Delegasi RI Perjuangkan Perluasan Akses Pasar ke Jepang

Redaksi: Sabtu, 23 September 2017 | 22.00.00



TOKYO| HARIAN9 
Delegasi Indonesia memperjuangkan perluasan akses pasar produk potensial Indonesia di Jepang, khususnya sektor perikanan, kehutanan, pertanian, dan industri. Ini dilakukan saat pertemuan Delegasi Indonesia dan Jepang dalam kerangka General Review Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) di Tokyo, pada 19-20 September 2017.

"Fokus utama pertemuan ini adalah membahas perluasan akses pasar produk potensial Indonesia di Jepang, khususnya sektor perikanan, kehutanan, pertanian, dan industri," tegas Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan sekaligus ketua negosiator perundingan barang IJ-EPA Indonesia Ni Made Ayu Marthini, Rabu (20/09).

Menurutnya, empat hingga lima tahun setelah implementasi, kedua negara sepakat kembali bernegosiasi untuk beberapa akses pasar Indonesia ke Jepang di sektor perikanan, kehutanan, pertanian, dan industri. Namun hingga tahun ini, pelaksanaan negosiasi tersebut tertunda sehingga momentum kali ini sangat penting untuk mengejar keterlambatan.

"Pertemuan di Tokyo ini merupakan kelanjutan dari pertemuan Komite Bersama di Bali bulan lalu dalam rangka penyelesaian General Review IJ EPA, atau sebuah perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang yang telah disepakati satu dekade lalu", kata Made.

Terdapat empat pertemuan sub komite yang dibahas, yaitu bidang perdagangan barang, jasa, tenaga kerja (movement of natural persons/MNP), dan kerja sama.

Di bawah sub komite tenaga kerja, Indonesia akan memperjuangkan agar jumlah perawat dan perawat bagi lanjut usia (caregiver) Indonesia ke Jepang dapat ditingkatkan dari sebelumnya, termasuk akses tenaga kerja terdidik Indonesia di bidang lainnya, selain perawat dan caregivers.

"Indonesia memperjuangkan agar tenaga kerja Indonesia dapat melakukan program magang di Jepang di berbagai sektor yang nantinya dibutuhkan Indonesia untuk mengembangkan industri di dalam negeri. Esensi dari perundingan dengan Jepang adalah mendapatkan keuntungan kedua pihak,” kata Direktur Perluasan Pasar Kerja Kemenaker selaku Ketua Sub Komite MNP Roostiawati.

Di bidang kerja sama dibahas reviu kerja sama sebelumnya dan potensi bentuk kerja sama yang dibangun kedua negara agar implementasi IJEPA dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh Indonesia.

“Kedua delegasi menunjukkan pendekatan baru yang pragmatis, jauh ke depan dan solutif mencari persamaan daripada membahas perbedaan. Kedua delegasi bertekad menyelesaikan General Review pada tahun 2017," lanjut Made.

Pertemuan Sub Komite Perdagangan ini merupakan momen yang sangat penting untuk meningkatkan kinerja perdagangan kedua negara. Meskipun neraca perdagangan selalu surplus bagi Indonesia (2012-2016), namun data menunjukkan bahwa total perdagangan antara Indonesia dan Jepang mengalami tren penurunan rata rata 15 persen per tahun, dari USD.52,9 miliar di tahun 2012, USD.40,1 miliar tahun 2014 dan USD.29 miliar di 2016.

Pertemuan Sub Komite Bidang Perdagangan Barang berikutnya akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2017 di Indonesia.

"General Review IJEPA ini merupakan momentum yang baik untuk merundingkan kembali perluasan akses pasar kedua negara, serta peningkatan kerja sama ekonomi yang lebih luas," ujar Made.

Sekilas Indonesia-Japan EPA

IJEPA ditandatangani di Jakarta pada 20 Agustus 2007 dan berlaku efektif pada 1 Juli 2008.

Berdasarkan amanat pasal 151 Perjanjian IJEPA, Indonesia dan Jepang dapat melakukan General Review implementasi dan operasionalisasi perjanjian pada tahun ke-5 sejak dimplementasikan.

Pertemuan pertama Komite Bersama General Review IJEPA dilaksanakan di Jakarta pada 12 September 2014 dan pertemuan keempat dilaksanakan pada 3-4 Desember 2015 di Tokyo, Jepang. 

Setelah sempat terhenti hampir dua tahun, pertemuan kelima akhirnya dilaksanakan pada 29-30 Agustus 2017 di Bali, Indonesia. Dalam kerangka General Review IJEPA dibentuk 7 (tujuh) Sub Komite dan salah satunya adalah Sub Komite Bidang Perdagangan Barang.

Implementasi IJEPA berhasil meningkatkan nilai ekspor perdagangan Indonesia ke Jepang. Neraca perdagangan Indonesia-Jepang selama periode 2012-2016 selalu menunjukkan surplus bagi Indonesia. 

Data tahun 2016 menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke Jepang mencapai USD.16,1 miliar dan impor sebesar USD.12,9 miliar.

Adapun komoditas ekspor utama Indonesia ke Jepang adalah batubara, biji besi, metal, nikel, dan bahan baku industri. Sementara impor utama Jepang dari Indonesia adalah produk otomotif, produk besi dan baja, komponen otomotif, dan permesinan.

Sementara itu, pemanfaatan tarif preferensi IJEPA (SKA) atas ekspor Indonesia ke Jepang juga menunjukkan tren positif sebesar 16,48 persen (2008-2016). Untuk tahun 2016 sendiri, pemanfaatan SKA IJEPA telah mencapai nilai USD 7,5 miliar (47 persen dari total ekspor Indonesia ke Jepang). (rel/03).
Editor: Mardan H Siregar 

Komentar