Malu Yang Dirasakannya Berganti Perihnya Cambukan

Redaksi: Jumat, 06 April 2018 | 19.52.00

Salah satu pelanggar Qanun Aceh terkait hukum Jinayat sedang dilakukan eksekusi cambuk oleh algojo. (Foto Jasmani)


ACEH TAMIANG| HARIAN9
Eksekusi uqubat cambuk terhadap 26 orang terpidana pelanggaran Qanun Aceh No 06 tahun 2014 tentang hukum Jinayat telah selesai dilaksanakan 05 April 2018 pukul 11:15 WIB kemarin, 26 orang terhukum uqubat cambuk tersandung berbagai kasus diantaranya Maisir (perjudian-red) dan Qamar (Minuman Keras-red).

Para terpidana hukuman ditetapkan dengan putusan hukum berfariasi, pidana ringan sebanyak 7 kali cambukan dan pidana berat sebanyak 28 kali cambukan, begitu pula sebelumnya masing-masing terhukum telah menjalani proses hukuman kurungan badan di Lembaga Pemasyarakatan Kualasimpang selama 1 hingga 3 bulan kurungan.

Langit yang mendung pasca hujan turut pula menghiasi acara pelaksanaan hukuman cambukan dipunggung itu, disaksikan para pejabat forkopimda Aceh Tamiang, Kasdim 0117/ Atam Mayor inf A. Yani, Wakapolres Kompol M. Nuzir, Ketua MPU Ilyas Mustawa, Ketua Mahkamah Syariah M. Sauqi.Msi,SH,MH, Kasi Pidum Kejari Yusmar Yusuf.SH, Danramil 02/ Karang Baru Kapten inf Lumban Raja, Kapolsek Karang Baru AKP Mahram, Plt Kadis Syariat Islam Tgk Nasbih dan masyarakat umum turut menyaksikan di halaman Masjid Syuhada Jalan listas Medan-Banda Aceh, Kampung Bundar kecamatan Karang baru, kabupaten Aceh Tamiang.


Tampak memar pada salah satu pelanggar Qanun Aceh hukum Jinayat setelah dilakukan eksekusi cambuk di punggungnya. (Foto: Jasmani)


Provinsi Aceh merupakan satu-satunya wilayah provinsi di Indonesia menerapkan peraturan syariat yang mengacu pada ketentuan hukum pidana Islam. Sebagai peraturan daerah secara istimewa, Aceh mendapatkan status sebagai provinsi dengan otonomi khusus serta tambahan izin untuk menerapkan hukum yang berdasarkan syariat Islam sebagai hukum formal.

Hukuman cambuk merupakan sebagai pelajaran bagi yang telah membuat kesalahan, sebagai dasar tujuan sebagai efek jera dalam menegakkan Syariat Islam di bumi Aceh. 

"Hukuman cambuk di muka umum ini bukan hanya kegiatan Dinas Syariat Islam saja, tetapi banyak instansi yang ikut terlibat dalam kegiatan ini diantaranya kepolisian, Mahkamah Syariah, Kejaksaan dan Pemerintah Daerah," kata Yusmar Yusuf, SH Kasipidum Kejari kabupaten Aceh Tamiang dalam kata sambutannya.

Dalam kesempatan yang sama  M. Sauqi, Msi,SH,MH, ketua Mahkamah Syariah Kabupaten Aceh Tamiang juga menyampaikan bahwa pelaksanaan hukuman cambuk ini merupakan amanah qanun Aceh yang harus dilaksanakan, dia berharap dengan pelaksanaan hukuman cambuk ini semakin berkurangnya warga yang melanggar Syariat Islam di Aceh khususnya Aceh Tamiang dan ketegasannya meminta kepada Masyarakat yang bedomisili di Aceh Tamiang agar melaksanakan Syariat Islam dengan baik. 

"Hukuman cambuk ini dilaksanakan tidak ada niat untuk membuat malu para terhukum, akan tetapi sifatnya membuat efek jera saja agar tidak terulang lagi pelanggaran-pelangaran Syariat Islam," kata M. Syauqi.

Diapit oleh dua orang petugas Wilayatul Hisbah (Polisi Syariat), satu persatu mereka dibawa menuju panggung berukuran 3x4 meter itu kehadapan sang Algojo sebagai eksekutor, wajah tertutup jubah orange memegang sebilah rotan berukuran sebesar jari telunjuk orang dewasa dengan panjang sekitar 2,5 meter bak seorang kesatria Ninja tiada seorangpun yang mengenalinya. 

Ratusan pasang bola mata tertuju kepada Zulkarnain Firdaus (19) warga kampung Paya Bedi kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang ketika terpanggil mengawali cambukan sebanyak 17 kali karena telah melanggar pasal 20 hukum Jinayat.

Satu persatu selanjutnya menyusul ke panggung diantaranya, Misnanto, Al yudi (28), Sugondo Syam (26), Rizal Syahputra (22), Aminullah (35), Katimin (43), Yusliandi (43), Jumillah (42), Agus Salim (44), Andi Arifin (28), Bayu Syaputra (21), Suwandi (42), Untung Wahyudi (25), Kurnia Syahputra Yulfandi Br Sitepu (34), Indra Iksan Martodang (32), M. Nur (32), Fahrureza (25), Rafi Dila Anarqi (23), Erwinsyah Putra Situmorang (28), Wahyu Syahputra (25), Irwan Novandi (24), Zakaria (52), Zarnawi (43), Ismail (44) dan Lukmanul Hakim (35).

Wajah terhukum tertunduk menatap lantai panggung, rasa malu sebelumnya yang dirasakan sirna seketika tergantikan dengan rasa sebilah rotan mendarat di punggungnya, tampak pula sesekali memejamkan mata serta wajah mengerut, dan bola mata mulai dibalut air mata menahan punggung terajam perih kesakitan. 

Namun apakah rajaman perih itu akan selalu dirasakan oleh rakyat kecil saja. Hingga saat ini belum pernah tersiar berita adanya seorang pejabat dan berpangkat yang tersandung dengan kasus yang sama. Apakah mereka tiada yang bersalah.??? (Jas9)
Editor: Mardan H Siregar








Komentar