Konektivitas Laut Bitung-Davao Picu Peningkatan Ekspor ke Filipina

Redaksi: Kamis, 17 Agustus 2017 | 11.32.00

Dirjen PEN, Arlinda membuka Forum Diseminasi Peningkatan Ekspor ke Pasar Filipina Memanfaatkan Konektivitas Laut Bitung-Davao/General Santos di Bogor, Selasa (15/8). (Foto: kemendag)

BOGOR| HARIAN9 
Rute konektivitas laut Bitung-Davao/General Santos yang  dibuka Presiden Joko Widodo dan Presiden Duterte pada 30 April 2017, membuat Kementerian Perdagangan semakin intensif membuka peluang peningkatan ekspor ke pasar Filipina. 

Kemendag melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) menggelar “Forum Diseminasi Pengembangan Ekspor ke Pasar Filipina dengan Memanfaatkan Konektivitas Laut BitungDavao/General Santos” di Bogor, pada Selasa (15/8).

“Kemendag turut mendorong pemanfaatan Roro Bitung-Davao untuk mendukung peningkatan ekspor nasional ke Filipina sebagai salah satu pasar ekspor potensial di ASEAN,” ujar Direktur Jenderal PEN Arlinda saat membuka forum tersebut.

Kemendag menargetkan peningkatan ekspor 2017 ke Filipina sebesar 11,22 persen menjadi USD.5,8 miliar dari sebelumnya sebesar USD 5,26 miliar pada 2016. 

Rute Bitung-Davao diharapkan dapat menjadi rute alternatif yang lebih singkat untuk meningkatkan konektivitas dan perdagangan internasional antara Indonesia dengan Filipina.

“Rute Bitung-Davao ini akan memberikan manfaat dalam peningkatkan perekonomian lokal termasuk mendorong rantai apsok global, merangsang pembangunan infrastruktur daerah, meningkatkan sektor pariwisata, membentuk hubungan udara langsung, dan meningkatkan arus masuk investasi,” lanjut Arlinda.

Menurutnya,  bila rute Davao-General Santos-Bitung dapat berjalan dengan baik, maka Indonesia akan mempunyai keuntungan tambahan dalam hal pengurangan jarak berlayar dari Indonesia Timur, serta mengurangi waktu pengiriman.

Indonesia adalah mitra dagang sangat penting bagi Pulau Mindanao karena Indonesia masuk dalam lima besar negara asal impor/pemasok terbesar, yaitu pada urutan ke-4. 

Selama 2011-2015, impor Pulau Mindanao dari Indonesia meningkat rata-rata per tahun sebesar 10,8 persen.

Impor Pulau Mindanao dari Indonesia pada 2015 mencapai USD 286,0 juta atau meningkat signifikan mencapai 79,7 persen dibandingkan pada 2014. 

Kita  punya  potensi yang cukup besar untuk produk seperti rumput laut, minyak goreng, tepung terigu, di samping produk potensial seperti bulir jagung, kopra, kopi, semen Portland, tuna yellowfin beku, lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bangunan, ikan cakalang, papan, konsol untuk voltase melebihi 1.000 volt, dan pupuk ammonium sulfat.

Para narasumber pada forum tersebut yaitu Konjen RI-Davao City, Direktur Kerja sama Pengembangan Ekspor, Kadin Indonesia komite Filipina, Kadin Provinsi Sulawesi Utara, perwakilan Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor, dan perwakilan Pelindo IV.

Adapun peserta pada forum ini adalah pelaku usaha/eksportir dengan produk antara lain sabun, tekstil, furnitur, makanan dan minuman olahan, bahan kimia, batu bara, arang, dan konstruksi. 

Selain itu hadir pula perwakilan dari asosiasi, perusahaan jasa pengiriman, dan instansi terkait lainnya.

Sekilas Perdagangan Indonesia-Filipina

Berdasarkan data BPS, total nilai perdagangan Indonesia dan Filipina pada periode 2012-2016 memiliki nilai tren yang positif sebesar 6,24 persen. 

Nilai ekspor nonmigas pada 2016 sebesar USD.5,26 miliar mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015 sebesar USD.3,92 miliar. 

Sedangkan nilai impor nonmigas Indonesia pada 2016 dari Filipina sebesar USD.820 juta, sehingga Indonesia mengalami surplus sebesar USD.4,44 miliar.

Selain itu, total perdagangan Indonesia ke Filipina pada periode Januari-Mei 2017 adalah sebesar USD 2,85 miliar dengan nilai ekspor nonmigas tercatat USD.2,48 miliar dan impor nonmigas sebesar USD.367 juta. 

Komoditas ekspor Indonesia ke Filipina antara lain kendaraan, makanan olahan, minyak nabati, kertas, karet dan barang dari karet. 

Sedangkan komoditas impor Indonesia dari Filipina, antara lain tembaga, polipropilena, gear untuk kendaraan bermotor, aksesori untuk
kendaraan bermotor dan elektronik. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar





Komentar