Membenahi Carut Marutnya Data Pangan

Redaksi: Rabu, 28 Februari 2018 | 00.41.00



Oleh: Rita Herawati

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia, oleh karenanya penyediaan pangan yang memadai merupakan kewajiban negara. 

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan (UU Pangan) menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar itu merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan manusia yang berkualitas.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mendukung penguatan serta kemajuan sub sektor tanaman pangan adalah dengan menyediakan data yang up to date dan akurat terkait kondisi tanaman pangan. 

Ketersediaan data pangan yang akurat dan up to date bukan hanya untuk kepentingan pemerintah saja namun juga untuk stake holder lainnya seperti akademisi, dunia usaha dan masyarakat. 

Saat ini data pangan mendapat banyak kritikan dari berbagai pihak seperti dari akedemisi dan masyarakat. Data pangan dinilai tidak menggambarkan situasi yang sebenarnya yang ada di lapangan. 

Upaya perbaikan data pangan masih terus dilakukan oleh BPS bekerja sama dengan instansi terkait. 

Penghitungan angka produksi pangan yang selama ini dilakukan oleh Badan Pusat Statistik ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor luas panen dan produktivitas. 

Menurut Mou yang ditandatangani oleh BPS dan Kementerian Pertanian, pengumpulan data luas tanam dan luas panen merupakan tanggung jawab Dinas Pertanian atau Dinas yang menangani data pertanian di masing-masing daerah sedangkan data produktivitas merupakan tanggung jawab bersama antara Dinas Pertanian dengan BPS di masing-masing daerah.

Selama ini metodologi pengumpulan data luas panen yang dilaksanakan oleh petugas menggunakan metode konvensional yaitu metode eye estimate. 

Metode ini mudah untuk digunakan namun memiliki beberapa kelemahan yaitu akurasinya rendah dan memerlukan waktu yang panjang. 

Hal inilah yang mendorong pemerintah untuk melakukan perbaikan metodologi sebagai salah satu upaya mendukung program peningkatan produksi pangan yang saat ini gencar dilakukan. 

Upaya perbaikan data pangan yang dilakukan oleh BPS bekerjasama dengan BPPT adalah menggunakan aplikasi untuk mengestimasi produksi padi. Aplikasi yang diterapkan ini adalah Kerangka Sampel Area (KSA). 

Metode KSA ini mengintegrasikan data spasial dan data lapangan dengan teknologi komunikasi digital yang lebih obyektif, sehingga data pertanian yang dikumpulkan menjadi lebih akurat dan tepat waktu. 

Selain perbaikan data produksi padi, upaya perbaikan lainnya yang saat ini sedang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik adalah Survei Konversi Gabah Beras. 

Selain data produksi padi, data yang diperlukan oleh pemerintah untuk merumuskan kebijakan pangan adalah data produksi beras. 

Selama ini penghitungan produksi beras dilakukan dengan menggunakan angka konversi GKG ke beras hasil survey tahun 2005-2007. 

Seiring kemajuan teknologi pertanian selama 11 tahun terakhir (dalam periode tahun 2007 sampai dengan 2018), khususnya teknologi pengeringan dan penggilingan padi, diduga saat ini telah terjadi perubahan pada angka konversi GKP ke GKG dan konversi GKG ke beras dibandingkan dengan kondisi tahun 2005-2007. 

Karena itu, perlu dilakukan pemutakhiran data dan penyempurnaan pelaksanaan survei untuk mendapatkan angka konversi GKP ke GKG dan GKG ke beras yang lebih akurat dan terkini sebagai bahan penghitungan produksi beras nasional. 

Upaya perbaikan terus dilakukan oleh BPS dan instansi terkait yang menangani data pangan. Sudah seharusnya kita turut ambil peran dalam mendukung kinerja pemerintah karena sesuai dengan semboyan Pakde “ Kita tidak sama Kita kerja sama”.  

Tanpa dukungan dari semua pihak maka usaha yang dilakukan untuk perbaikan data pangan tak akan terwujud. Mari kita sukseskan program KSA dan Survei Konversi Gabah Beras demi terwujudnya data pangan yang berkualitas. (Rita Herawati, Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara)
Editor: Mardan H Siregar

Referensi:
BPS, 2017. Pedoman Teknis Pendataan Statistik Pertanian Tanaman Pangan Terintegrasi dengan Metode Kerangka Sampel Area. BPS. Jakarta 
BPS, 2017. Pedoman Pencacah Survei Konversi Gabah Beras. BPS. Jakarta 






























   




Komentar