Panglima TNI: Sel-Sel ISIS di Indonesia Harus Diwaspadai

Redaksi: Selasa, 13 Juni 2017 | 16.01.00

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat memberikan sambutan pada acara Buka Puasa Bersama Panglima TNI dengan Insan Pers di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Senin malam (12/6/2017). (Foto: Puspen TNI)

JAKARTA| HARIAN9
Setelah diadakan pengawasan hampir semua provinsi di Indonesia kecuali Papua ada sel-sel ISIS tapi masih tidur. Hal ini harus kita waspadai karena begitu sel-sel yang tidur dibangunkan maka akan ada berbagai macam spot konflik di Indonesia yang beraliansi Islamic State maka sudah pasti tangan-tangan negara luar akan masuk ke Indonesia.

Demikian diungkapkan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat memberikan sambutan pada acara Buka Puasa Bersama Panglima TNI dengan Insan Pers di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Senin malam (12/6/2017).

Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI menyampaikan bahwa kejadian di Marawi sudah diprediksinya  enam bulan yang lalu dan sudah disampaikan saat ceramah ke kampus-kampus di wilayah Indonesia. 

“Berdasarkan data-data intelijen terungkap bahwa  Bahrun Naim membentuk Islamic State Asia Tenggara di Filipina Selatan bersamaan dengan peristiwa penculikan-penculikan termasuk WNI karena ISIS  di Suriah dan Irak sudah tidak aman dan terdesak,” ucapnya.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo meminta agar media berperan dalam mengingatkan seluruh masyarakat apabila ada indikasi orang yang tidak dikenal agar melaporkan  ke TNI dan Polisi serta aparatur pemerintah lainnya. 

“Saya yakin rekan-rekan media semua sama-sama berjuang untuk memberikan pengabdian yang terbaik hanya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sama-sama kita cintai supaya kita dapat menyaksikan Indonesia menjadi bangsa pemenang yang akan diwariskan pada anak cucu kita nanti,” ungkapnya.

Menjawab pertanyaan awak media, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa Undang-Undang Teroris Nomor 15 tahun 2003 adalah Undang-Undang Pidana yang dibuat berdasarkan tekanan dari internasional untuk mengungkap peristiwa bom Bali yang lalu. 

“Sebelum adanya Undang-Undang Teroris tahun 2003, ada 3 bom meledak, namun setelah adanya Undang-Undang ada sekitar 40 bom yang meledak di wilayah Indonesia. TNI hanya minta kalau teroris itu dinyatakan sebagai kejahatan terhadap negara,” tegasnya.  

Lebih lanjut Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengungkapkan untuk mengatisipasi penyusupan teroris dari Marawi lewat laut maka Indonesia, Malaysia, Philipine (Indomalphi) sepakat mengadakan kerjasama patroli maritim. 

“Ketiga Negara tersebut yang diwakili masing-masing Menteri Pertahanaan akan berkumpul di Tarakan pada tanggal 19 Juni 2017 untuk launching Trilateral Maritime Patrol (TMP) Indomalphi,” ucapnya. (Autentikasi: Kabidpenum Puspen TNI, Kolonel Inf Bedali Harefa, S.H.).rel/03.
Editor: Mardan H Siregar 



Komentar