Enggar Pembicara dalam Forum “Inclusive Business Summit”

Redaksi: Kamis, 07 September 2017 | 02.00.00

Enggar menjadi salah satu pembicara dalam forum “Inclusive Business Summit” yang baru dilaksanakan untuk pertama kalinya di Hotel Marriot, Kota Pasay, Filipina. (Foto: kemendag)

PASAY| HARIAN9 
Mengawali kunjungan kerjanya ke Filipina, pada hari yang sama Enggar menjadi salah satu pembicara dalam forum “Inclusive Business Summit” yang baru dilaksanakan untuk pertama kalinya di Hotel Marriot, Kota Pasay, Filipina. 

Bersama dengan Secretary of Trade and Industry of the Philippines Ramon M. Lopez, Minister of International Trade and Industry Malaysia Dato Sri Mustapa Muhamed, serta Deputy Minister Ministry of Industry and Trade Viet Nam, Mendag Enggar hadir dalam sesi “Enabling Inclusive Business Through Policy”.

“Untuk mendorong bisnis inklusif Pemerintah harus melakukan perannya dalam meningkatkan kesadaran dan menciptakan lingkungan yang mendukung untuk pengembangan model dan ukuran kegiatan bisnis inklusif yang berbeda. Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia telah memberikan fokus pada salah satu tantangan utama yaitu minimnya pembiayaan,”  kata Enggar, Rabu (06/09).

Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo menjelaskan bahwa arah dari bisnis inklusif tersebut adalah pengembangan ekonomi kerakyatan. 

"Arah dari bisnis inklusif tersebut adalah pengembangan ekonomi kerakyatan dan mempersiapkan para pelakunya dalam menghadapi dan memasuki rantai pasok global," jelasnya.

Bisnis inklusif adalah bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi memberikan dampak yang lebih luas yaitu menyejahterakan masyarakat. Bisnis inklusif ini masih merupakan konsep yang relatif baru digalakkan oleh ASEAN.

Di Indonesia, perusahaan besar memegang peranan penting dalam pengembangan bisnis inklusif di berbagai sektor, khususnya di sektor berbasis agro seperti karet, kakao, lada, teh, vanili, dan kelapa sawit. 

Fokusnya adalah pada peluang dan kesempatan bisnis pada masyarakat berpenghasilan rendah. 

Sementara untuk sektor manufaktur, bisnis inklusif yang dikembangkan antara lain elektronik, mebel rotan, dan herbal; di sektor jasa termasuk pariwisata, pemasaran, serta layanan transportasi berbasis aplikasi dengan jangkauan bisnis yang lebih luas. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar


Komentar