Bangkitkan Nasionalisme Untuk Pilih Berobat di RS Tanah Air

Redaksi: Sabtu, 11 November 2017 | 08.00.00


dr Wijaya Juarna
MEDAN| HARIAN9
Alasan masyarakat Sumatera Utara khususnya kota Medan untuk berobat ke luar negeri lebih banyak subjektif. Misalnya kalau di luar negeri pelayanan dilakukan mulai dari bandara, sudah ditawari dan diarahkan langsung berangkat ke RS yang dituju, dan alasan subjektif lainnya. Hal ini dikatakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Medan dr Wijaya Juwarna, Jumat (10/11/2017) kepada wartawan di Medan.

Dikatakannya, Ketika pasien sampai di RS langsung dilakukan berbagai jenis pemeriksaan. Selanjutnya disampaikan hasil diagnosa penyakit dan tindak lanjut perawatan ataupun keharusan operasi.

" Sering terjadi masyarakat kita kembali berobat ke Indonesia karena sudah banyak tidak sanggup lagi membiayai pengobatan di luar negeri. Akhirnya memakai BPJS Kesehatan di Indonesia dengan iuran yang murah," ucapnya.

Diungkapkannya, umumnya sering dilakukan pasien penyakit kronis dan kanker,  masyarakat lebih memilih berobat ke luar negeri. Masyarakat harus mengetahui bahwa pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis suatu penyakit tetap dilakukan sesuai indikasinya. 

"Artinya tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan karena sudah pasti berakibat terhadap biaya yang dikeluarkan. Barulah setelah menipis barulah berobat di rumah sakit tanah air dengan bpjs"katanya.

Disebutkannya, padahal sudah haknya semua pasien untuk memperoleh kenyamanan selama berobat. Kenyamanan tidak hanya menunjang kesembuhan tetapi juga menimbulkan kepuasan. Sehingga akan kembali berobat atau sekedar medical checkup di tempat yang sama. 

Disebutkannya, maka sangat penting membangkitkan nasionalisme di seluruh warga di tanah air untuk memilih berobat di RS tanah Masyarakat tidak perlu khawatir karena dokter di Indonesia bekerja sesuai kompetensinya

"Kompetensi yang dimaksud sesuai dengan standar kompetensi dunia baik di tingkat dokter umum maupun spesialis. Alasan lain disebutkan adalah pelayanan publik dan ramah tamah," katanya.  

Pihaknya yakin dan percaya bahwa manajemen RS khususnya di kota Medan  juga telah melaksanakan kompetensi. Maka setiap rumah sakit sebaiknya dalam merekrut staf dan tenaga medis, harus tetap memperhatikan hal itu.

Dijelaskannya, kalau seperti di Singapura,para dokter dan tenaga medis sudah dijamin pemerintah biaya hidup dan operasionalnya. Sehingga mereka melayani pasien tidak memikirkan lagi tentang itu. 

"Hal ini juga  penting diperhatikan mengingat resiko pekerjaan dokter dan tenaga medis sangatlah besar. Di seluruh dunia, hubungan dokter dan pasien itu adalah kontrak upaya bukan hasil. Kesembuhan penyakit adalah upaya dokter dan dukungan pasien, keluarga pasien dan unsur pendukung lainnya. Dokter hanya salah satu sub sistem di fasilitas kesehatan,"pungkasnya.(jae9)

Komentar