Menkeu Ingin Banyak Nadiem Baru Bermunculan di Indonesia

Redaksi: Senin, 30 Oktober 2017 | 09.20.00

Menkeu Sri Mulyani memberikan keynotespeech pada acara Seminar Nasional dalam rangkaian Peringatan Hari Oeang ke-71 di gedung Dhanapala, Jakarta (26/10). (Foto: kemenkeu)

JAKARTA| HARIAN9 
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati,  Sosok Chief Executive Officer (CEO) Gojek Nadiem Makarim begitu fenomenal beberapa tahun belakangan ini. Menurutnya, anak-anak muda Indonesia harus difasilitasi oleh pemerintah agar bisa menjadi Nadiem-Nadiem baru.

"Jadi Republik ini harus membuat the necessary condition. Apa yang diperlukan sehingga hak anak-anak Indonesia bisa menjadi Nadiem-Nadiem baru," ungkapnya, Kamis (26/10) pada Seminar Utama Hari Oeang dengan tema "2030 : Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Aula Dhanapala kantor pusat Kementerian Keuangan Jakarta. 

Dinyatakannya, ada tiga hal yang harus diperhatikan dengan serius dalam persoalan ini. Pertama, pemerintah harus menciptakan keadilan daya beli agar semua masyarakat, khususnya anak muda agar bisa memanfaatkan tekonologi.

"Kenapa adil ini menjadi penting? Karena kalau kita lihat di dalam konteks Indonesia, orang yang bisa pertama menikmati aplikasi, itu adalah orang pertama punya daya beli untuk membeli mobile smartphone, berarti kesenjangan ekonomi akan menghilangkan mereka yang tidak memiliki daya beli untuk bisa menikmati itu," paparnya.

Kedua, teknologi tidak bisa dinikmati semua anak muda karena sekarang masih ada daerah yang belum teraliri listrik dan mendapatkan akses internet dengan cepat.

"Kalau mereka berada di daerah yang tidak ada fasilitas listrik masuk maka mereka tidak bisa menjadi generasi muda yang memiliki tiga karakter tersebut (connected, confident dan creative)," jelasnya.

Ketiga, individu yang ingin ada peningkatan. Dari yang tadinya hanya menggunakan menjadi ikut menciptakan seperti yang sudah dilakukan oleh tokoh-tokoh sekarang. Tapi pendidikan maupun kualitas individu tersebut tidak mempuni.

"Mereka harusnya tidak hanya menjadi user. Makin lama, dengan menggunakan ide mereka, mereka menjadi creater. Ide kemudian menciptakan. Tapi ini hanya muncul dari orang-orang yang memiliki capacity intelektual dan kreativitas," sebutnya.

Sri Mulyani ternyata telah mengenal Nadiem cukup lama, bahkan sebelum mendirikan Gojek. Ia menceritakan Nadiem, lulusan Universitas Harvard berhasil menciptakan produk yang akhirnya bisa membantu orang banyak. 

Harus disadari tak semua anak bisa menyerupai kesuksesan Nadiem bila tiga persoalan connected, confident dan creative tidak bisa tertangani.

Di sinilah menurut Sri Mulyani peran pemerintah dibutuhkan, terutama dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar bisa menutupi persoalan daya beli, kekurangan infrastruktur seperti listrik hingga pendidikan.

"Oleh karena itu fokus dari pemerintah APBN adalah memberikan kesempatan dalam hal investasi sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan pengentasan kemiskinan adalah sesuatu yang harus dilakukan," ujarnya. 

Disangkalnya, anggapan pemberian dana untuk investasi SDM adalah tindakan populis dari Presiden Jokowi agar terpilih kembali pada Pemilu berikutnya.

"Bukan karena ini menjelang Pemilu, lalu muncul kebijakan populis. Tidak. Tetapi lebih karena ini adalah hak rakyat Indonesia sesuai dengan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia," kata Sri Mulyani. (kemenkeu/03) 
Editor: Mardan H Siregar




Komentar