MAGMA dan Resistensi Indonesia Dalam Ring of Fire

Redaksi: Sabtu, 16 September 2017 | 11.39.00

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Ir. Kasbani, M.Sc saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara Sosialisasi MAGMA di Auditorium Badan Geologi, Bandung, Kamis (14/9). (Foto: esdm)


BANDUNG| HARIAN9
Sejarah mencatat Indonesia merupakan negara yang akrab dengan bencana alam, baik itu gempa bumi, letusan gunung api, gerakan tanah, hingga tsunami. 

Masih jelas dalam ingatan bencana alam tsunami yang terjadi di Aceh, Desember 2004 silam, yang disebabkan oleh gempa tektonik Samudera Hindia, sedikitnya memakan korban 250.000 jiwa dan ribuan orang lainnya harus kehilangan tempat tinggal.

Mundur jauh ke belakang, tepatnya di bulan Agustus 1883, Gunung Karakatu di Selat Sunda meletus. Berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya. L

etusan ini adalah salah satu letusan gunung api terbesar, paling mematikan dan merusak dalam sejarah. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di hingga ke Eropa dan Amerika.

Dalam satu dekade terakhir juga tercatat beberapa kali terjadi gempa bumi dan letusan gunung api di Indonesia. Gempa bumi 5,9 skala richter (SR) di Yogyakarta tahun 2006, menyusul kemudian gempa 7,7 SR di Kep. Mentawai tahun 2007, gempa 7,6 SR di Padang tahun 2009, dan puluhan gempa lainnya yang terjadi di berbagai daerah.

Sementara itu bencana letusan gunung api yang cukup besar terjadi tahun 2010 yaitu meletusnya Gn. Merapi. Tahun 2014 dibuka dengan semburan lava dan abu vulkanik Gn. Sinabung, disusul kemudian oleh aktivitas erupsi Gn. Kelud, Gn. Sangeang Api, Gn. Slamet, Gn. Lokon dan Gn. Gamalama di tahun yang sama. Hingga kini status Gn. Sinabung masih tercatat di level awas dan aktif menyemburkan awan panas.

Akrabnya Indonesia dengan bencana alam berupa gempa bumi dan letusan gunung api disebabkan letak geografis Indonesia yang berada di antara tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. 

Kondisi tersebut yang menyebabkan Indonesia masuk pada jalur Pacific Ring of Fire atau cincin api Pasifik yang merupakan jalur pegunungan aktif. Tidak heran jika Indonesia sering mengalami bencana alam berupa gempa bumi baik tektonik maupun vulkanik.

"Tinggal di Indonesia kita selalu berdampingan dengan potensi bencana, khususnya bencana geologi. Karena kita tinggal di lingkungan yang sangat unik, di pertemuan lempeng dunia. Sehingga kita harus meningkatkan kewaspadaan dengan mitigasi bencana yang lebih baik," jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani, di Bandung, Kamis (14/9).

Hadirnya aplikasi buatan anak negeri, Multiplatform Aplication for Geohazard Mitigation and Assesment (MAGMA) menjadi solusi untuk meningkatkan kemampuan mitigasi bencana geologi di Indonesia. Melalui MAGMA, masyarakat mendapatkan informasi terkait kebencanaan geologi secara real time. 

Sumber informasi dan status kebencanaan yang berada di aplikasi ini didapat langsung dari tim pengamat di lapangan yang telah melalui proses verifikasi sehingga informasi yang disajikan valid dan faktual.

Informasi yang disajikan dalam MAGMA dapat menjadi referensi awal terkait ancaman potensi bencana. Sehingga peran MAGMA menjadi penting sebagai sentra informasi kebencanaan geologi dan dapat membantu meminimalisir risiko bencana di masyarakat. 

"Melalui MAGMA saat ada potensi bencana bisa disampaikan secara cepat sehingga masyarakat dapat lebih waspada," pungkas Kasbani.

Selain dapat mengirim notifikasi terjadinya bencana, MAGMA juga dapat menampilkan beragam data teknis bencana geologi yang terjadi. Termasuk status gunung api di Indonesia, hingga mengunduh peta kawasan rawan bencananya, serta rekomendasi yang diterbitkan PVMBG untuk masing-masing gunung api. (esdm/03)
Editor: Mardan H Siregar 

                                                                                                



Komentar