Transformasi Ekonomi Indonesia Dari Konvensional Menjadi Digital

Redaksi: Senin, 30 Oktober 2017 | 10.02.00

Ketua Indonesia e-Commerce Association (idEA) bidang Ekonomi Bisnis, Ignasius Untung dalam Seminar Utama Hari Oeang dengan tema "2030: Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Aula Dhanapala kantor pusat Kementerian Keuangan Jakarta pada Kamis (26/10). (Foto: kemenkeu)

JAKARTA| HARIAN9 
Ketua Indonesia e-Commerce Association (idEA) bidang Ekonomi Bisnis, Ignasius Untung menyampaikan Indonesia tengah berada dalam situasi transformasi, dari konvensional menjadi digital ekonomi atau e-commerce. 

Secara jelas, terlihat konsumen sudah mulai beralih kepada transaksi online, sehingga membuat banyak ritel konvensional memutuskan untuk tutup.

Hal itu disampaikannya dalam Seminar Utama Hari Oeang dengan tema "2030: Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Aula Dhanapala kantor pusat Kementerian Keuangan Jakarta pada Kamis (26/10).

Menurutnya, fenomena ini dikarenakan adanya perubahan pola hidup masyarakat seiring dengan berkembangnya teknologi. Dengan teknologi, para pelaku usaha e-commerce mulai menjamur di Indonesia.

"Memang digital ini satu kekuatan yang tidak terabaikan," katanya.

Tidak hanya pada pusat perbelanjaan, Untung mengungkapkan, hampir seluruh sektor sudah mulai menyediakan platform digital ekonominya. Seperti transportasi hingga pembelian tiket.

"Transportasi juga seperti Bluebird, Express sudah kewalahan hadapi Uber dan Gojek," jelasnya.

Dari 262 juta penduduk Indonesia, 132,7 juta pengguna atau 51 persen masyarakatnya pengguna internet, sekitar 106,0 juta pengguna media sosial, dan pengguna aktif telepon genggam sebanyak 92,0 juta atau sekitar 35 persen.

Untuk aktivitas e-commerce, 48 persen penduduk Indonesia mencari informasi produk online, 46 persen mengunjungi toko online, 41 persen membeli produk online, mengenai aksesnya 34 persen membeli melalui komputer, sedangkan melalui telepon genggam atau smartphone sebesar 33 persen.

Jika secara keseluruhan, transaksi e-commerce di Indonesia itu pembelinya sebanyak 24,74 juta atau 9 persen dari total populasi maka total nilai transaksi tercapai USD.5,6 miliar, jumlah yang yang cukup besar untuk sebuah industri baru.

"Jadi angka transaksi e-commerce lumayan besar meskipun baru 2 persen, tapi sudah buat panik, bagaimana 60 persen?," ungkap Untung. (kemenkeu/03) 
Editor: Mardan H Siregar




Komentar