Wapres Buka Festival Ekonomi Syariah Indonesia Ke-4

Redaksi: Jumat, 10 November 2017 | 22.33.00

Wapres Muhammad Jusuf Kalla (JK) memberikan sambutan pada acara ISEF 2017 di Surabaya, Kamis (9/11) (Foto: kemenag)


SURABAYA| HARIAN9
Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla (JK) membuka Indonesia Shari'a Economic Festival Ke-4 (ISEF 4th) 2017 di Convention Hall Grand City, Surabaya, Kamis (09/11).

Dalam Kesempatan tersebut, Wapres mengapresiasi Festival tersebut sebagai bentuk dari semangat untuk maju sekaligus semangat untuk benar secara Syar'i.

"Saya mengapresiasi Festival ini. Ada semangat untuk maju dan untuk benar secara syar'i. Kita biasa mengukur kemajuan bangsa dari seberapa besar ekonomi nya tumbuh. Selain itu, juga tentang kualitas. Dan saat ini, kita sedang mengarah pada kualitas. Kita sedang bicara tentang cara mengembangkan ekonomi kita, tentang sistem yang kita pakai dan tujuan yang kita capai. Kita sedang berusaha mengembangkan ekonomi berikut sistemnya," ujarnya.

Dinyatakannya, Sistem Ekonomi Syariah bukan sesuatu yang sulit. Menurutnya, muamalah sudah diajarkan di mana-mana. Tidak sesulit yang kita bayangkan. Sesuatu itu selama tidak haram, diperbolehkan. 

"Yang menjadi kelemahan kita, adalah memulainya. Semua dari kita, baik para tokoh pesantren, santri, masyarakat semua, harus memulai. Karena apa pun yang kita bicarakan, jika tidak kita mulai maka hanya berhenti di seminar. Tekad untuk memulai, sangat penting," katanya.

Wapres melihat, sistem ekonomi syariah tidak akan pernah terkena krisis ekonomi, karena tidak ada spekulasi. Semua dilakukan dan harus ada transaksi dan apa adanya.

Saat ini kita sedikit terlambat menjalankan sistem ekonomi syariah. Kita terlambat dari Malaysia, bahkan terlambat dari Inggris.

"Mari kita kejar keterlambatan ini. Mari kita memulainya dan siapkan diri sebaik mungkin. Berikan motivasi dan contoh-contoh bagi masyarakat. Baik ibadah, maupun Muamalah nya. Matangkan strategi untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia," ajaknya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo mengatakan, ekonomi syariah bukan hal ekslusif dan hanya untuk umat Islam, namun inklusif dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Sejauh ini, ujar Agus, banyak negara, baik Islam maupun tidak, ingin berkecimpung dalam ekonomi syariah. Dikatakannya, dalam hal Halal Global saja, beberapa negara seperti Inggris, China, Korea, Jepang, Thailand dan lainnya, sangat pro aktif.

Menurutnya, barang Halal Global saat ini mencapai USD.3,8 T dan dalam waktu dekat, tumbuh menjadi USD.6,3 T. Saat ini, Indonesia masih menjadi importir barang Halal Global.

"Ini membahayakan kemandirian dan ketahanan ekonomi kita. Sebagai negara muslim terbesar, harusnya kita menjadi eksportir. Untuk itu, maka kita harus mengintegrasikan sumber daya, sektor keuangan syariah, sektor sosial seperti zakat, infaq dan lain sebagainya," katanya.

"Harapannya, ke depan, Indonesia mampu menjadi pusat keuangan syariah dunia. Kita butuh strategi kebijakan dan program keuangan syariah yang komprehensif integratif, efektif dan efisien. BI siap berkontribusi aktif. Kita akan melakukan pemberdayaan, pendalaman dan penguatan riset," imbunya.

Diungkapkannya, ISEF yang kali pertama digelar pada 2014, kini terus berkembang untuk membangun pondasi Sistem Ekonomi Syariah Indonesia yang kokoh dan siap bersaing.

"BI akan berusaha maksimal untuk menggandeng berbagai pihak untuk mewujudkan impian kita; menjadikan Indonesia sebagai kiblat ekonomi syariah dunia," tandasnya.

Dikatakannya, dalam ISEF Ini kali, ada dua kegiatan utama; Shari'a Economic Forum yang diselenggarakan 7-10 November 2017 dan Shari'a Fair yang digelar 8-11 November 2017.

Selepas membuka ISEF, Wapres didamping para pejabat dan tokoh, meninjau pagelaran ISEF yang dipusatkan di lantai 2 dan 1

Turut hadir dalam Pembukaan ISEF, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri PPN / Kepala Bappenas, Bambang PS Brojonegoro, OJK, DPR RI Komisi 11, Gubernur Jawa Timur, para pimpinan bank syariah, para Kepala instansi terkait lainnya, para pimpinan pesantren dan para undangan lainnya. (kemenag/03)
Editor: Mardan H Siregar




Komentar