Selangkah Lebih Dekat Menuju Kemitraan Strategis Indonesia-Australia

Redaksi: Sabtu, 18 November 2017 | 20.11.00



JAKARTA| HARIAN9
Perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Partnership Agreement (IA-CEPA) putaran ke-10 berakhir dengan hasil signifikan. Kedua negara kini selangkah lebih dekat menuju kemitraan strategis. 

Perundingan yang berlangsung pada 13-17 November 2017 ini merupakan tahap finalisasi sebelum memasuki putaran akhir.

“Perundingan IA-CEPA putaran ke-10 merupakan momen krusial bagi kedua tim perunding untuk merumuskan hasil perjanjian yang mampu mengakomodasi kepentingan masing-masing negara. Dikarenakan perundingan ini merupakan bentuk kemitraan ekonomi, maka hasil kesepakatannya diharapkan dapat saling menguntungkan kedua pihak," ungkap Ketua Tim Perunding Indonesia untuk IA-CEPA Deddy Saleh, Jumat (17/11).

Di putaran ke-10 ini, tim delegasi berupaya secara maksimal mencari titik keseimbangan dari berbagai kepentingan yang diperjuangkan, khususnya terkait pengembangan potensi ekonomi kedua negara tersebut. 

Beranjak dari keinginan itu, kedua juru runding sepakat mengadakan perundingan satu putaran lagi di awal Desember 2017 guna mencapai hasil perundingan yang memuaskan kedua belah pihak.

Mengingat pentingnya putaran ini, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyempatkan hadir di sela-sela perundingan IA-CEPA putaran ke-10 untuk memberikan dorongan moral kepada juru runding Indonesia serta menyampaikan arahan Presiden agar IA-CEPA dapat diselesaikan tahun ini.

Melalui IA-CEPA, Indonesia bermaksud mengembangkan sebuah kemitraan yang bermanfaat bagi pembangunan dan daya saing ekonomi Indonesia. Salah satu bentuk kemitraan yang telah berhasil diidentifikasi misalnya di sektor pendidikan. 

“Sesuai arahan Presiden, pendidikan tinggi termasuk kejuruan merupakan prioritas pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara ekonomi terbesar ke-7 di dunia tahun 2030,” ujarnya. 

Menghadapi putaran akhir bulan Desember nanti, delegasi Indonesia melakukan berbagai konsolidasi dan koordinasi dengan seluruh kementerian dan lembaga terkait, termasuk pelaku usaha dan Indonesia-Australia Business Partnership Group (IA-BPG).

Sekilas Indonesia-Australia CEPA

IA-CEPA diharapkan menjadi titik awal kebangkitan hubungan ekonomi Australia dan Indonesia. Jika disepakati, IA-CEPA akan menjadi perjanjian perdagangan dan investasi bilateral kedua yang dinegosiasi Indonesia dengan sukses setelah perjanjian dengan Jepang di tahun 2008.

Indonesia yang berpenduduk 250 juta jiwa hanya menjadi mitra dagang ke-12 bagi Australia. Padahal kedua negara secara geografis bertetangga di wilayah yang secara ekonomi paling dinamis di dunia.

Pada 2 November 2010, Indonesia dan Australia sepakat untuk membentuk IA-CEPA. IA-CEPA merupakan bentuk kerja sama ekonomi yang komprehensif dan modern yang sifatnya bukan Free Trade Agreement (FTA) tradisional. 

Elemen penting yang ditekankan pada IA-CEPA adalah "kerja sama" dan "kemitraan".

Hingga tahun 2013 telah dilaksanakan dua kali perundingan, namun kemudian sempat terhenti selama tiga tahun. Perundingan IA-CEPA direaktivasi pada bulan Maret 2016 oleh kedua Kepala Negara. Selanjutnya, perundingan putaran ke-3 dilaksanakan pada bulan Mei 2016 di Yogyakarta.

Yang terakhir pada bulan Oktober 2017 di Jakarta yang merupakan perundingan putaran ke-9. 

Pada pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Turnbull di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC Summit di Da Nang awal bulan November 2017, kedua Kepala Negara menegaskan kembali agar negosiasi IA-CEPA dapat diselesaikan di akhir tahun 2017 sehingga perjanjian dapat segera diberlakukan. 

Tim perunding kedua negara saat ini lebih mengintensifkan pertemuan, dari yang sebelumnya bertemu secara resmi setiap empat bulan sekali menjadi dua bulan sekali, ditambah dengan pertemuan intersesi sesuai kebutuhan baik langsung maupun korespondensi. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 


Komentar