OKI Harus Kuat Hadapi Tantangan Dunia Islam dan Internasional

Redaksi: Minggu, 24 September 2017 | 11.50.00

Menlu RI, Retno L.P. Marsudi pada Annual Coordination Meeting of Ministers of Foreign Affairs of the OIC Member States (ACM-OIC) di New York (22/9). (Foto: kemlu)



NEW YORK| HARIAN9
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno L.P. Marsudi pada Annual Coordination Meeting of Ministers of Foreign Affairs of the OIC Member States (ACM-OIC) di New York (22/9).

“OKI harus memperkuat kesatuan dan menghindari konflik terbuka diantara sesama anggota, karena hanya akan menjauhkan OKI dari upaya mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil Alamiin,” tegasnya.

Pada pertemuan yang diselenggarakan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-72 (SMU PBB 72) ini, Retno kemudian mengajak seluruh negara anggota OKI terus menciptakan jalan keluar bagi permasalahan bersama yang dihadapi dunia Islam.

Ditekankannya, pentingnya negara-negara OKI untuk turut berkontribusi dalam pencapaian tujuan pembangunan global, terutama yang termuat dalam 2030 Agenda for Sustainable Development.

Sesuai dengan tema SMU PBB 72 tahun ini yang terfokus pada 3 aspek, yaitu perdamaian, kemakmuran, dan keberlanjutan, maka OKI perlu untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang khususnya pencapaian 2030 Agenda for Sustainable Development.

Terkait isu Palestina, Retno mendorong OKI untuk memperkuat dukungan bagi pencapaian perdamaian di Palestina. 

“OKI ada karena dan untuk Palestina, maka kita harus dan akan selalu berdiri di samping rakyat Palestina dalam perjuangan mereka untuk memiliki negara yang merdeka dan berdaulat,” tegasnya lagi.

Retno juga memberikan apresiasi  terhadap kinerja United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) atas kontribusinya terhadap perjuangan rakyat Palestina. 

Ditegaskan perlunya kerja sama yang lebih erat antara UNRWA dan OKI, termasuk dalam pendirian dana bantuan untuk pengungsi Palestina.

Secara khusus mengenai krisis kemanusiaan di Rakhine State, Retno menegaskan krisis tersebut harus segera selesai. Ditekankan, akar masalah dari krisis ini harus diselesaikan dan mencegah menjadi lebih parah.

"Indonesia telah  berkomunikasi dengan Myanmar dan Bangladesh untuk membantu menyelesaikan krisi kemanusiaan, dan bantuan kemanusiaan Indonesia juga sudah tiba di Bangladesh dan Myanmar," tutup Retno. (kemlu/03)
Editor: Mardan H Siregar








Komentar