Williem Iskandar Layak Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional

Redaksi: Selasa, 03 Oktober 2017 | 11.38.00

H Khoiruddin Nasution, SE. (Foto: Riswandy)


PADANGSIDIMPUAN| HARIAN9
Sati Nasution atau lebih dikenal dengan Willem Iskandar yang merupakan pelopor pendidikan yang berasal dari Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) dan lahir pada tahun 1840 sudah selayaknya mendapatkan anugerah pahlawan Nasional dari Pemerintah Republik Indonesia dalam bidang pendidikan. 

"Willem Iskandar atau Sati Nasution sudah layak mendapatkan anugerah sebagai pahlawan nasional dari negara,“ ujar H Khoiruddin Nasution, SE, yang merupakan tokoh pemuda Tabagsel serta Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumatera Utara, Senin, (2/10).

Khoiruddin yang cukup bersemangat mencerikan sejarah Willem Iskandar tersebut, mengatakan,  pada tahun 1862 Willem pernah mendirikan sekolah guru (Kweek school) di Tano Bato dan itu ada di Kota Padangsidimpuan.

Bahkan jauh sebelum Ki Hajar Dewantara, yang secara swadaya dengan gedung sekolah yang sangat sederhana, Tano Bato merupakan Gudang Kopi pemerintah Hindia Belanda dan Willem melakukan terobosan gerakan pencerahan (Aufklarung) melalui pendidikan di Mandailing-Angkola, khususnya di Mandailing Orientasi, Cakrawala, Penalaran, Idealisme dan Semangat pembaharuan di Mandailing.

“Willem Iskandar, yang lahir di Pidoli Lombang pada bulan Maret 1840, pada masa beliau pendidikan modern sudah ada, tapi pastinya harus ada pencari fakta sejarah tentang hal itu, jika perlu Dinas Pendidikan, Pemkot Padangsidimpuan juga harus terlibat,“ ujar Khoir. 

Khoiruddin Nasution yang juga menjabat sebagai Ketua Partai Demokrat Kota Padangsidimpuan, mengutarakan ucapnya dalam karangan buka yang dibacanya dengan pengarang Basyral Hamidy Harahap, yang dalam cerita buku karangan tersebut, Willem Iskandar pernah tersadarkan bahwa kemampuan berbahasa Melayu dan bahasa Belanda adalah kunci gerbang ilmu pengetahuan ketika itu.

“Bahasa Mandailing diajarkan sesuai kaidah-kaidah bahasa, sedangkan bahasa Belanda diajarkannya empat kali seminggu. Kemampuan berbahasa itulah yang mengantarkan para muridnya menjadi pengarang, penerjemah dan penyadur. Willem Iskandar pun bekerja keras meningkatkan wibawa sekolah sebagai pusat kemajuan,“ katanya.

Diceritakannya, pernah kalah itu terjadi pertemuan Willem Iskandar selama tiga hari dengan Inspektur Pendidikan Bumiputera, Mr. J.A. van der Chijs di Tano Bato yang telah membuahkan banyak hasil. Gagasan Willem Iskander agar pemerintah memberikan bea siswa kepada guru-guru muda untuk belajar di negeri Belanda menjadi pemikiran pemerintah pusat. 

Kemudian ada gagasan pembaharuan pendidikan guru Bumi Putera yang disampaikan oleh Willem Iskander kepada Van der Chijs di Tanobato pada tahun 1866 dan pembahasan suratnya di Tweede Kamer, November 1869 telah membuahkan hasil. 

Van der Chjis membuat rencana jangka panjang dan jangka pendek peningkatan mutu pendidikan guru Bumi Putera  dan satu hal yang penting, adalah pemberitahuannya kepada Willem Iskandar 1869, bahwa ia ditugaskan membawa dan membimbing delapan guru muda untuk meneruskan pendidikan di negeri Belanda. Delapan guru muda itu masing-masing dua orang dari Manado, Mandailing, Sunda dan Jawa. 

Sementara itu, pada tahun 1871, Van der Chijs mendekritkan pembaruan sekolah guru Bumi Putera. Ia membuat sejumlah syarat yang harus dipenuhi setiap sekolah guru Bumi Putera dan dekrit itu berkaitan dengan gagasan-gagasan Willem Iskandar.

Ada tiga syarat penting seperti, sekolah guru harus menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Guru sekolah guru harus mampu menulis buku pelajaran dan bahasa daerah harus dikembangkan sesuai kaidah-kaidah bahasa.

“Jadi jelas sudah saatnya pemerintah melakukan penyelusuran sejarah terkait Willem Iskandar atau Sati Nasution, yang merupakan putra asli Tabagsel tepatnya di Mandailing Natal, untuk diberikan anugerah sebagai Pahlawan Nasional dari Negara, mengingat pada masa itu beliau sudah menanamkan dan pengembangan mutu pendidikan masa itu, yang menjadi refrensi pendidikan kita saat ini,“ ucap H Khoiruddin Nasution, SE, MSP yang tidak lama lagi menyelesaikan pendidikannya untuk S3 nya dengan gelar Doktor. (Wan9)
Editor: Mardan H Siregar




Komentar