SELAMAT HUT ACEH TAMIANG


Indonesia Tegaskan Kepemimpinan ASEAN dalam Posisi Runding RCEP

Redaksi: Rabu, 28 Maret 2018 | 00.41.00


Dirjen PPI, Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo yang merupakan RCEP Trade Negotiating Committee (TNC) Chair saat memimpin delegasi Republik Indonesia pada hari kedua rangkaian pertemuan 2nd Senior Economic Officials' Meeting for 49th ASEAN Economic Ministers, Kamis (22/3).  (Foto: kemendag)


NUSA DUA| HARIAN9 
Indonesia kembali menegaskan bahwa ASEAN harus menunjukkan peranannya dalam penyelesaian perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) karena perundingan tersebut ditargetkan akan selesai pada tahun ini. 

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo yang merupakan RCEP Trade Negotiating Committee (TNC) Chair saat memimpin delegasi Republik Indonesia pada hari kedua rangkaian pertemuan 2nd Senior Economic Officials' Meeting for 49th ASEAN Economic Ministers, Kamis (22/3). 

Rangkaian pertemuan ini berlangsung pada 21-24 Maret 2018 di Nusa Dua, Bali. Para anggota ASEAN membahas hasil pertemuan intersesi para Menteri RCEP ke-4 dan target yang diharapkan dapat dicapai pada putaran mendatang. Indonesia menekankan bahwa perundingan RCEP dipimpin oleh ASEAN. 

"Kepemimpinan ASEAN sangat menentukan dan semua negara ASEAN harus berkomitmen kuat menyelesaikan berbagai pending isu dalam kerangka RCEP,” katanya.

Dalam proses penyelesaian perundingan ini, Iman menambahkan, Indonesia menegaskan perlunya mempersempit kesenjangan diantara negara RCEP untuk mencapai pragmatic landing zone yang disepakati bersama untuk mencapai penyelesaian perundingan tahun 2018 sesuai dengan arahan para Kepala Negara pada KTT RCEP ke-1 pada bulan November tahun lalu.

Indonesia juga mendorong semua negara anggota ASEAN agar mengikuti setiap konsensus dan kesepakatan yang telah dicapai serta tidak menyampaikan posisi baru yang belum disepakati.

“Ketika menyampaikan posisi kepada negara mitranya, ASEAN perlu satu suara serta menunjukkan kesatuan dan sentralitasnya, bukan menyampaikan posisi negara individu. Jika ada posisi salah satu negata ASEAN yang berbeda dengan posisi ASEAN yang sudah disepakati, maka negara tersebut harus memberikan informasi sebelumnya. Kita juga seharusnya jangan menunjukkan adanya perpecahan dan saling berkompetisi sesama negara ASEAN di depan para negara mitra ASEAN," tegasnya.

Elemen kerja sama RCEP yang harus dikejar untuk diselesaikan meliputi kerja sama perdagangan barang, rules of origin (ketentuan asal barang), perdagangan jasa, investasi, dan kompetisi. 

Dalam hal perdagangan barang, Indonesia menyetujui "Revised ASEAN’s Proposal on Way Forward towards Final Tariff Modality" yang mencakup 100 persen tariff lines dan nilai perdagangan.

Pertemuan juga membahas persiapan pertemuan RCEP Intersessional Ministerial Meeting ke-5 yang akan diadakan pada tanggal 1 Juli 2018 di Tokyo, Jepang.

Dalam pertemuan hari kedua ini, dibahas pula beberapa isu internal ASEAN di bidang jasa. Di antaranya, negara anggota ASEAN menegaskan kembali komitmen untuk dapat menandatangani Protocol to Implement the 10th ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) Package dan ASEAN Trade in Services Agreement (ATISA) pada pertemuan ASEAN Economic Minister bulan Agustus 2018 mendatang.

“Pembahasan kedua perjanjian tersebut mengalami kemajuan yang signifikan, pemenuhan komitmen liberalisasi negara anggota ASEAN untuk AFAS Paket 10 akan menjadi lebih baik dari AFAS sebelumnya. Sementara itu, ATISA akan menjadi perjanjian bidang jasa modern yang akan memperluas dan memperdalam integrasi jasa di kawasan ASEAN, sebagaimana tujuannya dalam cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” kata Direktur Perundingan ASEAN Donna Gultom yang juga mengikuti pertemuan. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar





Komentar