Ekspor Bulan November 2017 Tertinggi Sejak 2015

Redaksi: Sabtu, 23 Desember 2017 | 00.52.00



JAKARTA| HARIAN9 
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto  Lukita mengungkapkan, capaian nilai ekspor bulan November 2017 tercatat sebesar USD.15,28 miliar atau meningkat 13,2 persen dibanding tahun lalu (YoY). Capaian ini merupakan ekspor bulanan tertinggi sejak 2015.

“Capaian ekspor bulan November 2017 ini sangat baik dan merupakan ekspor bulanan tertinggi sejak Januari 2015. Membaiknya kinerja ekspor di bulan November 2017 didorong oleh meningkatnya ekspor sektor migas dan nonmigas,” ungkapnya.

Ekspor migas, lanjutnya, tercatat meningkat 15,2 persen (YoY) menjadi USD.1,27 miliar; dan ekspor nonmigas meningkat 13,0 persen (YoY) menjadi USD.14,01 miliar.

Lebih lanjut dijelaskannya, secara kumulatif ekspor selama Januari-November 2017 mencapai USD.153,90 miliar, atau meningkat sebesar 17,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2016. 

Peningkatan nilai ekspor selama Januari-November 2017 terjadi karena adanya peningkatan sektor pertambangan yang naik 34,4 persen (YoY); sektor migas 19,9 persen; sektor industri 14,3 persen; dan sektor pertanian 11,4 persen.

Beberapa produk nonmigas yang nilai ekspornya naik signifikan, antara lain besi baja (HS 72) naik 76,1 persen; bubur kayu/pulp (HS 47) naik 55,8 persen; bahan bakar mineral (HS 27) naik 46,1 persen; serta karet dan barang dari karet (HS 40) naik 41,8 persen.

Kinerja ekspor ke beberapa negara mitra dagang selama Januari-November 2017 juga cukup menggembirakan. Ekspor nonmigas ke China, nilainya naik 44,5 persen dan volumenya naik 11,3 persen; India, nilainya naik 41,6 persen volumenya naik 3,9 persen; serta Malaysia nilainya naik 20,3 persen dan volumenya naik 19,6 persen.

Surplus USD.0,13 Miliar

Sementara itu, kinerja ekspor dan impor di bulan November 2017 membukukan surplus perdagangan sebesar USD.0,13 miliar. 

“Surplus November 2017 bersumber dari surplus perdagangan nonmigas yang mencapai USD.1,09 miliar dikurangi defisit perdagangan migas sebesar USD.0,96 miliar,” jelas Enggar.

Secara kumulatif neraca perdagangan selama Januari-November 2017 mengalami surplus sebesarnUSD.12,02 miliar. Ini dicapai dari surplus perdagangan nonmigas sebesar USD.19,58 miliar dan defisit perdagangan migas sebesar USD.7,56 miliar. 

“Surplus perdagangan selama JanuariNovember 2017 meningkat lebih dari 40 persen dibanding periode Januari-November 2016 yang hanya mencapai USD.8,48 miliar,” ujarnya.

Diungkapkannya, bahwa India menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar pada periode Januari-November 2017, diikuti Amerika Serikat, Filipina, Belanda dan Pakistan yang mencapai USD.28,0 miliar. 

Sementara China, Thailand, Australia, Korea Selatan, dan Argentina merupakan mitra dagang penyebab utama defisit nonmigas yang mencapai USD 20,7 miliar.

Dukung Pertumbuhan Industri Manufaktur Berorientasi Ekspor

Di bulan November 2017, nilai impor tercatat mencapai USD.15,15 miliar, meningkat sebesar 19,6 persen dibandingkan November 2016 (YoY), dan meningkat 6,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya (MoM). 

Kenaikan impor bulan November 2017 (MoM) dipicu meningkatnya permintaan impor, baik sektor migas (1,22%) maupun nonmigas (7,37%).

Secara kumulatif nilai impor selama Januari-November 2017 tercatat sebesar USD.141,88 miliar atau naik 15,5 persen (YoY). Kenaikan impor terjadi pada seluruh jenis barang yakni bahan baku/penolong naik sebesar 16,4 persen, barang modal naik sebesar 11,5 persen dan barang konsumsi naik sebesar 15,2 persen (YoY).

“Kenaikan impor bahan baku/penolong dan barang modal mengindikasikan produktivitas industri manufaktur yang tetap tinggi di penghujung tahun 2017,” pungkas Enggar.

Impor produk nonmigas dari kelompok bahan baku/penolong yang mengalami kenaikan adalah bahan baku untuk industri (25,9%), makanan dan minuman untuk industri (18,0%), serta suku cadang dan perlengkapan alat angkutan (17,2%). Sedangkan kelompok barang modal yang impornya naik signifikan adalah alat angkutan untuk industri (63,3%). (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 



Komentar