Menag Ajak Pemerintah Daerah Peduli Pesantren

Redaksi: Sabtu, 02 Desember 2017 | 21.37.00

Pelaksanaan Musabaqah Qura'atil Kutub (MQK) ke VI  Tingkat Nasional Tahun 2017 dibuka dan ditandai seremoni pemukulan beduk di Pondok Pesantren Roudhotul Mubtadiin Balekambang, Jepara, Jawa Tengah, Jumat (1/12). (Foto: kemenag)


JEPARA| HARIAN9 
Pelaksanaan Musabaqah Qura'atil Kutub (MQK) ke VI Tingkat Nasional Tahun 2017 dibuka dan ditandai seremoni pemukulan beduk di Pondok Pesantren Roudhotul Mubtadiin Balekambang, Jepara, Jawa Tengah, Jumat (1/12).

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutannya mendorong pemerintah daerah (pemda) di seluruh Indonesia terus meningkatkan perhatian dan kepedulian terhadap pondok pesanten serta madrasah diniyah.

"Pemerintah Daerah sudah seharusnya peduli dengan layanan pendidikan di daerahnya, termasuk pesantren dan madrasah diniyah," ujarnya.

Dikatakannya, pesantren merupakan miniatur Indonesia. Pesantren jadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa.

"Bisa jadi tanpa pesantren, belum tentu negara ini ada. Untuk itu, sudah sepatutnya pemerintah pusat dan daerah membuktikan kepeduliannya membantu pesantren," katanya.

Ditegaskannya, Kementerian Agama akan terus berupaya meningkatkan alokasi anggaran untuk pesantren melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). 

Karena itu, ia juga meminta pemda menyediakan alokasi anggaran yang cukup untuk pesantren di daerah masing-masing melalui anggaran pendapatan belanja daerah (APBD).

Dirjen Pendidikan Islam (pendis) Kamaruddin menyampaikan MQK 2017 ini diikuti 1.456 santri dari 34 provinsi. Selain itu, ada ratusan official dan ribuan masyarakat yang hadir memeriahkan gelaran ini.

"MQK ini  dimaksudkan untuk memasyaratkan kitab kuning kepada dunia secara luas, kepada masyarakat umum bahwa ini adalah khazanah keilmuan yang luar biasa yang harus dijaga dan dipelihara dan dikembangkan," ujar Kamaruddin.

"Jika selama ini kegiatan MQK dilakukan 3 tahun sekali, maka mulai sekarang akan kita lakukan 2 tahun sekali," tuturnya

Ada tiga perlombaan pokok dalam MQK, yaitu: Pertama, lomba membaca, menerjemahkan, dan memahami kitab kuning. Total ada 25 bidang yang akan dikompetisikan dan terbagi dalam tingkatan, yaitu: dasar, menengah dan tinggi.

Menurutnya, yang berbeda dari MQK sebelumnya, di MQK ke VI ini ada lomba  debat konstitusi berdasarkan kitab kuning. 

"Lomba ini merupakan ikhtiar Kemenag untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tentang nasionalisme dalam Islam. Kalau merujuk pada sumber literatur yang otoritatif, dijumpai bahwa nasionalisme bagian dari Islam," tuturnya.

Seremonial pembukaan dipusatkan di Aula Pesantren. Tampak hadir, Wakil Ketua Komisi VIII Nur Ahmad, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta jajarannya, Pengasuh Pesantren Balekambang KH Muhammad Makmun Abdullah, sejumlah Bupati dan Walikota di Jawa Tengah, para Kakanwil Kemenag Provinsi, Dewan Hakim, santri peserta MQK dari masing-masing wilayah, serta ribuan santri dan masyarakat. (kemenag/03)
Editor: Mardan H Siregar



Komentar