Menilik Petani Kopi Di Aceh Tengah

Redaksi: Selasa, 07 November 2017 | 07.08.00

Indausan (Wen Daus) ketika memetik biji kopi di Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah. (Foto: Jasmani)


ACEH TAMIANG| HARIAN9
Kopi merupakan bahan minuman seduhan, berasal dari biji kopi yang telah dihaluskan menjadi bubuk dengan melalui proses panjang semasa pengolahannya sebelum dapat diminum.

Bahan minuman seduhan tersebut merupakan salah satu komoditas tertinggi di dunia, bahkan hampir di seluruh belahan negara di dunia telah dibudidayakan tanaman tersebut. 

Selain negara Brasil dan Mexico sebagai negara terbesar menghasilkan tanaman komoditi biji kopi, Indonesia juga berada di urutan ke Empat dintara 50 negara penghasil biji kopi terbanyak di dunia, bahkan Indonesia juga salah satu negara yang menghasilkan biji kopi terbaik.

Provinsi Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Gayo Luwes adalah daerah penghasil kopi terbanyak di pulau Sumatera, terletak pada daerah perbukitan  dan tanah sangat subur, serta curah hujan lumayan tinggi, sehingga menjadi kelebihan tersendiri bagi tanaman komoditi kopi.

Demi melakukan pencarian informasi terkait tanaman komoditi biji kopi di Kabupaten Aceh Tengah, Harian9 Minggu (05/11/17) menelusuri perkebunan milik salah seorang petani lokal yang berada di Kecamatan Atu Lintang dengan berjalan kaki menempuh perbukitan pada jarak ketinggian sekitar satu kilometer, cukup melelahkan ketika mengarungi pendakian bukit untuk mencapai ke lokasi dimaksud.

Namun sesampainya pada puncak yang dituju, rasa lelah pun seakan sirna begitu saja ketika melihat keindahan pemandangan sekeliling serta sejuknya udara pegunungan.

Indausan, dengan sapaan akrabnya Wen Daus (32 Tahun), warga Dusun Al-Muslim Desa Kala Kemili Kota Takengon Kabupaten Aceh Tengah, adalah ayah dari Dua orang anak berprofesi sebagai petani kopi lokal yang berhasil ditemui ketika sedang memanen kopi di kebun kopi warisan dari milik orang tuanya. Wen Daus putra daerah asli Aceh Tengah,  

Dikatakannya, bahwa bertani kopi sudah dari semenjak remaja digelutinya dan profesi bertani kopi sudah turun temurun semenjak dari nenek moyangnya yang tidak mungkin ditinggalkanya.

Tidak hanya ditempat itu saja Wen Daus bertani kopi, juga ada di beberapa tempat lainnya yaitu di kecamatan Pondok Baru dan di Angkup Kampung Baru, dengan total luas kebun yang ia kelola saat ini sekitar Dua Hektar dan mampu memproduksi Dua kali masa panen dalam setahunnya, mencapai total 1.500 kilogram biji kopi gelondongan.

Dijelaskannya, bahwa secara umum ada Dua varietas jenis pohon kopi yang dikenal, diantaranya Kopi Arabika (Coffea Arabica-red) dan Kopi Robusta (Coffea Canephora-red), namun di beberapa tahun belakangan ini masyarakat Aceh Tengah mayoritas menanam jenis Arabika diantaranya bibit Ateng Unggul, Ateng Super dan Pinpin, bibit tersebut golongan jenis Arabika.

Pasaran harga penolakan ke agen pengumpul tahun ini masih sama dengan harga pada tahun lalu, yaitu Rp.11.000 per bambu jika menjual secara gelondongan, sementara kalau dijemur hingga kadar air kering mati dapat dihargai Rp.65.000 per kilogramnya.

Diharapkannya, agar pemerintah memperhatikan untuk peningkatan harga jual menimbang harga pupuk saat ini melambung tinggi, apalagi tidak semua petani kopi dapat tersalurkan pupuk subsidi, seperti saya belum pernah sekalipun mendapatkannya, karena kebun yang saya kelola masih nama orang pemilik lama, kebun hibah warisan dari orang tua dan ada pula setastus kebun kopi yang saya kelola sebagai tergadaikan kepada saya. (Jas9)
Editor: Mardan H Siregar





Komentar