Alokasi Subsidi Pada RAPBN 2018

Redaksi: Sabtu, 19 Agustus 2017 | 19.44.00

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tahun Anggaran 2018 (RAPBN 2018) dalam Konferensi Pers di kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta pada Rabu (16/08). (Foto: kemenkeu)

JAKARTA| HARIAN9
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan alokasi Belanja Subsidi pada Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tahun Anggaran 2018 (RAPBN 2018) dalam Konferensi Pers di kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta pada Rabu (16/08).

Mempertimbangkan aspek keadilan, Pemerintah tetap membantu kelompok miskin 40 persen terbawah dengan tetap mempertahankan subsidi sebesar Rp.172,4 triliun yang terdiri dari subsidi energi dan subsidi non-energi seperti subsidi pangan, pupuk, Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik.

“Subsidi 172,4 triliun (rupiah) terdiri dari subsidi energi Rp.103,4 triliun dan subsidi non-energi yaitu subsidi pangan Rp.7,3 triliun dan subsidi pupuk Rp2.8,5 triliun. Kemudian Rp.51,1 triliun untuk BBM dan LPG 3 kilo, dan subsidi listrik Rp.52,2 triliun. Ini adalah untuk subsidi 450 VA (Volt Amper) dan untuk pelanggan 900 Volt Amper meskipun kemarin banyak yang menyampaikan adanya kenaikan harga listrik namun sebetulnya sebagian masih disubsidi,” jelasnya.

Disampaikannya, alokasi subsidi ke pendidikan sebesar 440 triliun rupiah dengan harapan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari tahun ke tahun. 

“Tadi saya sampaikan anggaran pendidikan Rp.440 triliun dimana yang dibelanjakan di pusat adalah Rp.146 triliun dan sebagian besar dibelanjakan melalui transfer ke daerah. Ini termasuk program-program 19,7 juta siswa penerima Kartu Indonesia Pintar, Bantuan Operasi Sekolah untuk sekitar 262 ribu sekolah. Kita membangun dan merehabilitasi ruang kelas lebih dari 61 ribu dari SD-SMP, tunjangan Profesi Guru baik PNS dan Non-PNS, dan Beasiswa Bidik Misi yang mencapai lebih dari 400 ribu murid. Seperti yang diharapkan Bapak Presiden, harapannya IPM akan meningkat dari tahun ke tahun,” jelasnya. (kemenkeu/03)
Editor: Mardan H Siregar 




Komentar