Kemendag Gelar Business Matching untuk Kembangkan Pasar Ekspor di Filipina

Redaksi: Kamis, 07 September 2017 | 00.47.00



JAKARTA| HARIAN9 
Kementerian Perdagangan menargetkan ekspor produk nonmigas ke Filipina meningkat menjadi USD.5,84 miliar untuk tahun 2017. 

Salah satu strateginya yaitu melalui kerja sama Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) dengan Konjen RI di Davao City, Filipina lewat Business Matching Session Indonesia-Filipina, yang digelar di Kantor Kementerian Perdagangan kemarin, Selasa (5/9).

“Business Matching Session Indonesia-Filipina merupakan upaya jemput bola untuk meningkatkan hubungan dagang Indonesia dengan Filipina, khususnya Indonesia Timur dengan Filipina Selatan. Pemerintah optimistis karena ada banyak komoditas yang memiliki prospek potensial untuk meningkatkan perdagangan bilateral. Kedua negara dapat mengeksplorasi peluang bisnis potensial yang dapat memperkuat perdagangan, meningkatkan kerja sama bisnis, serta mendukung ekonomi kedua negara,” ujar Dirjen PEN, Arlinda.

Dikatakannya, produk-produk Indonesia yang diminati delegasi bisnis Filipina antara lain makanan dan bahan pangan, tepung jagung, produk pertanian, pupuk, semen, produk kelapa, dan baja. 

Dalam business matching kali ini, terjadi kesepakatan bisnis antara PT. Semen Indonesia dengan Certuro Structural Specialist Inc. Kerja sama akan mulai dijalankan pada Oktober 2017.

Business matching ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan pengusaha Mindanao, Filipina untuk mengeksplorasi peluang bisnis kedua negara lebih jauh lagi. Kegiatan ini juga menjadi tindak lanjut forum yang membahas pemanfaatan jalur laut antara Indonesia dan Filipina yang dilaksanakan di Bogor pada Agustus lalu.

Kegiatan business matching dihadiri oleh 33 pelaku usaha Indonesia dan 14 pelaku usaha Filipina. Acara turut dihadiri oleh Konjen RI di Davao City dan perwakilan Pemerintah Kota Davao City.

Filipina merupakan mitra dagang Indonesia terbesar kelima di kawasan Asia Tenggara. Total perdagangan Indonesia-Filipina untuk produk nonmigas mencapai USD.6,07 miliar pada tahun 2016, dan pada periode Januari-Mei 2017 tercatat sebesar USD.2,84 miliar. 

Produk ekspor utama Indonesia ke Filipina didominasi oleh kendaraan, makanan olahan, minyak nabati, kertas, produk karet, dan karet. Di sisi lain, komoditas ekspor Filipina ke Indonesia terutama berasal dari tembaga, polipropilena, gir untuk kendaraan bermotor, aksesoris kendaraan bermotor, dan perangkat elektronik.


Menyemarakkan Jalur Laut Bitung-Davao City

Selain sebagai upaya meningkatkan perdagangan kedua negara, kunjungan pengusaha dari Mindanao dimaksudkan untuk mendukung load factor dari kapal Ro-Ro trayek Bitung-General Santos City-Davao City.

Infrastruktur konektivitas Bitung-Davao City diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Duterte pada 30 April 2017 di Pelabuhan Kudos, Davao City, Filipina. 

Konektivitas Bitung-Davao City merupakan proyek unggulan ASEAN untuk membuka konektivitas antara negara-negara anggotanya, serta menjadi kontribusi Indonesia dan Filipina untuk membangun konektivitas antara negara-negara ASEAN sesuai dengan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Saat ini, lanjut Arlinda, konektivitas infrastruktur seperti transportasi laut berperan sangat penting dalam meningkatkan perdagangan internasional antarnegara. Kemendag berkomitmen mendorong pemanfaatan Ro-Ro Bitung-Davao City untuk mendukung peningkatan ekspor nasional ke Filipina sebagai salah satu pasar ekspor potensial di ASEAN.

“Kapal Ro-Ro Bitung-Davao City dapat menjadi alternatif rute perdagangan internasional yang baik bagi pebisnis kita dengan efisiensi waktu dan jarak yang lebih pendek untuk jalur pelayaran,” kata Arlinda.

Jika Ro-Ro Bitung-Davao City dapat berjalan dengan baik, maka multiplier effect-nya akan mempengaruhi kedua negara. 

“Dampaknya termasuk merangsang ekonomi lokal di Indonesia dan Filipina, memberikan akses yang lebih baik terhadap rantai nilai global, menstimulasi pengembangan infrastruktur daerah, meningkatkan sektor pariwisata, dan meningkatkan arus investasi,” pungkasnya. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar




Komentar