SELAMAT HUT ACEH TAMIANG


Museum Kata Itupun ‘Inspiratif'

Redaksi: Rabu, 11 April 2018 | 01.19.00

Herisim Sembiring Legal & Relation PT.Pertamina EP Rantau terlihat tertegun ketika berada didalam Museum Kata Laskar Pelangi. (Foto: Jasmani)


ACEH TAMIANG| HARIAN9
Terlihat banyak orang asing ketika menolak pintu kaca besar melangkah masuk Hotel BW Suite tempat yang dituju. Suasana sejuk pun terpancar dari hembusan Air Conditioner dalam keramaian hotel bintang Lima yang berada di pesisir pantai di jalan Patimura, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung.

Terlihat pula orang-orang sedang duduk sibuk membaca buku, berbincang, serta mondar mandir di ruang besar Lobby hotel dengan tatanan begitu rapi, bersih, harum dan dihiasi pernak-pernik lampu warna-warni disetiap sudut serta plafon hotel besar yang menjulang tinggi berjumlah 11 lantai itu.

Herisim Sembiring (54) Lelaki paruh baya, berdarah Karo berkulit kuning Langsat, serta rambut mengkilap memutih itupun juga terlihat sibuk check-in di meja resepsionis, ia adalah Legal & Relation PT. Pertamina EP Rantau Kabupaten Aceh Tamiang, Asset 1 Provinsi Aceh, bertugas mendampingi wartawan Aceh Tamiang dalam kegiatan Edukasi dan Penyegaran Jurnalistik.

Kegiatan tersebut berlangsung di Ballroom Hotel BW Suite Belitung, diikuti jumlah peserta 70 orang Jurnalis surat kabar cetak, elektronik dan online, diselenggarakan selama Empat hari didampingi oleh Tujuh orang mentor senior dan profesional dari Tempo Institute, turut dihadiri pula Imam Wahyudi anggota Dewan Pers yang menjabat Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat & Penegakan Etika Pers.

Berbagai kegiatan peserta mengikuti, memperdalam ilmu jurnalistik, pertandingan penulisan pemberitaan baik secara individu dan kelompok, serta pariwisata sebagai momen terindah bagi peserta.

Di hari kedua setelah sehari sebelumnya lelah berfokus dan lelah memutar fikiran, sekedar menjernihkan imajinasi, peserta pun dibawa berkunjung ke tempat-tempat penuh sejarah yang telah mengharumkan nama kabupaten Belitung Timur seperti pada Flm Laskar Pelangi, Herisim Sembiring tertegun saat memasuki pintu gerbang dalam hamparan bangunan rumah bergaya kolonial dijalan Laskar Pelangi 7, Gentong, Belitung Timur.

Dia mengira bangunan rumah tersebut hanya sekadar tempat istirahat dan cafe untuk bertemunya sekelompok orang yang ingin mendiakusikan sesuatu, namun sungguh diluar dugaanya, ternyata bangunan rumah yang terkesan tua itu menyimpan nilai-nilai sejarah kontemporer. 

Ya, Museum Kata Andrea Hirata, seabrek ‘punggawa’ makna terselip dirumah tua itu, sebagai referensi dan edukasi bagi tamu yang membesuknya. Goresan makna kata dalam buku Laskar Pelangi sangat kental, mengocok alur pikir para turis ketika sampai di depan museum itu. 

Foto-foto yang disuguhkan sebagai pajangan di aula museum menceritakan tentang perjalanan sastra yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Belitung.

Para turis sebelumnya hanya tahu dari suguhan cerita novel yang tersaji dalam buku Laskar Pelangi tentang siapa tokoh-tokoh yang berperan didalam kisah itu, seperti Ikal, Lintang dan Mahar, mereka para jenius yang lahir dari sekolah bangunan tua, reot dan ditopang oleh Dua batang kayu sebagai penyangga dari kemiringan, mereka pula mampu mengangkat derajat sebuah pulau yang sebelumnya sepi dari penghuni. Para turis ketika sampai disana juga akan mengetahui apa dan bagaimana museum itu sangat "inspiratif dan mengagumkan”.

Di museum itu para pengunjung akan diajak untuk ‘mereview’ novel Laskar Pelangi. berawal dari halaman trailer hingga cerita utama yang menjadi novel terlaris dan berubah menjadi film box-office di Indonesia.

Memasuki museum, mata turis langsung dijejali foto-foto penulis dengan kalimat inspiratif. Salah satu kata inspirasional adalah "Teruslah bermimpi, karena Tuhan akan selalu memeluk Anda". Selain itu, ada juga kutipan dari novel-novel yang telah diterbitkan dalam berbagai bahasa.

Turis terasuki ingin membedah lebih dalam lagi ke dalam museum ini untuk bernostalgia dengan karya karya Andrea Hirata yang fenomenal. Lalu, anda akan disambut dengan ruangan yang sangat nyaman, lengkap dengan meja dan buku yang tersebar di dalamnya. 

Di ruangan ini juga terpajang foto-foto adegan film Laskar Pelangi. Sampul Laskar Pelangi yang terbit di berbagai negara juga menghiasi dinding ruangan.

Ruang utama di museum ini dinamai berdasarkan nama-nama tokoh di Laskar Pelangi. Ruang pertama adalah Ruang Ikal. Di ruang ini, pengunjung bisa melihat cuplikan sebuah novel yang menggambarkan sosok Ikal. 

Ruang berikutnya adalah Ruang Lintang. Lintang di Laskar Pelangi adalah sosok cerdas yang dibanggakan dari teman-temannya.

Di ruang ini, pengunjung bisa melihat foto-foto Lintang yang diambil dari film Laskar Pelangi. Selain itu, ada satu daerah lain yang letaknya agak terpisah oleh Ruang Ikal dan Ruang Lintang. Ruangnya adalah Ruang Mahar. 

Mahar dikenal sebagai sosok eksentrik yang menyukai berbagai bentuk kesenian. Di ruang ini, pengunjung bisa melihat foto-foto artis yang menginspirasi Mahar, salah satunya Rhoma Irama. 

Setelah melewati Ruang Mahar, para pengunjung akan masuk ke ruang dapur. Di ruang ini, para pengunjung akan melihat dapur yang diubah menjadi kedai kopi.

Museum ini didirikan oleh penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Untuk masuk ke museum, yang diresmikan pada November 2012, para pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp.50 ribu rupiah. 

Museum Kata Andrea Hirata menjadi museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia. Mengunjungi museum bisa membuat pengunjung tahu bagaimana literatur menjadi bagian penting kehidupan.

Banyak cerita disana, juga banyak ilmu jurnalistik yang diserap dari mentor - mentor senior Tempo Institute, begitu pula orang - orang asing sebelumnya tidak pernah saling kenal, kini mereka menjadi teman seprofesi saling menukar informasi dan menjadi bahagian teman bercerita. (Jas9)
Editor: Mardan H Siregar




Komentar