10 Desa Masuk Dalam Radius Bahaya 6 Km Dari Kawah Gunung Agung

Redaksi: Senin, 08 Januari 2018 | 22.33.00

 

JAKARTA| HARIAN9
Berdasarkan hasil rapat koordinasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kodim Karangasem, Relawan PASEBAYA dan Kepala Desa yang berada di radius bahaya 6-8 kilo meter (km), menetapkan 10 desa masuk yang dalam radius bahaya 6-8 km, sehingga warga yang menghuninya harus tetap berada di posko-posko pengungsian dan tidak diperkenankan untuk kembali. 

Saat ini masih banyak penduduk yang belum siap kembali ke rumahnya dalam radius 6-8 km karena lokasi pencarian nafkahnya berada dalam radius bahaya 6 km dan masih diperlukan waktu persiapan untuk penduduk yang dapat kembali ke rumahnya.

Pasca penurunan Radius Bahaya menjadi 6 km, yang menjadi fokus perhatian adalah harus segera ada penetapan nama-nama desa dan banjar yang akan dipulangkan dan yang tetap bertahan di pengungsian. 

Berdasarkan hasil rapat di kantor Bupati Karangasem Pada tanggal 7 Januari 2018, ditetapkan 10 desa masuk dalam radius bahaya 6-8 km. 10 desa tersebut yaitu, Besakih, Ban, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Datah, Nawakerti, Buana Giri, Jungutan dan Sebudi.

Setelah ditetapkan desa dan dusun yang masih harus berada di tempat pengungsian, maka langkah selanjutnya adalah melakukan verifikasi jumlah jiwa yang sebenarnya harus kembali tersebut.

PVMBG menetapkan status Gunung Agung, Karangasem, Bali masih berstatus "AWAS", namun demikian PVMBG menurunkan batas zona bahaya untuk beraktifitas menjadi 6 km dari sebelumnya 8 km dengan perluasan secara sektoral 10 kilometer. 

PVMBG masih terus melakukan evaluasi terhadap data aktifitas vulkanik baik seismitas kegempaan, deformasi, kimia maupun visual.

Penurunan batas zona bahaya ini tentu memerlukan persiapan-persiapan, antara lain jalur dan sarana evakuasi bagi pemulangan pengungsi, sosialisasi dan edukasi kepada penduduk yang akan kembali, penyiapan jaminan penghidupan, serta pembukaan sekolah-sekolah yang ada pada radius 6-8 km.


Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). 

Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan uap putih hingga kelabu tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak condong ke arah selatan dan timur. 

Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 07 Januari 2018 tercatat:

- 16 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
- 28 kali Gempa Hembusan
- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL).
- Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 08 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)
- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
- 4 kali Gempa Hembusan
- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:
- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.

-Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru. (esdm/03)
Editor: Mardan H Siregar 






Komentar