Perayaan Waisak 2561 Tahun 2017 Di Candi Sipamotung Berjalan Sukses

Redaksi: Kamis, 18 Mei 2017 | 21.41.00

Ketua panitia Kasim Wijaya menyerahkan penghargaan kepada Pemkab Palas, diterima Kadis Pariwisata Palas usai perayaan Waisak 2561 Tahun 2017 tingkat Sumut yang dipusatkan di Candi Sipamotung Desa Siparau Kecamatan Barteng Kabupaten Palas, Minggu (7/5) lalu.  (Foto: Riswandy)


PADANGSIDIMPUAN| HARIAN9
Pelaksanaan perayaan Hari Raya Waisak 2561 Tahun 2017 tingkat Sumatera Utara (Sumut) yang dipusatkan di Candi Sipamotung Desa Siparau Kecamatan Barumun Tengah (Barteng) Kabupaten Padang Lawas (Palas) pada 7 Mei 2017 lalu berjalan Sukses.

Ketua panitia pelaksana yang juga tokoh masyarakat Tionghoa penganut Budha Kasim Wijaya (Padangsidimpuan) didampingi Wakil Ketua David (Kota Pinang Kabupaten Labusel) dan Sekretaris Alfian, Rabu (17/5) mengatakan, pada perayaan ritual Hari Raya Waisak 2561 tahun 2017 dihadiri sejumlah pejabat se Sumut dan ribuan Umat Budha dari Medan, Langkat, Pematang Siantar, Padangsidimpuan, Labuhan Batu, Binjai, dll, yang melaksanakan ritual keagamaan di candi Budha tersebut.

Selain itu juga kata Kasim, pada acara ritual waisak dipandu 30 orang bikhu  yang datang dari Kota Medan. Prosesi ritual dilaksanakan dua tahap, yakni ritual Mahayana yang dimulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB dipimpin Bikhu Banthe Nyana Pratama dan ritual Terawada yang dimulai pukul 09.30 WIB sampai pukul 11.00 WIB dipimpin Bikshu Jinanamo.

Usai acara juga dilanjutkan acara tanam pohon jenis Bodi sebanyak 17 pohon di sekitar candi dan pemberian santunan kepada warga jompo di desa sekitar lokasi candi yakni desa Aek Tunjang, Siparau, dll.

“Kita ingin berbuat kebajikan, berbagi kasih dengan saudara kita yang tinggal di sekitar candi,  dengan niat menjalin kebersamaan untuk membantu warga. Kita jaga Kebhinekaan, meski berbeda, tapi semua bersaudara,  sama-sama menjaga keutuhan NKRI kita, ” kata Kasim.

Ditambahkannya, perayaan Hari Raya Waisak 2561 bagi Umat Buddha merupakan momen penting. Terlebih bagi yang merayakannya di Candi Sipamotung yang merupakan salah satu candi Budha yang ada di Tabagsel. Disamping itu juga, candi Sipamotung tersebut merupakan candi Budha, hal itu terlihat dari ciri khas candi.

“Tahun ini, peringatan Hari Raya Waisak juga mengadakan kegiatan tradisi untuk berbuat kebajikan. kepada sesame. Kebajikan itu, bisa berupa bantuan materi atau bahkan kasih sayang yang diberikan langsung kepada umat manusia,“ katanya.

Ia menambahkan, bagi umat Buddha, Hari Raya Waisak dijadikan sebagai hari peringatan tiga peristiwa penting, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan hari parinibanna atau mangkatnya Budha Sakyamuni yang dianggap sebagai Guru Agung Umat Buddha.

Sebelumnya, Bikhu Banthe Nyana Pratama mengatakan, perayaan memilih tema cinta kasih dan menjaga Kebhinekaan. Tema ini diangkat karena kita akhir-akhir ini sering mengalami reduksi dengan berbagai sikap intoleransi.

Dikatakannya, pemahaman Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila adalah warisan leluhur dan pejuang yang digagas untuk kebaikan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai puluhan suku bangsa.

“Kita doakan agar bangsa dan negara kita adalah berlaku hormat satu dengan yang lain, karena itu paling tinggi nilai nya. Budaya puja atau cinta kasih yakni kaya santun, budi pekerti luhur, meringankan beban penderitaan diri sendiri dan orang lain, agar semua makhluk berbahagia,” ucapnya. (Wan9)
Editor: Mardan H Siregar 





Komentar