Menkeu: Di Era Teknologi Soft Skill Harus Ditingkatkan

Redaksi: Selasa, 31 Oktober 2017 | 07.52.00

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjadi salah satu panelis pada Diskusi Panel Indonesia Outlook 2018 National dan Internasional Perspective di Hotel Gumaya Semarang, Sabtu (28/10). (Foto: kemenkeu)

SEMARANG| HARIAN9
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pentingnya peningkatan soft skill dalam menghadapi perubahan zaman di Seminar Indonesia Outlook 2018 National dan Internasional Perspective.

Perubahan terjadi dengan sangat cepat, utamanya teknologi. Tema ini menjadi topik penting di kalangan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral di dunia. 

"Presiden Jokowi selalu mengatakan human capital investment itu penting. Skill yang sulit dikuasai robot adalah soft skill. Orang yang bisa interact, bisa care, dan bisa berdiplomasi. Berdasarkan studi World Bank, banyak anak sekolah tapi tidak belajar apa-apa sehingga saat mereka lulus, mereka tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan produktivitas. Di sinilah pentingnya kualitas pendidikan dan ketepatan ilmu yang diberikan," papar Menkeu di hotel Gumaya, Semarang, Sabtu (28/10).

Ditambahkannya, bahwa teknologi membawa perubahan yang begitu besar sehingga industri bermunculan namun tanpa membawa penciptaan lapangan kerja. 

Menurutnya, inilah kegelisahan di dunia saat ini yaitu pertumbuhan yang tidak dirasakan oleh semua pihak. Oleh karena itu, ia ingin setiap pertumbuhan 1% dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang akan mengurangi kemiskinan.

"Oleh karena itu, fokus kita tidak hanya level of growth tetapi quality of growth. Bagaimana setiap 1 persen growth akan create jobs lebih banyak, akan mengurangi kemiskinan lebih banyak," jelasnya.

Lebih jauh, disampaaikannya. prediksi pertumbuhan dunia akan meningkat tahun depan. Iklim investasi dunia juga tumbuh dengan baik. Untuk itu, pemerintah juga harus terus menjaga momentum pertumbuhan yang terjadi di Indonesia.

"Pemerintah fokus membangun infrastruktur karena tidak semua pelaku usaha mendapatkan fasilitas yang mampu menghubungkan produk ke pasar," katanya.

Selain itu, setiap instrumen dan pembuat kebijakan harus bekerja sama dalam tiga hal yaitu APBN dengan instrumen fiskalnya bekerja sama dengan instrumen moneter dari Bank Indonesia. 

Sektor perbankan dan lembaga keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta sektor riil dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian). Hal ini penting dilakukan agar pertumbuhan bisa tercipta dengan lebih merata dan inklusif. (kemenkeu/03)
Editor: Mardan H Siregar




Komentar