SELAMAT HUT ACEH TAMIANG


Lindungi Anak Indonesia dari Bahaya Kejahatan Seksual Online

Redaksi: Minggu, 14 Januari 2018 | 15.40.00



JAKARTA| HARIAN9
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise melakukan audiensi dengan pihak ECPAT Indonesia untuk membahas terkait rencana pelaksanaan Konferensi Nasional “Bersama Wujudkan Internet Ramah Anak (Safer Internet Day)” Tahun 2018. 

Konferensi ini merupakan aksi nyata dalam upaya melindungi anak Indonesia dari berbagai bahaya kejahatan seksual anak secara online, yang melibatkan sekaligus memperkuat peran organisasi masyarakat, pemerintah, CSO dan sektor swasta, public figur dalam mewujudkan internet yang ramah anak. 

Safer Internet Day bertujuan memperluas informasi terkait internet ramah anak dan membuka akses bagi siapapun untuk masuk mengenal lebih dalam serta ikut mengkampanyekan internet ramah anak. 

Konferensi Nasional ini akan dilaksanakan di 16 Provinsi di Indonesia, dimulai pada 7-8 Februari 2018 di Sumatera, Jawa dan Bali, dihadiri 200 partisipan yang berasal dari para aktivis PATBM, LSM Perlindungan Anak, Pemerintah, Komunitas anak dan orang muda, guru, orangtua, public figure serta masyarakat umum. 

Diungkapka Yohana, pertemuan ini bersifat strategis untuk membahas langkah antisipatif terhadap berbagai situasi negatif pada anak yang ditimbulkan akibat perkembangan teknologi. 

Antara lain membuat sistem perubahan, dengan pengawasan dalam penggunaan internet, berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan Kementerian /Lembaga lain, serta meningkatkan jumlah ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) agar perhatian anak teralihkan dengan hal positif. 

Ditegaskannya, masyarakat harus bersifat antisipatif dengan mengatur penggunaan gadget dan internet dengan mengarahkan fokus utama anak pada pelajaran di sekolah selebihnya meluangkan waktu dengan keluarga dan teman. 

Ditekankannya, akan pentingnya melindungi anak dari sifat plagiatrisme, yang membuat anak menjadi sulit untuk berpikir kritis dan menghasilkan suatu teori baru. Diajaknya juga, para orangtua untuk meningkatkan minat membaca buku pada anak. 

Diharapkannya, untuk 10 tahun kedepan, dunia usaha, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga dapat membangun kerjasama yang baik dalam mengantisipasi segala bentuk ancaman kekerasan pada anak, dengan target terwujudnya planet 50 : 50 di tahun 2030, dimana Indonesia menjadi negara yang ramah perempuan dan anak, tidak ada lagi kekerasan dan siap dalam menyambut suatu perubahan dengan positif. (kemen pppa/03)
Editor: Mardan H Siregar



Komentar