaka.

"Hal ini pernah terjadi beberapa tahun lalu turun angin puting beliung, kalau tidak ada hutan bakau ini mungkin penduduk di Sei Tawar ini banyak yang korban, namun akibat puting beliung itu hutan bakau rusak puluhan hektare," ungkapnya.

Salah seorang pegiat lingkungan dari Perkumpulan "Hijau" yang melakukan rehabilitasi lingkungan di kawasan Sei Tawar ini, mengaku bernama Rudhy dalam perbincangan, Jumat (28/04/17 ).

"Parahnya kondisi hutan bakau di wilayah ini dalam kurun waktu tiga tahun abrasi yang disebabkan oleh rusaknya hutan bakau memang ada pengikisan daratan hingga lima meter dari bibir pantai. Salah satu penyebabnya memang akibat pengrusakan kawasan ini, baik akibat pengambilan kayu maupun alih fungsi kawasan untuk perkebunan,” jelas Rudhy.

Terkait masuknya air asin hingga beberapa ratus meter ke daratan, menurutnya, akibat semakin tidak terkendalinya perambahan dan alih fungsi kawasan bakau.

Kawasan hutan bakau yang berfungsi sebagai benteng air asin, kini semakin sempit bahkan di beberapa lokasi sudah rusak parah hingga terbuka langsung ke laut.

“Jelas kalau sudah tidak ada bakaunya, apa yang menjadi bentengnya. Kalau diharapkan benteng kanal sebagai solusi menahan air asin, seberapa mampu bisa menahan ketinggian air yang terkadang pada saat pasang tidak bisa diprediksi ketinggiannya,” tambahnya.

Untuk itu, menurutnya, solusi yang diambil hanya dengan merehabilitasi hutan mangrove di kawasan tersebut untuk menyelamatkan lahan-lahan pertanian yang berbatas langsung dengan bibir pantai. (Trn9)
Editor: Mardan H Siregar




Komentar