Kerjasama RI-Korea Kembangkan Pesawat Jet Tempur Generasi 4.5

Redaksi: Sabtu, 29 Juli 2017 | 13.26.00

Pemerintah Indonesia melalui Kemhan RI dan Pemerintah Republik Korea melakukan kerjasama pengembangan pesawat jet tempur generasi 4.5. (Foto: kemhan)

JAKARTA| HARIAN9 
Dalam meningkatkan kemampuan industri pertahanan nasional dan kemandirian teknologi nasional terkait dengan kemampuan memelihara dan mengembangkan pesawat tempur, Pemerintah Indonesia melalui Kemhan RI dan Pemerintah Republik Korea melakukan kerjasama pengembangan pesawat jet tempur generasi 4.5.

Pengembangan pesawat jet tempur jenis KF-X/IF-X ini merupakan implementasi kerjasama strategis antara Pemerintah RI dalam hal ini PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) dan Pemerintah Korea Selatan, yang ditandatangani pada 2006 lalu. 

Hal tersebut terungkap dalam acara jumpa pers antara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemhan RI Dr. Ir. Anne Kusmayati, M.Sc dengan awak media yang di Balai Media Kemhan, Jumat (28/7).

Pengembangan pesawat tempur secara mandiri lebih menguntungkan karena desain pesawat yang dibuat dapat menyesuaikan dengan persyaratan operasional dari PT DI. 

Kini, program tersebut masih dalam tahap peningkatan kesiapan teknologi PT DI untuk melakukan Engineering Manufacture Development (EMD).

Rencananya, KF-X/IF-X akan diluncurkan pada tahun 2021 untuk mendapat sertifikasi rancang bangun. Paling lambat pada tahun 2026, prototype atau purwarupa akan dioperasikan untuk memastikan pesawat dapat terbang dan bermanuver dengan baik, sesuai spesifikasi operasional.

Program pengembangan pesawat jet tempur KF-X/IF-X ini akan menjadi titik bangkit Indonesia dalam kemandirian industri pertahanan karena secara langsung akan mempengaruhi peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM), fasilitas dan infrastruktur PT. DI selaku industri pertahanan nasional dalam bidang kedirgantaraan.

Saat ini PT. DI telah mengirimkan 81 tenaga ahli ke Korean Aerospace Industry (KAI) di Sacheon City untuk mendapatkan pembekalan tentang sistem dan standar prosedur kerja di KAI. 

Di samping memperkuat PT. DI selaku industri pertahanan nasional yang akan terlibat langsung sebagai sub bagi KAI, Kemhan RI juga melakukan kerjasama dengan ITB dan Cranfield University untuk program post graduate dan program doktoral dalam rangka untuk melakukan pengembangan dan prototype.

Saat ditemui awak media dalam jumpa pers yang dimoderatori Kapuskom Publik Brigjen TNI Totok Sugiharto, S.Sos, Kabalitbang mengungkapkan bahwa dari segi biaya reparasi, memproduksi pesawat tempur sendiri lebih murah. 

Karena dapat menekan biaya operasional yang mencakup biaya produksi dan komponen, selain itu, akan lebih mudah dalam urusan perawatan (maintenance), perbaikan (repair), dan pembaharuan (upgrade) karena dapat dilakukan sendiri.

Sementara, urusan modifikasi dan integrasi persenjataan juga mudah karena tidak perlu menunggu persetujuan dari produsen pesawat dan rencananya pesawat tempur ini nantinya akan dipasarkan ke negara-negara Asia Pasifik. (kemhan/03)
Editor: Mardan H Siregar 

Komentar