Kemenperin Prioritaskan Industri Berorientasi Ekspor

Redaksi: Sabtu, 03 Februari 2018 | 00.04.00

 Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.  (Foto: kemenperin)

JAKARTA| HARIAN9
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Jakarta, Kamis (1/2) mengatakan, Kementerian Perindustrian memprioritaskan pengembangan industri yang berorientasikan ekspor guna memacu pertumbuhan ekonomi nasional. 

Untuk itu diperlukan langkah strategis agar sektor manufaktur tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan daya saingnya di kancah global.

“Sektor manufaktur masih menjadi andalan ekspor kita. Jadi, Kemenperin ini seperti pemain tengah yang mengirimkan bola ke Kementerian Perdagangan. Tinggal Kemendag yang memasarkannya melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dan Atase Perdagangannya,” katanya.

Berdasarkan catatan Kemenperin, industri pengolahan mencatatkan nilai ekspor sepanjang Januari-Desember 2017 sebesar USD.125 miliar. Angka tersebut memberikan kontribusi tertinggi hingga 76 persen, dari total nilai ekspor Indonesia yang mencapai USD.168,73 miliar.

Disampaikannya, lima sektor yang berkontribusi tinggi terhadap ekspor industri tahun lalu, yaitu industri makanan, industri bahan kimia dan produk dari bahan kimia, industri logam dasar, industri karet dan bahan dari karet dan plastik, serta industri pakaian jadi.

“Ke depan, kita pacu daya saing di sektor lain seperti industri otomotif dan elektronik, yang juga akan menjadi driver ekonomi,” ujarnya. 

Sektor ini dinilai mampu menghasilkan nilai tambah tinggi sehingga layak dikembangkan. Selain itu, telah menerapkan teknologi revolusi industri keempat.

“Ini yang akan juga menjadi proyek percontohan atau lighthouse yang sektornya punya nilai tambah tinggi dan ekspornya besar. Apalagi, mereka telah mengimplementasikan Industry 4.0,” tutur Airlangga. 

Selanjutnya, Kemenperin tetap fokus memperluas pasar ekspor untuk industri kecil dan menengah (IKM) melalui program e-Smart IKM dengan melibatkan beberapa marketplace dalam negeri.

Ditambahkannya, pihaknya bersama pemangku kepentingan terkait akan terus mendorong peningkatan ekspor produk industri nasional melalui perjanjian kerja sama internasional dan perbaikan regulasi. 

“Saat ini, Indonesia berkontribusi 2,5 persen pada pertumbuhan global, paling tinggi di ASEAN dan nomor lima di dunia,” ungkapnya.

Guna mendukung peningkatkan produktivitas dan daya saing industri, menurutnya, Kemenperin telah meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri di beberapa wilayah di Indonesia. 

Upaya ini untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan dunia industri.

“Kami berupaya memperbaiki kurikulum dan pelatihan di SMK-SMK di Indonesia. Selain itu, kami akan mendatangkan para tenaga ahli yang kompeten dari berbagai industri guna menambah jumlah guru produktif,” paparnya.

Setelah upaya tersebut dijalankan secara masif, tahap berikutnya adalah menyiapkan para calon pekerja industri untuk siap masuk ke era ekonomi digital. “Kami sebutnya internet of everything karena semua basisnya adalah internet,” lanjut Airlangga.

Oleh karena itu, ada tiga hal yang mutlak dipelajari dan dikuasai oleh generasi milineal Indonesia agar dapat bersaing di ‘Zaman Now’, yakni Bahasa Inggris, Statistik, dan Koding. 

“Dengan diwajibkannya tiga mata pelajaran tersebut, Indonesia siap masuk ke Industry 4.0,” tegasnya. (kemenperin/03)
Editor: Mardan H Siregar 




Komentar