SELAMAT HUT ACEH TAMIANG


Tingkat Kebahagiaan Masyarakat Indonesia Meningkat

Redaksi: Selasa, 13 Februari 2018 | 21.42.00

(Foto: kemlu)


DUBAI| HARIAN9
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Prof. Bambang P. Brodjonegoro pada 10 Februari 2018 menyampaikan  paparan kunci yang bertema SDGs Implementation and Improvement of Happiness: Indonesia's Perspective pada World Government Summit 2018 yang berlangsung di Madinat Jumairah, Dubai.

Pada kesempatan ini, disampaikannya, bagaimana Indonesia mengkaitkan antara Sustainable Development Goals (SDGs) dengan Happiness. Dalam kaitan ini, Indonesia berinisiatif menyusun konsep yang disebut dengan: SDGs Pyramid to Happiness. 

Konsep ini diusulkan oleh aktor SDGs Indonesia dari unsur non-pemerintah, yang menunjukkan bahwa kepemilikan SDGs di Indonesia tidak hanya dari unsur pemerintah tetapi juga unsur non-pemerintah. SDGs Pyramid to Happiness menerjemahkan SDGs ke dalam tiga prinsip dasar untuk mencapai kebahagiaan, yaitu: people (Goal 1-10) , ecological (Goal 11-15), and spiritual (Goal 16-17). 

Tiga prinsip dasar ini pada dasarnya sejalan dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia yang telah diyakini selama ini yaitu Pancasila. 

Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam meyakini 3 nilai dasar untuk mencapai kebahagiaan, yaitu: Hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah), Hablum Minannas (hubungan antar manusia), dan hablum minal 'alam (hubungan antara manusia dengan alam). 

Contoh lain adalah Tri Hita Karana yang merupakan nilai tradisional masyarakat Bali untuk menuju kebahagiaan, melalui: harmoni antar manusia, harmoni antara manusia dengan alam, serta harmoni antara manusia dengan spiritual.

Ditegaskannya, Indonesia memiliki indeks untuk mengukur tingkat kebahagiaan yang disebut dengan Happiness Index, yang terdiri atas 3 dimensi: (i) Indeks Dimensi Kepuasan Hidup (life satifaction); (ii) Indeks Dimensi Perasaan (Affect); dan (iii) Indeks Dimensi Makna Hidup (Eudaimonia). 

Dari masing-masing komponen terlihat bahwa nilai kebahagiaan yang paling tinggi di masyarakat Indonesia adalah pada komponen harmoni dengan keluarga, sementara yang paling rendah ada pada komponen pendidikan dan keahlian. 

Selain itu, masyarakat perkotaan relatif lebih bahagia dibandingkan dengan masyarakat perdesaan, kelompok perempuan relatif lebih bahagia dibandingkan laki-laki, dan kebahagiaan menurun seiring dengan umur yang semakin tua. 

Secara umum, tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia meningkat dari tahun 2014 ke 2016. Namun, Pemerintah tetap memiliki tantangan untuk dapat menciptakan tingkat kebahagiaan Indonesia yang lebih baik lagi.

Selanjutnya, disampaikannya, pentingnya kebahagiaan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hasil studi menunjukkan bahwa negara yang tingkat kebahagiaannya relatif tinggi ternyata perekonomiannya tumbuh lebih baik. 

Hal ini karena kebahagiaan akan berdampak pada usia yang harapan hidup yang lebih panjang dan mendorong orang untuk berinvestasi lebih banyak, yang selanjutnya akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Dalam WGS 2018 ini, Bambang juga berkesempatan menjadi pembicara pada sesi ini, ia menjadi salah satu pembicara dalam sesi panel menteri (ministerial panel) bersama-sama dengan Dr. Hala AL-Saeed (Minister of Planning and Administrative Reform, Mesir) dan Alenka Smerkolj (Minister of Development, Slovenia). 

Menteri PPN/Kepala Bappenas juga mengadakan pertemuan dengan Prof. Jeffrey Sachs dari Columbia University, New York, AS. (Kemlu/03)
Editor: Mardan H Siregar 





Komentar