Mendag: Harga Bapok Stabil, Pasokan Cukup

Redaksi: Minggu, 26 November 2017 | 22.35.00



MALANG| HARIAN9
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan harga barang kebutuhan pokok (bapok) di Pasar Oro-Oro Dowo, Malang, Jawa Timur terpantau relatif stabil, pasokan pun cukup. Penegasan ini disampaikan usai blusukan ke pasar tersebut.

"Kami terus memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok (bapok) dan menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. Hasil pantauan menunjukkan harga relatif stabil dan pasokan cukup," ungkap Enggar.

Disampaikannya, harga relatif stabil dibandingkan minggu lalu. Tercatat harga beras premium Rp.11.500/kg, gula Rp.11.500/kg, minyak goreng kemasan Rp.14.000/liter, terigu Rp.8.500/kg, daging sapi Rp.115.000/kg, daging ayam Rp.32.000/kg, cabe rawit merah Rp.20.000/kg, bawang merah Rp.25.000/kg, bawang putih Rp.24.000/kg.

"Khusus untuk bawang putih, harganya bahkan di bawah harga yang ditetapkan sebesar Rp25.000/kg. Apabila terjadi kenaikan harga, Pemerintah siap untuk menggelontorkan pasokan agar harga kembali turun," imbuhnya.

Lanjutnya, namun memang ada beberapa komoditas yang harganya mengalami kenaikan, yaitu telur ayam Rp.22.000/kg, cabe merah keriting Rp.40.000/kg dan cabe merah besar Rp.30.000/kg. 

Sementara itu, harga ayam dan telur ayam masih menjadi keprihatinan karena terlalu rendah.

"Pasokan ayam dan telur ayam terlalu banyak sehingga mengakibatkan penurunan harga. Kami mendorong para peternak ayam dan telur ayam skala besar untuk ekspor untuk agar pasokan di dalam negeri tidak berlebih," katanya. 

Saat mengunjungi Pasar Oro-Oro Dowo, Mendag mengapresiasi pengelolaan pasar yang dinilai bersih dan rapi. 

"Pasar Oro-Oro Dowo sangat bagus dari segi fisik. Pasar ini juga bersih dan rapi. Pasar ini bahkan dilengkapi dengan Puskesmas dan ruang menyusui. Pasar yang terpelihara dengan baik akan mampu bersaing dengan ritel modern. Dengan kenyamanan seperti ini, saya yakin omzet pasar akan terus meningkat," jelasnya.

Pasar Oro-Oro Dowo berdiri di atas lahan seluas 3.400 m2 dan menampung sebanyak 251 pedagangan dengan 71 kios dan 180 los. 

Pasar ini beroperasi setiap hari dan menjual aneka sayuran, barang kebutuhan pokok, buah-buahan, peralatan rumah tangga, dan kelontong. 

Fasilitas yang terdapat di pasar ini, yaitu toilet, CCTV, pos jaga, tempat sampah, musala, tempat parkir, tabung pemadam kebakaran, ruang ibu menyusui, serta area penghijauan. Omzet yang dihasilkan pasar ini mencapai Rp 2,5 miliar per bulan.

Dalam kunjungan tersebut, Mendag kembali mengingatkan kepada para distributor dan produsen agar bapok harus sudah terdistribusi ke semua daerah pada 1 Desember 2017. 

Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi cuaca yang kurang bersahabat serta terhambatnya sarana transportasi. 

"Selain itu, konsumsi bapok di Malang pada akhir tahun juga tinggi dikarenakan Malang merupakan tujuan pariwisata," sebutnya.

Pemerintah Pusat akan terus berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Jawa Timur dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan bapok. 

Diapresiasinya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur karena sangat aktif memberikan laporan perkembangan terkini untuk stok bapok.

Kolaborasi Toko Modern dan Warung Tradisional untuk Ekonomi Berkeadilan

Untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat, pedagang tradisional akan diberikan opsi untuk mengambil barang dagangannya dengan harga yang lebih murah melalui kerja sama dengan Indogrosir dan Alfamart. 

"Pusat distribusi Indogrosir dan Alfamart harus menyediakan barang dagangan dalam radius 5 km-8 km, sehingga para pedagang pasar rakyat bisa mendapatkan akses terhadap barang tersebut dengan harga yang sama," tandas Enggar.

Lanjutnya, pedagang juga akan diberikan fasilitas kredit modal kerja, khusus untuk pembelian barang-barang. Modal kerjanya disiapkan dengan kredit berdasarkan rekening koran atau Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui kerja sama dengan BRI, Bank Mandiri, Mandiri Syariah, BNI, BCA, serta Sinarmas.

Sementara itu, yang tidak memiliki gerai kecil seperti Transmart, Hypermart, dan Hero juga akan diberlakukan pola yang sama. 

"Ini memotong mata rantai dan dapat membantu pedagang tradisional dan warung untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Dengan demikian, pembangunan yang berkeadilan akan terwujud sesuai amanat Presiden Joko Widodo," paparnya.

Saat ini, dimulai dari wilayah Jabodetabek. Namun, di awal tahun, kerja sama antara warung tradisional dan ritel modern diharapkan dapat berjalan secara nasional.

"Ada 340 anak muda yang bekerja di ritel modern yang harus kita perhatikan. Ini yang harus disinergikan agar toko modern bisa terus berjalan," pungkasnya. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar


Komentar