Belanja Online Sekarang Sudah Jadi Kebutuhan

Redaksi: Senin, 30 Oktober 2017 | 09.43.00

Menkeu Sri Mulyani Indrawati pada Seminar Utama Hari Oeang dengan tema "2030 : Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Aula Dhanapala kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta pada Kamis (26/10).  (Foto: kemenkeu)

JAKARTA| HARIAN9 
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, meyakini digital ekonomi akan berkembang pesat. Pasalnya belanja dengan skema online bukan lagi merupakan gaya hidup semata, melainkan kebutuhan bagi masyarakat.

"Shopping melalui online menjadi sesuatu tidak hanya lifestyle tadi menjadi kebutuhan dan menyelesaikan masalah dari sisi keterbatasan waktu, fasilitas dan yang lain-lain," ungkapnya pada Seminar Utama Hari Oeang dengan tema "2030 : Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Aula Dhanapala kantor pusat Kementerian Keuangan Jakarta pada Kamis (26/10).

Dalam catatan Sri Mulyani, sebanyak 20 juta orang pada 2014 terlibat dalam transaksi online. Di 2015, sudah lebih dari 70 juta orang. Meskipun masih kecil dibandingkan jumlah penduduk, namun pertumbuhannya sangat tinggi.

"Kita lihat dari pergerakan ekonomi Indonesia jumlah orang yang melakukan transaksi online meningkatnya luar biasa besar," ujarnya.

Lebih lanjut, ia  memberi contoh Gojek. Menurutnya, secara tidak sadar masyarakat sekarang sangat bergantung dengan aplikasi tersebut. Mulai dalam pemenuhan kebutuhan transportasi, pesan makanan dan minuman, pembelian pulsa dan tiket, hingga pijat.

"Saya bukan mau promosikan Gojeknya Nadiem (CEO Gojek), dalam hal ini tapi saya yakin kalau anda pulang ke rumah aku kepingin martabak, Anda tidak suruh sopir Anda yang kecapekan karena macet. Pasti langsung manggilnya melalui itu, bahkan kalau mau manggil tukang pijat," paparnya.

Penggunaan aplikasi dan jumlah ponsel juga bisa menjadi gambaran, individu tersebut masuk dalam generasi masa lalu atau generasi sekarang yang disebut millenial.

"Kita lihat apakah Anda gaptek atau tidak bukan dilihat dari jumlah telepon yang dimiliki namun dari aplikasi apa saja yang Anda punya di dalam ponsel itu," ungkapnya. (kemenkeu/03) 
Editor: Mardan H Siregar




Komentar