Mendes PDTT: Kembangkan Sektor Pariwisata dan Perikanan

Redaksi: Rabu, 17 Mei 2017 | 01.44.00

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, melakukan peletakan batu pertama revitalisasi pembangunan embung Sungai Abu Tabek Gadang di Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (13/5). (Foto: kemenkeu)


PADANG PARIAMAN| HARIAN9 
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, melakukan peletakan batu pertama revitalisasi pembangunan embung Sungai Abu Tabek Gadang di Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (13/5). Dengan luas 2,5 hektar, embung tersebut akan mampu mengairi Kecamatan Sintoga, Nan Sabaris, dan Ulakan Tapakis.

“Kita berharap revitalisasi ini akan dapat memberikan dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Selain sektor pertanian, sektor pariwisata dan perikanan juga bisa tumbuh,” ujarnya.

Diyakininya, produktivitas pertanian warga akan sangat terbantu dengan adanya pengairan yang baik. Dalam kalkulasinya, kurangnya air membuat para petani hanya mampu panen sekali dalam setahun. Embung, lanjutnya, akan membuat para petani mampu panen tiga hingga empat kali dalam setahun. Begitu juga dengan pengembangan sektor perikanan.

“Baru sekitar 45 persen desa-desa punya saluran irigasi atau embung. Nagari harus anggarkan Rp 200-Rp 500 juta untuk embung. Ini sesuai instruksi Presiden Joko Widodo,” ujarnya.

Ditambahkannya, embung juga harus bisa dimanfaatkan sebagai wisata air dan sarana olahraga seperti kolam renang. Selain itu, lanjutnya, pemerintah desa juga dapat menambahkan lapangan bola dan pengelolaan parkir sehingga total lahan yang digunakan bisa mencapai 4,5 hektar. Ia menegaskan hal tersebut dapat terwujud karena setiap desa kini memiliki dana desa.

"Awalnya banyak yang meragukan apakah desa mampu mengelola keuangannya sendiri. Ternyata masyarakat desa kalau dikasih kesempatan bisa. Ekonomi di desa-desa harus terus berkembang,” tegasnya.

Bupati Padang Pariaman, Ali Mukni, optimistis revitalisasi pembangunan embung berpotensi menjadi wisata unggulan daerah. Dirinya memprediksi embung tersebut juga akan mampu mengairi hingga 400 hektar lahan sawah. Ali pun mengapresiasi adanya dana desa dari pemerintah pusat karena dinilai mampu mempercepat pembangunan di pedesaan serta memberdayakan masyarakat desa.

“Embung ini ke depannya akan dijadikan tempat wisata, mancing ikan dan irigasi. Dananya murni diambil dari dana desa 2017 sebesar Rp.60 juta. Sampai selesai butuh dana 3M,” katanya.

Dalam sejarahnya, embung tersebut mulai dibangun sejak pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1912 dengan luas 2 hektar. Pada 2009 lalu, masyarakat meminta Wali Nagari mengeruk embung karena debit air mulai menurun. Hal itu disebabkan sedimentasi serta merimbunnya pohon kelapa dan rumbio di tepi embung. Pengerukan dan renovasi dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera V pada 2012 lalu. (kemendesa/03)
Editor: Mardan H Siregar 

 

Komentar