Kemendag Gelar Lokakarya Percepat Proses Ratifikasi Perjanjian Perdagangan OKI

Redaksi: Kamis, 14 September 2017 | 02.34.00



JAKARTA| HARIAN9
Kementerian Perdagangan mengadakan lokakarya membahas perjanjian preferensi perdagangan antara negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam.

Lokakarya digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada Rabu-Kamis, 13-14 September 2017. Lokakarya bertajuk Trade Preferential System among the Member States of the Organization of Islamic Cooperation (TPS-OIC). 

Lokakarya digelar bekerja sama dengan Islamic Centre for Development of Trade (ICDT) dan COMCEC Coordination Office (CCO).

“Lokakarya ini sejalan dengan mandat Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan di Istana Negara beberapa waktu lalu, yaitu untuk menyasar Afrika dan Timur Tengah sebagai pasar potensial. Kemendag akan mempercepat sinergi antarkementerian dan lembaga agar prefererensi perdagangan antaranggota OKI ini dapat segera berjalan,” kata Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional, Dody Edward, saat membuka lokakarya.

Lokakarya dihadiri puluhan peserta yang terdiri atas para stakeholders sistem preferensi perdagangan OKI dan perwakilan kedutaan besar negara anggota OKI di Indonesia. 

Lokakarya ini menjadi forum untuk berbagi pengetahuan antara pemangku kepentingan di Indonesia dan para tenaga ahli dari ICDT. Dalam lokakarya, dibahas tata cara implementasi TPS-OIC dan peluang peningkatan kerja sama Indonesia di OKI.

ICDT akan menjadi fasilitator bagi peserta lokakarya untuk mengetahui lebih dalam praktik implementasi TPS-OIC di negara OKI, dan bagaimana Indonesia dapat melakukan penyesuaian terhadap ketentuan perdagangan dalam kerangka TPS-OIC.

Diharapkannya, lokakarya tersebut menghasilan rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan oleh Indonesia, sehingga mampu mendorong percepatan proses ratifikasi sistem preferensi perdagangan antara negara anggota OKI. 

Lokakarya ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk menjelaskan kepentingan Indonesia kepada ICDT dan CCO mengenai proses ratifikasi. 

Melalui lokakarya ini, Indonesia, ICDT, dan CCO diharapkan dapat mencari solusi agar perjanjian sistem preferensi perdagangan dengan OKI ini nantinya sejalan dengan kepentingan Indonesia.

Kerja sama perdagangan antara Indonesia dan OKI masih terus berkembang. Melalui implementasi sistem perdagangan preferensial antara negara anggota OKI, Indonesia akan memperoleh akses pasar yang sangat luas ke lebih dari 1,6 miliar populasi yang ada di seluruh wilayah negara anggota OKI, dan merupakan pasar nontradisional Indonesia. 

Implementasi sistem perdagangan preferensial ini juga memberikan peluang Indonesia untuk mendapat fasilitas pengurangan
hambatan perdagangan, sehubungan dengan tarif impor tinggi di negara Timur Tengah dan Afrika.

“Sebagai eksportir terbesar ke-4 di OKI, Indonesia perlu berpartisipasi aktif dalam perjanjian perdagangan TPS-OIC. Perjanjian TPS-OIC kiranya perlu dipertimbangkan untuk diratifikasi, karena kita berdaya saing dan perlu meningkatkan pendapatan dari ekspor. Jangan sampai Indonesia tersaingi oleh negara lain seperti Malaysia, Turki atau Arab Saudi. Sebelum daripada itu, Kemendag akan berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya agar isi perjanjian TPS-OIC dapat diketahui oleh semua pemangku kepentingan,” ungkap Direktur Perundingan Perdagangan APEC dan Organisasi Internasional Deny Wachyudi Kurnia pada kesempatan terpisah.

“Kami harap lokakarya ini dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk diterapkan negara anggota OKI, khususnya Indonesia, untuk bergerak semakin dekat ke arah integrasi perdagangan,” kata Deny menambahkan.

OKI beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim di kawasan Asia dan Afrika. Untuk meningkatkan kerja sama perdagangan, negara-negara anggota OKI sepakat melakukan pertukaran preferensi perdagangan, yang disebut Trade Preferential System Among the Member States of the Organization of the Islamic Conference (TPS-OIC).

Sekilas Hubungan Dagang Indonesia-OKI

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemendag, neraca perdagangan Indonesia ke negara anggota OKI mengalami surplus pada tahun 2016 sebesar USD.914 juta, atau meningkat 76 persen sejak tahun 2012.

Sepuluh komoditas andalan Indonesia ke negara OKI yaitu lemak nabati atau hewani, bahan bakar mineral, kendaraan bermotor; produk kertas; fibre; peralatan elektronik; kayu; tekstil dan produk tekstil, mesin, dan karet. Sementara negara tujuan ekspor Indonesia yang utama adalah Malaysia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar


Komentar