Festival Colorful Indonesia di Paris Integrasikan Promosi Potensi Nusantara

Redaksi: Sabtu, 30 September 2017 | 16.38.00

Kesenian, kerajinan, serta produk unggulan Tanah Air hadir pada Festival Colorful Indonesia, atau FCI 2017, yang diselenggarakan KBRI Paris tanggal 23-24 September 2017 di Pavillon Dauphine, Paris. (Foto: kemlu)


PARIS, PRANCIS| HARIAN9
Kesenian, kerajinan, serta produk unggulan Tanah Air hadir pada Festival Colorful Indonesia, atau FCI 2017, yang diselenggarakan KBRI Paris tanggal 23-24 September 2017 di Pavillon Dauphine, Paris. 

FCI 20017 merupakan ajang promosi terintegrasi, atau biasa disebut TTI: trade, tourism, investment. Dengan tema "Danau Toba", warna warni kebudayaan, kuliner, dan fashion Indonesia pun sukses menghibur 3000 pengunjung. 

Apalagi ada karya-karya desainer Oscar Lawalata dengan kain tradisional Nusantara, berbagai makanan dan jajanan khas Indonesia, serta kerajinan khas. Adanya door prize tiket pesawat ke Jakarta dan Bali dari Turkish Airlines, Singapore Airlines, serta Garuda Indonesia pun menambah antusiasme pengunjung.

Dari panggung pertunjukan, FCI 2017 menampilkan tari dan musik tradisional, seperti lagu-lagu dari Sumatra Utara, tarian dari Manado, serta gamelan Bali. Kelompok musik 'Amigos Band' serta trio 'Style Voice' pun sukses memeriahkan suasana dengan berbagai tembang kenangan, lagu daerah, hingga musik Poco-Poco dan Goyang Maumere. 

Sementara gitaris kenamaan 'Balawan' dan kelompoknya yang tampil beberapa kali pun mendapatkan sambutan hangat, terutama setelah melihat permainan tangan si "Magic Finger" yang sangat cepat itu.

Di halaman Pavillon Dauphine hadir area bazar, yang dikelola oleh Indonesia Diaspora Network France (IDNF). Diikuti oleh 30 restoran dan UMKM Indonesia di Prancis, di area bazar terdapat rendang, mie bakso, nasi goreng, sate, aneka gorengan, hingga jengkol balado dan nasi Bali, serta produk kerajinan, seperti kain batik, tas kulit, dan perhiasan perak. 

Terasa capek? Para pengunjung pun terlihat menikmati mini-spa Indonesia.

Selain pertunjukan budaya, panggung FCI 2017 juga mempersembahkan Sustainability Talk yang mengangkat sawit Indonesia. Sekjen GAPKI, Togar Sitanggang mewakili BPDP Sawit, wakil Sekjen Apkasindo, Rino Afrino, serta Profesor Yanto Santosa dari IPB hadir untuk menyampaikan pandangan mengenai aspek-aspek sosial, kesehatan, dan lingkungan hidup. 

Kelapa sawit diangkat karena masih banyak kesalahan dalam pemahaman mengenai deforestasi yang mengakibatkan diskriminasi terhadap produk minyak sawit Indonesia di Prancis dan Eropa. Padahal produk ini sangat bermanfaat, banyak turunan produknya, sehingga memiliki potensi ekspor besar.

Sementara untuk promo pariwisata, hadir perwakilan dari Pemkab Humbang Hasundutan, Toba Samosir, dan Kota Manado untuk memperkenalkan potensi wisata 'Beyond Bali' yang sedang digencarkan Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pariwisata. Pemkab Toba Samosir, khususnya, mengundang semakin banyak wisatawan Prancis untuk ke Danau Toba yang telah ditetapkan sebagai 10 destinasi wisata prioritas Indonesia. 

Hal ini ditekankan pula oleh Garuda Indonesia Holiday France yang berbicara dalam sesi Tourism Update FCI 2017, dimana Danau Toba memiliki aspek yang sangat lengkap: alam indah, makan enak, infrastruktur terjamin, wisata belanja dan harga terjangkau.  

Forum Bisnis Buka Peluang Investasi dan Perdagangan Lebih dari 100 Juta Dolar 

Masih dalam rangkaian FCI 2017, KBRI Paris menyelenggarakan Indonesia-France Business Forum pada tanggal 25 September 2017 di Pavillon Dauphine. 

Dihadiri sekitar 100 orang dari 40 perusahaan (dari Indonesia dan Prancis), beragam produk Indonesia sukses mendapatkan perhatian, seperti kopi, teh, minyak sawit, kakao, herbal drink, dan rempah. 

Dari sesi business one-on-one, potensi investasi diproyeksikan sekitar 70 Juta USD, terutama untuk industri pengolahan makanan dan pariwisata. Sedangkan untuk transaksi komoditas diperkirakan minimal 45 Juta USD, terutama untuk produk CPO yang dibutuhkan untuk bio-fuel oleh salah satu perusahaan swasta Prancis.

Tercatat ekspor kelapa sawit Indonesia ke Prancis mengalami peningkatan pada semester pertama tahun 2017 senilai 35,4 ribu ton atau naik hingga 114% dibandingkan periode yang sama tahun 2016, yaitu 16,5 ribu ton. 

"Dengan pemahaman yang baru, kami ingin para pelaku bisnis Prancis dan Eropa tartarik untuk meningkatkan investasinya di Indonesia pada sektor ini," ungkap Togar Sitanggang dari GAPKI. 

Diingatkan pula bahwa Pemerintah Indonesia, didukung asosiasi dan pengusaha, telah dan sedang melakukan berbagai langkah aktif untuk meningkatkan kapasitas sustainability sawit Indonesia.

Sebagai perbandingan, peningkatan produksi minyak kedelai di banyak negara lain telah menyebabkan pembukaan lahan yang lebih luas, namun ini tidak dipandang sebagai suatu penyebab deforestasi. 

Masyarakat luas memang perlu terus diinformasikan tentang siklus perkebunan kelapa sawit lestari yang memberi banyak manfaat bagi perekonomian Indonesia, termasuk kesejahteraan petani kecil, sehingga tuduhan deforestasi kepada Indonesia dapat dijawab.

Perusahaan-perusahaan Indonesia yang berpartisipasi dalam business forum ini adalah PT Gunung Subur Sejahtera (teh dan palm oil), PT Sari Segar Husada (kelapa parut), PT Djarum Tbk (cigar), PT Lintang Qartiga Surakarta (kopi), CV Duta Java Tea Industri (Teh 2Tang), PT Kalla Kakao Industri (coklat), PT Sungai Budi (kopi dan coconut), PT Kampung Kearifan (bumbu "Javara"), PT Adijaya Naturindo (teh, kopi, buah), dan ANXA Consulting. Sementara itu kementerian dan lembaga yang turut terlibat adalah BKPM, IIPC London, GAPKI (asosiasi kelapa sawit), Pemkab Humbang Hasundutan (kerajinan, pariwisata, kopi), Pemkab Toba Samosir (kerajinan, pariwisata), dan Pemkot Manado (kerajinan, pariwisata). (kemlu/03)
Editor: Mardan H Siregar









Komentar