India Bebaskan Produk Gypsum Plasterboard asal Indonesia dari Pengenaan Bea Masuk Antidumping

Redaksi: Minggu, 29 April 2018 | 16.08.00



JAKARTA| HARIAN9
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan kembali mencapai keberhasilan dalam diplomasi perdagangan. 

Keberhasilan ini ditunjukkan dengan pembebasan produk gypsum plasterboard asal Indonesia dari pengenaan bea masuk antidumping (BMAD) oleh Otoritas Antidumping India (Directorate General of Anti-Dumping and Allied Duties/DGAD).

Sebelumnya, produk tersebut dikenakan BMAD sebesar USD.24,11/m3 pada rentang waktu tahun 2013-2017. Otoritas Antidumping India mengumumkan pembebasan produk tersebut dari pengenaan BMAD melalui notifikasi F. No.7/8/2017-DGAD pada 19 April 2018 lalu.

“Hasil penyelidikan yang dilakukan Otoritas Antidumping India menunjukkan bahwa kerugian industri domestik India bukan berasal dari impor yang dianggap dumping. Untuk itu, Otoritas Antidumping India merekomendasikan penghentian pengenaan BMAD terhadap produk impor gypsum plasterboard asal Indonesia,” jelas Oke.

Sebelum pengenaan BMAD, ekspor gypsum plasterboard Indonesia ke India mencapai puncaknya di tahun 2009 sebesar USD 1,09 juta dan di tahun 2010 sebesar USD.1,14 juta. Setelah pengenaan BMAD, ekspor menurun drastis pada tahun 2013 menjadi USD 6 ribu. Pada periode penyelidikan di tahun 2016 dan 2017, Indonesia bahkan tidak melakukan ekspor sama sekali ke India.

“Keputusan terbaru DGAD India menunjukkan tuduhan terhadap produk Indonesia yang telah melakukan dumping dan mengakibatkan kerugian industri domestik India tidaklah benar. Dengan adanya keputusan ini, diharapkan dapat mendongkrak dan mengembalikan nilai ekspor produk gypsum plasterboard Indonesia ke India yang sempat mencapai USD 1,14 juta pada tahun 2010,” tandas Oke.

Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati menyampaikan bahwa keberhasilan ini dicapai atas keberhasilan antara Pemerintah Indonesia dan produsen/esportir serta pelaku kepentingan lainnya. 

“Kami mengapresiasi eksportir Indonesia yang berinisiatif bekerjasama dengan Otoritas Antidumping India dan mendukung langkah Pemerintah Indonesia selama penyelidikan untuk mengamankan akses pasar ekspor gypsum di India. Pemerintah akan terus berkomitmen untuk mengamankan akses pasar produk ekspor Indonesia,” ungkapnya.

Penyelidikan antidumping sunset review produk gypsum plasterboard telah dimulai pada 15 Juli 2017 lalu. Dalam petisinya, industri domestik India mengklaim bahwa besarnya kapasitas Indonesia dapat menjadi pemicu adanya praktik dumping yang dilakukan Indonesia.


Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Pengamanan Perdagangan dalam submisinya menyampaikan bahwa tidak ada impor produk tersebut dari Indonesia pada periode penyelidikan dan tidak ada hubungan kausal antara dumping dan kerugian industri domestik India. 

Terlebih lagi, total kapasitas ekspor gypsum plasterboard Indonesia ke dunia terbilang kecil, yaitu hanya mencapai 500.000 unit.

Selain itu, pangsa impor Indonesia di India hanya 0,03 persen dari total impor India, sementara ekspor produk gypsum plasterboard Indonesia ke India di bawah 1 persen dari keseluruhan total ekspor produk gypsum plasterboard Indonesia ke dunia. 

Ini mengindikasikan bahwa ekspor Indonesia ke India tidak signifikan apabila dibandingkan dengan total kapasitas ekspor Indonesia ke dunia.

Penyelidikan antidumping oleh Pemerintah India terhadap produk impor gypsum plasterboard asal Indonesia pertama kali dimulai pada tahun 2004. Namun, penyelidikan tersebut dihentikan pada 2005 karena tidak terdapat bukti kerugian industri dalam negeri India.

Otoritas Antidumping India kemudian kembali menginisiasi penyelidikan atas impor gypsum plasterboard pada tahun 2011 dan menerapkan BMAD terhadap impor produk tersebut yang diberlakukan selama 5 tahun, yaitu pada 2013-2017. Sejak penyelidikan kedua pada tahun 2011, selain Indonesia, negara lain yang dituduh seperti China, Thailand dan Persatuan Emirat Arab.(rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 





Komentar