Ikuti CAExpo 2017, Kemendag Perkuat Posisi Ekspor ke Tiongkok

Redaksi: Senin, 11 September 2017 | 10.32.00



NANNING| HARIAN9
Serbuan Tiongkok ke pasar global, termasuk ke Indonesia, membuat Kementerian Perdagangan terus mencari strategi memperkuat posisi ekspor Indonesia ke Tiongkok. Melalui ajang tahunan China-ASEAN Expo (CAExpo) 2017 pada 12-15 September 2017 mendatang di Nanning, Kemendag akan tampil mewakili Indonesia untuk terus melakukan penetrasi pasar di Tiongkok. 

“Kita harus gencar promosi ekspor ke Tiongkok untuk menyeimbangkan hubungan Perdagangan Indonesia dengan Tiongkok. Mengacu pada target ekspor tahun ini, strategi pengembangan Pasar ekspor produk Indonesia di Tiongkok menjadi hal yang kita perhatikan,” tegas Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Arlinda di sela kunjungan kerja ke Nanning, Republik Rakyat Tiongkok (10/9). 

Bersama dengan Atase Perdagangan RI di Beijing dan KJRI Guangzhou, Kemendag mempersiapkan Paviliun Indonesia baik Paviliun Komoditi untuk menampilkan produk unggulan Indonesia maupun Paviliun Nasional (City of Charm) untuk menampilkan potensi Trade, Tourism and Investment di CAEXPO 2017. 

Untuk Paviliun Komoditi, tahun ini Indonesia kembali menempati Hall 4 dengan lahan seluas 2.160 m2, dan diikuti sebanyak 52 perusahaan yang akan mengisi 60 booth. Produk-produk yang ditampilkan dibagi ke dalam zonasi produk antara lain food & beverages, home decoration, furniture, accessories & jewellery, dan consumer goods. 

Sedangkan untuk Paviliun Nasional (City of Charm), Indonesia tampil berkolaborasi dengan 
Indonesia Exim Bank membangun paviliun tersebut di atas lahan seluas 108m2 dan mengambil tema Nusantara. Paviliun ini akan menonjolkan beberapa destinasi wisata yang banyak diminati turis dari Tiongkok. Paviliun ini juga akan menampilkan ikon-ikon daerah dari Indonesia seperti Gazebo Jawa, Barong Bali, kain tapis dari Lampung, serta kopi Lampung. Untuk memeriahkan paviliun City of Charm akan ditampilkan pagelaran budaya berupa seni tari dan pagelaran busana persembahan dari Dekranasda Provinsi Lampung. 

“Peluang dalam CAExpo ini dapat memberikan kesempatan baik untuk memulai interaksi bisnis, memperluas pasar di Tiongkok, dan meningkatkan perdagangan ekspor Indonesia,” tandas Arlinda. 

Selain itu, menurut Arlinda dengan adanya upaya promosi ekspor ke Tiongkok, para pelaku usaha Indonesia diharapkan mampu mengembangkan pasarnya di Tiongkok secara mandiri. 

Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat bahwa pada tahun 2016, total nilai perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok mencapai USD 47,6 miliar, dengan 96% berasal dari nilai perdagangan nonmigas. Ekspor nonmigas ke RRT tercatat USD 15,11 miliar sedangkan impor nonmigas Indonesia dari Tiongkok tercatat USD 30,69 miliar. Sementara itu selama periode Januari-Juni 2017, total nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 25,84 miliar dengan nilai perdagangan nonmigas sebesar 24,8 miliar. Nilai ini meningkat 18,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 21,04 miliar. 

Peningkatan ekspor nonmigas Indonesia ke RRT juga terjadi pada semester pertama 2017 
sebesar 49,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan nilai USD 9,1 miliar. Selama Januari-Juni 2017, nilai impor nonmigas dari Tiongkok mencapai USD 15,7 miliar atau meningkat 5,43% dibanding periode Januari-Juni 2016. Produk ekspor utama Indonesia ke Tiongkok antara lain batu bara, minyak kelapa sawit dan turunannya, olahan serbuk kayu, nikel, dan karet. Pada tahun 2017, ekspor nonmigas ke RRT ditargetkan meningkat sebesar 8,67% menjadi USD 15,9 miliar. (rel/01)

Komentar