Baru Diaspal, Hotmix Jalan Menuju Desa Pambangunan Sudah Hancur

Redaksi: Senin, 04 Desember 2017 | 00.03.00

Kondisi hotmix pada proyek peningkatan jalan di Simpang Nagasaribu menuju Desa Pambangunan, Kecamatan Padang Bolak yang harus dikupas kembali karena pekerjaanmya diduga asal jadi, Minggu (3/12). (Foto: Riswandy)


PALUTA| HARIAN9
Diduga dikerjakan asal jadi proyek peningkatan jalan jurusan simpang Naga Saribu- Desa Pambangunan Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) yang baru selesai diaspal kondisinya sudah hancur dan aspalnya banyak yang terkelupas.

Informasi yang dihimpun, proyek yang dikerjakan oleh kontraktor PT.TPDP dengan nilai kontrak yang tertera di papan proyek sebesar Rp2.850.710.000,- bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran (TA) 2017, kondisi lapisan aspalnya terlihat tipis dan juga baru selesai di kerjakan sudah banyak yang harus di kupas untuk ditambal sulam kembali, sehingga kuat dugaan jalan hotmix tersebut kwalitasnya sangat buruk sehingga diragukan kekuatannya.

Wakil Ketua UKM LSM Presidium Aliansi Penyelamatan Indonesia Kabupaten Paluta Ginda Nugraha Parlaungan Harahap, Minggu (3/12) mengatakan, melihat dari kondisi jalan tersebut, selain dugaan ketebalan aspal yang tidak sesuai, aspal juga diduga tidak melekat kuat dengan material pondasi dasar perkerasan sehingga akan sangat mudah terkelupas.

Dikatakannya, dari hasil investigasi lapangan yang dilakukan pihaknya, ia menilai, proyek pengaspalan jalan sepanjang 2000 meter lebar 4 meter yang di kerjakan oleh pihak rekanan PT. TPDP tersebut tidak akan bertahan lama. 

Padahal katanya masyarakat desa Pambangunan baru pertama kali menikmati pembangunan jalan tipe hotmix ke desa mereka.

“Aspalnya kelihatan sangat tipis dan di pinggiran jalan sudah terlihat retak, dari bekas pengorekan pihak rekanan tersebut nampaknya lapisan aspal tidak melekat kuat pada material pondasi perkerasan, sehingga aspal jalan hotmix ini saya duga  akan mudah rusak karena terkelupas,“ ungkap Ginda.

Ia menilai, melihat dari hasil pekerjaan pihak konraktor, Pemkab Paluta dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU & PR) Kabupaten Paluta Bidang Binamarga disinyalir kurang jeli dalam mengawasi selama pengerjaan jalan tersebut berlangsung, sehingga khawatir dalam waktu singkat jalan tersebut akan hancur.

Selain itu juga katanya, dalam pekerjaan proyek jalan terenit, diduga pihak rekanan menggunakan bahan pasir dan batu (sirtu) dari penambangan galian C yang tidak mengantongi izin yang resmi.

“Kami berharap agar pihak Dinas PU dan PR Kabupaten Paluta memberikan peringatan kepada pihak rekanan untuk segera memperbaiki pekerjaan tersebut sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) atau aturan yang telah ditetapkan,“ tegasnya. (Wan9)
Editor: Mardan H Siregar 






Komentar