Indonesia Sasar Pasar Gim Korea Selatan

Redaksi: Sabtu, 18 November 2017 | 20.56.00



JAKARTA| HARIAN9 
Peningkatan status kemitraan antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) menjadi Kemitraan Strategis Khusus (Special Strategic Partnership) pasca kunjungan Presiden Moon Jae-In ke Indonesia baru-baru ini menandakan akselerasi dan peluang untuk terus mendorong ekspor. 

Salah satu peluang besar yang tengah disasar Indonesia adalah pasar gim di negeri asal Hallyu Wave itu, dengan mengikuti pameran Global Game Exhibition GSTAR 2017 pada 16-18 November 2017 di BEXCO, Busan, Korsel.

"Korsel berada di peringkat ke-6 dengan pendapatan gim terbesar di dunia dengan 25,6 juta pemain gim. Peluang besar ini harus ditangkap. Produsen gim kita (Indonesia) tak kalah bagusnya dan harus dipromosikan,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Kementerian Perdagangan Arlinda.

Menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), tingkat langganan pita  lebar Korsel adalah 25,4 per 100 penduduk. Dengan penduduk sebanyak 50 juta jiwa, lebih dari setengahnya memainkan gim online secara reguler. 

Untuk itu, Indonesia yang menampilkan empat perusahaan gim yakni PT Agate International, Semisoft, Joyseed Gametribe, dan Toge Productions menyasar pasar gim Korsel yang terus meningkat seiring perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup penduduknya.

Indonesia hadir untuk ketiga kalinya dalam GSTAR lewat kerja sama antara Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional dan Atase Perdagangan RI di Seoul, ASEAN-Korea Center (AKC), serta KBRI Seoul.

Pameran GSTAR merupakan pameran gim bertaraf internasional terbesar di Korsel. Menempati lahan seluas 55.300 m2, GSTAR 2017 menampilkan perangkat lunak gim, gim online, gim PC online, gim browser, gim mobile, gim board, gim arcade, indie, dan juga gim yang terkait perangkat keras.

Pada 2016 lalu, pameran ini diikuti oleh 1.530 peserta dari berbagai industri gim dan dikunjungi lebih dari 217.365 pengunjung dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, China, Taiwan, Korsel, Jepang, Inggris, dan Jerman.

Bisnis Forum Industri Gim ASEAN-Korsel dan business matching untuk peserta Paviliun ASEAN sebagai nilai tambah partisipasi pada GSTAR 2017. 

“Business Forum menjadi sarana berbagi pengetahuan dan pemutakhiran informasi bagi industri gim sehingga diharapkan dapat
membantu memperluas peluang bisnis serta membangun bantuan strategi yang tepat bagi negara-negara anggota ASEAN, khususnya Indonesia,” lanjut Arlinda.

Sekilas Perdagangan Indonesia-Korsel

Total perdagangan Indonesia-Korsel pada Januari-Agustus 2017 adalah sebesar USD.10,85 miliar. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 19,96 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara, ekspor nonmigas Indonesia pada periode ini mencapai USD.4,17 miliar atau meningkat 22,14 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu.

Indonesia adalah negara utama asal impor ke-11 Korsel. Produk ekspor nonmigas Indonesia ke Korsel terbesar diantaranya batu bara, karet alam, minyak kelapa sawit, kayu lapis, minyak kelapa, chemical woodpulp, bijih tembaga, bagian perangkat radio/televisi, produk kimia, dan lemari es.

Menurutnya, pertumbuhan positif dalam hubungan perdagangan Indonesia-Korsel tersebut tidak lepas dari setiap upaya mempromosikan produk Indonesia di luar negeri seperti GSTAR 2017, maupun promosi di dalam negeri seperti Trade Expo Indonesia 2017 baru-baru ini. 

“Lewat setiap kegiatan promosi, ekspor ke Korsel diharapkan dapat terus meningkat. Tidak hanya bahan mentah, tapi juga untuk produk-produk bernilai tambah,” pungkasnya. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 




Komentar