Kabid Pengendalian penduduk dan KB Jambi Buka Pelatihan SPA

Redaksi: Selasa, 26 September 2017 | 22.22.00


JAMBI| HARIAN9
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi Jambi Irzan membuka Pelatihan Sistem Perlindungan Anak (SPA), Selasa (26/9/2017), di Hotel Odua.

Menurutnya, dinamika pembangunan di bidang ekonomi yang dipercepat dengan adanya globalisasi dan kemajuan teknologi informasi ternyata menimbulkan fenomena sosial. Sistem perlindungan anak (SPA) fokus pada setiap elemen yang saling berinteraksi, dimana setiap elemen diarahkan oleh komponen sistem yaitu norma, struktur dan proses.

“Fenomena sosial yang serius dan sangat mengkhawatirkan adalah anak-anak remaja mulai menjadi sasaran pengkaderan kelompok radikal,” ujarnya 

Mengingat amanah UU dan memperhatikan fenomena sosial serta kondisi saat ini, Dinas DP3AP2 Provinsi Jambi melaksanakan sistem perlindungan anak dengan tujuan, sebagai strategi dalam penguatan SPA Indonesia, terwujudnya koordinasi dan sinkronisasi penyelenggaraan perlindungan anak di provinsi serta kabupaten/kota, percepatan penguatan sistem perlindungan anak secara integral dan holistik dalam pembangunan perlindungan anak.

“Para pemangku kepentingan, termasuk komponen masyarakat sipil, sangat perlu memahami dan mengimplementasikan SPA dalam menjalankan program secara optimal untuk mewujudkan kabupaten kota layak anak,” terangnya.

Disebutkannya, perlindungan anak berarti perlindungan dari kekerasan, pelecehan dan eksploitasi. Jadi perlindungan anak ditujukan untuk penghormatan, perlindungan dan pemajuan hak setiap anak untuk tidak menjadi korban bagi dirinya. 

"Yang menjadi tanggung jawab atas perlindungan anak, orang tua, komunitas (masyarakat) dan Negara” imbuhnya.

Dikatakannya, berdasarkan survey Kemen PPPA pada 2013 menunjukkan bahwa pada kelompok umur 18-24 tahun, menunjukkan 1 dari 2 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan setidaknya mengalami salah satu pengalaman kekerasan seksual, fisik atau emosional sebelum berumur 18 tahun. Pada kelompok umur 13-17 tahun, menunjukkan bahwa tidak lebih dari 30 persen anak laki-laki maupun perempuan yang melaporkan mengalami paling tidak salah satu jenis kekerasan atau lebih (fisik, seksual, dan emosional). 

Turut mendampingi Kabid lingkungan berkebutuhan khusus, Ramatani, Bappenas Koordinator fasilitator Yossi, Kabid PA Provinsi Jambi Linda Dewi. (Inro)

Komentar