Sidang Menteri 3 Negara Produsen Karet Alam: Suplai Terkendali, Permintaan Meningkat

Redaksi: Selasa, 19 September 2017 | 20.42.00

Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita bersama Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand, Jenderal Chatchai Sarikulya serta Menteri Perusahaan, Perladangan dan Komoditas Malaysia, Datuk Seri Mah Siew Keong melakukan Pertemuan Dewan Menteri ITRC di Bangkok, Thailand, Jumat (15/9). (Foto: kemendag)

JAKARTA| HARIAN9 
Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita menegaskan Indonesia, Thailand, dan Malaysiasepakat memperjuangkan harga karet yang stabil dan kompetitif dengan mengelola suplai dan meningkatkan permintaan domestik. 

Kesepakatan ini dicapai pada Pertemuan Dewan Menteri International Tripartite Rubber Council (ITRC), Jumat lalu (15/9) di Bangkok, Thailand.

Pertemuan dipimpin Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand Jenderal Chatchai Sarikulya dan juga dihadiri Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong.

Sampai akhir tahun diperkirakan pasar akan seimbang karena adanya penurunan produksi dan meningkatnya permintaan. Dengan pengelolaan yang teratur, diyakini keseimbangan dapat tercapai dan membawa pengaruh baik terhadap harga karet.

"Sebagai negara produsen, ketiga negara menyadari pentingnya menjaga stabilitas harga karet sebagai kebijakan jangka panjang. Suplai dan permintaan harus mendapat porsi penanganan yang sama agar seimbang. Pengendalian luas area tetap dilanjutkan agar produksi terjaga dengan tetap memperhatikan kebutuhan negara konsumen maupun dalam negeri. Di lain pihak, kami gencarkan permintaan domestik agar tumbuh sampai 10 persen tiap tahun," jelas Enggar.

Ketiga Menteri mendukung peningkatan kolaborasi di bidang penelitian dan pengembangan teknologi untuk mendorong penggunaan karet alam sebagai bahan baku di sektor transportasi, infrastruktur, olahraga, alat pertahanan, kesehatan dan barang konsumsi.

"Pemerintah menaruh perhatian besar pada sektor infrastruktur yang memanfaatkan karet alam sebagai bahan baku, seperti campuran aspal jalan. Tidak hanya itu, penggunaan karet alam juga akan terus ditingkatkan di sektor lainnya," tegasnya. 

Kerja sama ITRC juga semakin kuat dengan bergabungnya Vietnam menjadi mitra strategis. Dengan bergabungnya Vietnam, maka pangsa pasar produksi keempat negara menjadi 71 persen dan pangsa pasar ekspor 84 persen. 

“Ke depannya, kami mengundang Vietnam untuk menjadi anggota penuh ITRC,” imbuhnya.

Dialog dengan Kalangan Industri

Ketiga negara juga menginisiasi dialog dengan kalangan industri. 

"Mulai tahun depan, kami akan menyelenggarakan forum guna menggalang masukan dari sektor industri," kata Enggar.

Menurutnya, dukungan industri diperlukan agar tercipta inovasi-inovasi produk turunan karet alam. Enam sektor yaitu transportasi, infrastruktur, olahraga, alat pertahanan, kesehatan, dan barang konsumsi didorong untuk dieksplor oleh Pemerintah juga swasta. 

Sektor-sektor ini berpotensi digali melalui kerja sama dan kolaborasi antara tenaga ahli dan pertukaran teknologi. Industri juga berperan dalam memberikan kesempatan bagi para petani agar menerima pendapatan yang layak.

Berbagai upaya terus dilakukan ketiga negara untuk memperbaiki harga karet. Bulan September tahun lalu, ITRC telah meluncurkan Pasar Karet Regional. Pasar Karet Regional akan memperdagangkan dan meluncurkan kontrak berjangka untuk komoditas karet kering dan lateks. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 



Komentar