Ekonomi Makro Terjaga dengan Penurunan Suku Bunga Kebijakan

Redaksi: Jumat, 29 September 2017 | 13.57.00

Ilustrasi

JAKARTA| HARIAN9 
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 20 dan 22 September 2017 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps dari 4,50 persen menjadi 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility turun 25 bps menjadi 3,50 persen dan Lending Facility turun 25 bps menjadi 5,00 persen. Kebijakan tersebut berlaku efektif sejak 25 September 2017. 

Penurunan suku bunga kebijakan tersebut diharapkan memperbaiki intermediasi perbankan dan pemulihan ekonomi domestik yang sedang berlangsung. BI juga telah memperhitungkan risiko eksternal rencana kebijakan Fed Funds Rate (FFR) dan normalisasi neraca bank sentral AS.

Prospek perekonomian global diperkirakan semakin membaik di negara maju. Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan lebih tinggi sejalan dengan perbaikan permintaan domestik. 

Demikian pula, pertumbuhan ekonomi di Eropa membaik seiring dengan peningkatan aktivitas konsumsi dan penurunan ketidakpastian sektor keuangan. 

Di negara berkembang, perekonomian Tiongkok diperkirakan tumbuh lebih baik didukung oleh konsumsi yang kuat dan penyaluran kredit yang meningkat. Peningkatan pertumbuhan di Tiongkok diperkirakan dapat mengkompensasi penurunan pertumbuhan di India.

Di pasar komoditas, harga minyak relatif stabil dan harga komoditas ekspor Indonesia relatif tetap tinggi, terutama batubara dan tembaga. Relatif membaiknya pertumbuhan ekonomi global dan tetap tingginya harga komoditas dunia berdampak positif terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Dikutip dari situs Bank Indonesia (BI), selama Agustus 2017, secara rata-rata rupiah menguat sebesar 0,02 persen menjadi Rp.13.343 per dolar AS. Penguatan tersebut dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS dan aliran masuk dana asing yang menyebabkan kondisi net supply di pasar valas. (kemenkeu/03)
Editor: Mardan H Siregar 



Komentar