Kemitraan Industri Olahan Susu Pacu Suplai Bahan Baku 41 Persen di 2021

Redaksi: Jumat, 22 September 2017 | 12.01.00

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto pada Peresmian Peternakan Sapi Perah Terintegrasi PT Raffles Pacific Harvest di Garut, Jawa Barat, Rabu (20/9). (Foto: kemenperin)


JAWA BARAT| HARIAN9
Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto pada Peresmian Peternakan Sapi Perah Terintegrasi PT Raffles Pacific Harvest di Garut, Jawa Barat, Rabu (20/9) menyampaikan Pemerintah telah mencanangkan program kemitraan antara industri pengolahan susu dengan para peternak sapi perah secara terintegrasi. 

Pengembangan program tersebut bertujuan untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan baku dalam mendukung proses produksi.

“Melalui implementasi langkah strategis ini, suplai bahan baku susu segar ditargetkan meningkat dari 23 persen pada tahun 2016 menjadi 41 persen tahun 2021 dan diharapkan kualitasnya semakin baik,” katanya. 

Untuk mencapai sasaran itu, Kemenperin aktif melakukan koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Koperasi dan UKM. 

“Kami memberikan apresiasi kepada ABC Holdings dan Mitsui & Co (PT Raffles Pacific Harvest dan  PT ABC Kogen Dairy) yang telah melahirkan peternakan sapi perah modern yang terintegrasi dengan industri susu,” ujar Panggah.

Menurutnya, upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia melalui berbagai macam produk susu olahan yang dihasilkannya. 

Selain itu, berdirinya peternakan terintegrasi industri pengolahan susu ini dapat memicu efek yang luasguna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan menyerap tenaga kerja, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Kabupaten Garut.

Kemenperin mencatat, dari segi off-farm, saat ini terdapat lebih dari 60 industri pengolahan susu yang beroperasi di Indonesia. 
Namun pasokan bahan baku susu segar dari para peternak sapi perah lokal hanya mampu mencukupi 852 ribu ton per tahun atau sekitar 23 persen, sedangkan kebutuhan bahan baku susu segar untuk industri pengolahan susu dalam negeri sebesar 3,7 juta ton pada tahun 2016.

“Karena bahan bakunya belum bisa dipasok dari domestik, sisanya masih diimpor sebesar 2,8 juta ton per tahun atau 77 persen dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa,” paparnya.

Lebih lanjut, guna memacu usaha peternakan sapi perah untuk meningkatkan produksi susu segar, yang perlu diperhatikan adalah meningkatkan konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia, yang saat ini rata-rata sekitar 12,10 kg/kapita/tahun setara susu segar.

Tingkat konsumsi tersebut masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang mencapai 36,2 kg/kapita/tahun, Myanmar 26,7 kg/kapita/tahun, Thailand 22,2 kg/kapita/tahun, dan Philipina 17,8 kg/kapita/tahun.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto telah menyarakan, satu industri pengolahan susu dapat membina minimal tiga sampai lima peternak sapi perah lokal. 

“Kami juga mengimbau kepada pelaku industri agar terus berkomitmen mengembangkan susu segar dalam negeri dengan pendekatan asistensi untuk peningkatan produktivitas, perbaikan kualitas, dan budidaya ternak yang lebih baik,” tuturnya.

Kemenperin pun mendorong industri pengolahan susu di dalam negeri untuk menjalankan komitmen investasinya sehingga akan berkontribusi dalam menumbuhkan sektor manufaktur dan perekonomian nasional. 

“Mengenai kebijakan penetapan harga susu, idealnya untuk pertenak sekitar Rp.5.500-6.000 per liter, sehingga apabila peternak memiliki 10 sapi bisa dapat penghasilan sebesar Rp.2 juta per bulan,” tegas Airlangga. (kemenperin/03)
Editor: Mardan H Siregar 





Komentar