Sidang Kasus Penista Agama Hadirkan Saksi Dari Pejuang dan FPI

Redaksi: Kamis, 06 Juli 2017 | 08.53.00



MEDAN| HARIAN9  
Jaksa penuntut umum (JPU) Sindu Utomo pada sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Anthony Ricardo Hutapea (62) dengan menghina Nabi Muhammad SAW melalui akun facebook (fb), hadirkan empat saksi. 

Keempat orang saksi itu adalah dari Pejuang Subuh dan FPI yakni, Isfan F Fachruddin (53) dan Dedi Permana (34) dari Pejuang Subuh, sementara  Zulfan (39) dan Afrizal, 30, dari FPI Kota Medan.

Sidang kasus penistaan agama melalui akun media sosial (fb) miliknya dengan menggunakan handphone  merek Vivo Type Y35, dipimpin oleh ketua Majelis Hakim  Erintuah Damanik, digelar di ruang sidang utama (Cakra 1) Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (4/7/2017)

Dalam kesaksiannya, Zulfan mengatakan, dirinya melihat postingan tulisan penghinaan Islam yang sudah ramai di media sosial. Postingan komentar Anthony dalam facebook itu menyebutkan, “Hei Toya goblok, Kristen itu sudah ada 600 tahun baru lahir si Muhammad, artinya umat Kristen itu sudah punya Tuhan yaitu Tuhan Jesus Kristus sebelum ada wujud Al-quran atau Islam, jadi si Muhammad itu dan kawan-kawannya salah menjiplak Alkitab sesudah ratusan tahun dan asal comot-comot aja ayat-ayatnya dari Alkitab ke Al-Quran, Al-quran itu kitab cacat yang belum semuanya di jiplak dari Bibel ke buru Muhammad mati diracuni istrinya yang masih anak-anak berumur 15 yaitu Aisyah atas suruhan orang tuanya. Karena tidak tahan melihat si Muhammad Hypersex semua disikat menantu mertua semua di ewek Muhammad‎,” ucap Zulfan membacakan tayangan tulisan penghinaan Anthony terhadap Islam melalui telpon pintar (smartphone) miliknya di hadapan majelis hakim.

Zulfan mengatakan, dirinya tidak melihat langsung tayangan penghinaan tersebut dari akun facebook milik Anthony. Namun, setelah ramai di media sosial dan dia membacanya, sontak membuat dia dan umat islam di Medan marah. “Menjadi pembahasan di grup 212 (grup whatsapp) atas postingan Anthony majelis hakim,” tuturnya.

Makanya dia ikut melaporkan Anthony ke Polrestabes Medan dan dimintai keterangan oleh Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polrestabes Medan atas kasus penistaan agama yang dilakukan Anthony itu. 

Sementara saksi dari Pejuang Subuh Isfan F.Fachruddin menjawab majelis hakim mengenal terdakwa dan berteman di media sosial facebook. Saksi Isfan mengatakan dirinya melihat anthony melecehkan agama islam ketika postingan status facebook di caputure teman saya.

“Saya lihat komentar anthony di fb yang diposting dari pesan whats up, yang dikirim oleh teman saya Dody. Maka saya menilai, komentar terdakwa itu sudah melakukan penghinaan terhadap rasulnya umat Islam," ungkapnya.

Selanjutnya, ditengah persidangan Isfan menyerahkan bukti dalam bentuk print postingan komentar terdakwa Anthony Ricardo Hutapea yang menyebutkan, .... jadi si Muhammad itu dan kawan-kawannya salah menjiplak Alkitab sesudah ratusan tahun dan asal comot-comot aja ayat-ayatnya dari Alkitab ke Al-Quran, Al-quran itu kitab cacat yang belum semuanya di jiplak dari Bibel ke buru Muhammad mati diracuni istrinya yang masih anak-anak berumur 15 yaitu Aisyah atas suruhan orang tuanya karena tidak tahan melihat si Muhammad Hypersex semua disikat menantu mertua semua di ewek Muhammad.    

Saksi berikutnya, Dedy Permana menjawab pertanyaan hakim dan penesehat hukum terdakwa dengan jelas seputar postingan terdakwa Anthony yang telah melakukan penghinaan agama Islam.   
Saksi lainnya Afrizal, juga mengatakan bahwa postingan yang menghina nabi Muhammad ini diketahuinya dari grup Whats Up 212 yang dikirim zulfan.

“Saya lihat postingan ini dari grup w.a 212 yang dikirim oleh Zulfan, semua merasa berang atas tindakan Anthony ini, maka dari itu akhirnya ustad Dzafar melapor ke polisi, ” ungkapnya kepada Hakim.

Sebelumnya JPU Sindu Utomo mengatakan bahwa terdakwa pernah mencoba menghilangkan barang bukti.

“Mengetahui dirinya terancam, pada 13 April 2017 terdakwa menggunting kartu sim yang terpasang di ponselnya, membuangnya, kemudian membuat laporan kehilangan dengan tujuan menghilangkan barang bukti,” ungkap jaksa Sindu

Jaksa Sindu menimpali bahwa Facebook adalah media sosial tempat berbagi informasi yang bersifat umum, dan setiap komentar yang diletakkan dalam bentuk gambar, tulisan, video maupun suara yang di berada di dalam grup terbuka atau tertutup dapat dikategorikan sebagai menyebarkan informasi.

Disebutkan, terdakwa telah dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelempok masyarakat tertentu berdasarkan atas Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA).

Dikatakannya, kata-kata yang telah di posting oleh terdakwa melalui akun facebook miliknya tersebut telah melecehkan, menodai dan merendahkan agama Islam karena Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang merupakan sumber kebenaran dalam ajaran umat Islam dan merupakan sumber hukum bagi umat Islam, disamping itu nabi Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul yang merupakan suri tauladan bagi Umat Islam sehingga kata-kata yang telah di Posting oleh terdakwa dalam akun Facebooknya tersebut dapat menimbulkan kebencian orang atau kelempok orang saat membaca postingan tersebut dan akhirnya bisa mengakibatkan perpecahan antara umat beragama yang dikenal dengan SARA (Suku, Agama, Ras, Adat) di tengah masyarakat yang tidak boleh ditampilkan di Media Elektronik.

Dijelaskannya, pada 13 April 2017 sekira pukul 09.00 WIB terdakwa mengambil kartu sim yang terpasang di Hand Phone Vivo milik terdakwa tersebut, lalu terdakwa menggunting kartu sim tersebut dan membuangnya, selanjutnya terdakwa membuat laporan kehilangan atas 1 unit hand phone milik terdakwa dengan tujuan untuk menghilangkan bukti.

‎Atas perbuatannya, Terdakwa diancam Pidana dalam Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta penistaan agama melalui media sosial, pasal 156 dan 156 (a) KUHPidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara‎. Karena terdakwa berdomisili dan ditahan di Kota Medan dan sebagian besar saksi berdomisili di Kota Medan maka berdasarkan Pasal 84 ayat (2) KUHAP perkara ini disidangkan di PN Medan," ungkap Sindu. 

Setelah mendengar keterangan keempat saksi itu, Majelis Hakim menunda persidangan kembali hingga Senin (10/7/2017) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dan ahli. Terdakwa tetap berada dalam tahanan dan dihadirkan dalam sidang selanjutnya,” sebut hakim sembari mengetukkan palu tanda persidangan ditutup. (01)

Komentar