Dihukum 'Mati' Tapi 'Nggak Mati'

Redaksi: Senin, 12 Februari 2018 | 10.14.00

Menkeu, Sri Mulyani Indrawati memberikan keterangan kepada awak media dalam acara Konferensi Pers Sinergi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Penggagalan Penyelundupan Narkotika di Gedung Juanda I Kemenkeu, Jakarta (07/02). (Foto: kemenkeu)

JAKARTA| HARIAN9
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan keprihatinannya bahwa Indonesia telah menjadi tujuan pasar narkoba internasional. 

Hal ini disampaikannya pada Konferensi Pers Sinergi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Penggagalan Penyelundupan Narkotika di Gedung Juanda I Kemenkeu pada Rabu (07/02).

Kerjasama Kemenkeu dengan BNN berhasil mengungkap peredaran gelap lebih dari 110,84 kg sabu dan 18.300 butir ekstasi dari 49 kasus. 

Jumlah narkoba yang berhasil diamankan dan trend peredarannya tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia telah menjadi destinasi peredaran barang-barang yang berbahaya tersebut.

“Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bersama-sama dengan BNN telah berhasil mengamankan lebih dari 110,84 kg metamfetamin atau sabu dan 18.300 butir ekstasi. Jumlah barang bukti yang luar biasa besar ini menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi betul-betul destinasi pasar dari barang-barang berbahaya ini. Sehingga kita membutuhkan pengawasan yang makin ketat dari para penegak hukum,” ungkapnya.

Senada dengan Menkeu, Kepala BNN Budi Waseso, lemahnya sistem hukum di Indonesia saat ini ditengarai menjadi salah satu penyebab maraknya peredaran narkoba di Indonesia.

“Kita menangkap 12 tersangka (di berbagai tempat kejadian perkara yang berbeda). Yang sangat miris, kasus ini melibatkan pelaku yang sudah dua kali vonis hukuman mati di lapas (lembaga pemasyarakatan). Dia yang mengendalikan, dia yang terlibat dalam semua pemesanan ini. Dia sudah putus dua kali hukuman mati. Kalau ini diajukan kembali, dia hukuman mati yang ketiga. Inilah hebatnya Indonesia, hukuman mati yang tidak mati-mati. Maka tidak ada efek jera. Buat yang lainnya bandar-bandar itu akan mencontoh dari (pelaku) ini,” pungkas Ketua BNN.

Dalam Keterangan Pers terungkap bahwa peredaran narkoba tersebut terjadi di berbagai wilayah di Indonesia seperti di Aceh, Padang dan Sumatera Utara. Narkoba tersebut dipasok dari jaringan Internasional dari Malaysia ke wilayah perairan Aceh dan menyebar ke berbagai wilayah di Sumatera. (kemekeu/03)
Editor: Mardan H Siregar 



Komentar