Alih Fungsi Lahan Di Tengah Tuntutan Swasembada Pangan

Redaksi: Kamis, 01 Februari 2018 | 17.18.00

Perkembangan Luas Lahan Sawah di Sumatera Utara Tahun 2012-2016 (Hektar) 


Rita Herawaty

Alih Fungsi lahan atau alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian sebenarnya bukan masalah baru pada saat ini. Alih fungsi lahan semakin marak terjadi di sebagian wilayah Provinsi Sumatera Utara, khususnya di daerah perkotaan. 

Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan perekonomian menuntut pembangunan infrastruktur baik berupa jalan, bangunan industri dan pemukiman. Implikasinya, lahan pertanian semakin menyusut, padahal kebutuhan penduduk akan komoditas pertanian yang sebagian besar merupakan bahan untuk memenuhi kebutuhan pangan, semakin meningkat.  

Alih Fungsi lahan pertanian dilakukan secara langsung oleh petani pemilik lahan ataupun tidak langsung oleh pihak lain yang sebelumnya diawali dengan transaksi jual beli lahan pertanian. 

Luas lahan pertanian di Provinsi Sumatera Utara saat ini mencapai 5,9 juta hektar dengan rincian lahan pertanian bukan sawah sebesar 92,68 persen dan lahan sawah sebesar 7,32 persen. Dari  total  luas lahan  sawah  tersebut  hanya 97,27 persen  yang  ditanami  padi  sedangkan 2,73 persen  tidak ditanami padi.   

Luas  lahan  sawah  turun  0,44 persen  atau 1.928 hektar  dibandingkan luas  lahan  sawah  pada  tahun 2015. Dilihat perkembangan selama empat tahun terakhir, rata-rata  pertumbuhan luas lahan sawah pertahun dari tahun 2012 sampai tahun 2016 mengalami penurunan 1,65 persen per  tahun (BPS,2017).  Kondisi ini semakin  mencerminkan  tingginya  tingkat  konversi  lahan  selama  empat tahun  terakhir  ini  di Sumatera  Utara.  

Alih fungsi lahan pertanian pada umumnya berdampak sangat besar pada bidang sosial dan ekonomi. Hal tersebut dapat terlihat salah satunya dari berubahnya fungsi lahan. Semakin sempitnya lahan pertanian akan menyebabkan banyak masalah dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Implikasi alih fungsi lahan pertanian terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sangat kompleks. 

Di mulai dari semakin mahalnya harga pangan, hilangnya lapangan kerja bagi petani hingga tingginya angka urbanisasi. Selain itu dampak yang ditimbulkan yaitu berkurangnya minat generasi muda untuk bekerja dibidang pertanian dan rusaknya saluran irigasi akibat pendirian bangunan di atas lahan yang awalnya merupakan lahan sawah.

Menahan laju alih fungsi lahan sawah bukanlah pekerjaan mudah namun hal ini harus tetap mendapat perhatian khusus dari para stakeholder agar lahan sawah tetap terjaga keberadaannya. 

Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk meredam laju alih fungsi lahan antara lain, 

(1) Menerapkan kebijakan mekanisme perizinan yang jelas dan transparan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan yang ada dalam proses alih fungsi lahan. 

(2) Pemberian subsidi kepada para petani yang dapat meningkatkan kualitas lahan yang mereka miliki, serta penerapan pajak yang menarik bagi yang mempertahankan keberadaan lahan pertanian, merupakan bentuk pendekatan lain yang disarankan dalam upaya pencegahan alih fungsi lahan pertanian.

Diharapkan dengan kebijakan yang ada ini laju alih fungsi lahan dapat diredam sehingga swasembada pangan dapat tercapai. (Rita Herawaty, Fungsional Statistisi BPS Provinsi Sumatera Utara)
Editor: Mardan H Siregar 




Referensi:
BPS,2017. Statistik Lahan Sawah Sumatera Utara Tahun 2016. BPS Provinsi Sumatera Utara. Medan
https://agribisnis14.wordpress.com/2015/03/03/alih-fungsi-lahan-pertanian/





Komentar