Misi Dagang Bangladesh,Kemendag Tawarkan Manajemen Bandara dan Infrastruktur

Redaksi: Selasa, 01 Mei 2018 | 08.30.00



DHAKA| HARIAN9
Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong Bangladesh menjadi negara berkembang di kawasan Asia Selatan melalui kerja sama ekonomi, investasi, dan perdagangan. Indonesia siap bekerja sama secara strategis melalui pembangunan manajemen bandara dan infrastruktur.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Forum Bisnis di Hotel Le Meridien, Dhaka, Bangladesh kemarin, Kamis (26/4). Forum bisnis adalah bagian dari rangkaian misi dagang ke Bangladesh, yang merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Joko Widodo ke negara tersebut pada Januari 2018. 

Presiden Jokowi bertemu dengan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina Wajed dan Presiden Bangladesh Abdul Hamid untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral.

“Presiden RI berharap kerja sama ini akan mendorong Bangladesh menjadi negara berkembang dan bersama-sama Indonesia meningkatkan kesejahteraan rakyat kedua negara melalui kerja sama ekonomi, investasi, dan perdagangan yang menguntungkan kedua negara,” kata Arlinda.

Dalam misi dagang Bangladesh, Kemendag membawa 93 orang pelaku usaha dari 43 perusahaan di berbagai sektor produksi/industri seperti migas, CPO, fesyen, makanan dan minuman, otomotif, properti, layanan bandara, furnitur, jasa konstruksi dan infrastruktur, serta sejumlah perwakilan instansi daerah. 

Para pengusaha Indonesia ini menjalin komunikasi dagang dengan 122 buyer Bangladesh, terdiri atas 103 perusahaan importir dan 19 anggota KADIN Bangladesh.

Kemendag menyelenggarakan misi dagang ke Bangladesh pada 26-28 April 2018 sebagai bagian dari upaya membuka pasar ekspor ke negara-negara nontradisional tahun ini. Rangkaian kegiatan misi dagang ini terdiri atas forum bisnis, business matching, dan dukungan penyelenggaraan Indonesia Fair 2018 yang digelar KBRI Dhaka.

Forum bisnis di Dhaka kali ini menjadi ajang pertemuan para pengusaha Indonesia dan Bangladesh untuk saling mengenal dan menjalin hubungan bisnis. Harapannya, forum bisnis akan menghasilkan transaksi perdagangan atau investasi.

Narasumber yang hadir dalam forum bisnis tersebut adalah Ketua Komite Bilateral Bangladesh dan Srilanka KADIN Indonesia Deepak Samtani; President of Federation of Bangladesh Chambers of Commerce and Industry (FBCCI) Md. Shafiul Islam Mohiuddin; Executive Member (Additional Secretary) of Bangladesh Investment Development Authority (BIDA) Ajit Kumar Paul; Head of National Interest Account Department Indonesia Eximbank Nilla Meiditha; Gas Sourcing Manager PT Pertamina Imam Mul Akhyar; Vice President Director Adaro Power Dharma Djojonegoro; Chairman of Indonesian Palm Oil Association Joko Supriyono; dan Kepala Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Sawit Rusman.

Usai forum bisnis, para pengusaha dari kedua negara bertemu dalam sesi business matching untuk melakukan komitmen transaksi bisnis dan investasi. Delegasi Indonesia juga melakukan kunjungan ke importir minyak kelapa sawit, Meghna Group of Industries (MGI).


Untuk memperkuat kerja sama perdagangan, Arlinda juga mengajak pengusaha Bangladesh ikut dalam Trade Expo Indonesia (TEI) pada 24-28 Oktober 2018 mendatang di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD. 

Arlinda juga mengundang para pengusaha Bangladesh untuk berwisata ke berbagai destinasi wisata eksotik di Indonesia seperti Pantai Kuta Bali, Raja Ampat Papua, dan Mandalika di Nusa Tenggara Barat. 

Hubungan Indonesia-Bangladesh

Hubungan perdagangan Indonesia-Bangladesh menunjukkan peningkatan dengan tren nilai perdagangan lima tahun terakhir (2013-2017) naik rata-rata sebesar 6,71 persen per tahun. 

Nilai perdagangan kedua negara tahun 2017 tercatat senilai USD.1,67 miliar, naik 25,07 persen dibandingkan tahun 2016. Ekspor Indonesia ke Bangladesh tahun 2017 tercatat sebesar USD.1,60 miliar yang terdiri atas ekspor nonmigas USD.1,58 miliar dan ekspor migas USD.16,13 juta.

Sementara itu, impor Indonesia dari Bangladesh USD.73,9 juta atau naik 6,99 persen  dibanding tahun 2016. Produk ekspor nonmigas Indonesia ke Bangladesh dengan nilai tertinggi pada 2017 adalah minyak kelapa sawit dan turunannya, bubur kayu kimia, benang, dan serat staple buatan. 

Sedangkan, lima besar produk yang diimpor Indonesia dari Bangladesh adalah benang jute, kaos oblong, singlet dan rompi, karung dan tas, serta pakaian.

Bangladesh mengimpor dari dunia di antaranya untuk komoditas minyak medium, katun, minyak kelapa, gula tebu mentah, gandum dan meslin, denim, minyak kedelai mentah, dan telepon.

Secara ekonomi, Indonesia melihat Bangladesh sebagai mitra dagang nontradisional yang sangat penting. Produk domestik bruto (PDB) Bangladesh pada 2016-2017 mencapai rekor tertinggi yaitu USD.246,2 miliar dengan PDB per kapita mencapai USD.1.602. 

Perekonomian Bangladesh ditopang pasar domestik yang besar, industri manufaktur yang berorientasi ekspor, penerimaan remitansi yang tinggi, serta kemudahan investasi.

Posisi Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-4 negara di dunia yang paling prospektif dalam hal investasi. Peringkat kemudahan berusaha di Indonesia naik dari posisi 91 tahun 2017 ke posisi 72 di tahun 2018. Global competitive index Indonesia juga naik dari posisi 41 ke 36. 

Selain itu, tahun 2050 Indonesia diprediksi menjadi negara urutan ke-4 dari 7 negara berkembang yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi global bersama Brasil, China, India, Meksiko, Rusia, dan Turki. 

Dengan jumlah penduduk hampir 300 juta orang, Indonesia merupakan pasar terbesar di kawasan ASEAN yang sangat menarik bagi pengusaha untuk berinvestasi dan berdagang.

Indonesia dan Bangladesh juga memiliki beberapa kesamaan. Di antaranya, kedua negara memiliki jumlah pemeluk muslim terbesar dan sangat peduli pada pengungsi Rohingya. Indonesia dan Bangladesh juga tergabung dalam Organisasi Islam Dunia (OKI) dan sama-sama membela kemerdekaan negara Palestina. 

“Kesamaan pandang dan pertumbuhan ekonomi Bangladesh di kawasan Asia Selatan yang cukup mengagumkan menjadikan Bangladesh
mitra strategis bagi Indonesia,” kata Arlinda.

Arlinda berharap hubungan ekonomi Indonesia-Bangladesh dapat berlanjut ke tingkat yang lebih erat melalui melalui perumusan kerja sama bilateral dalam kerangka Preferential Trade Agreement (PTA).

“Kami sangat meyakini hubungan kerja sama ini dapat terwujud dengan lebih baik. Kami berharap, kerja sama perdagangan IndonesiaBangladesh akan ditingkatkan ke sektor-sektor lainnya karena Indonesia memiliki kekuatan di industri pertahanan, pesawat terbang, farmasi, alat kesehatan, dan jasa konstruksi,” kata Arlinda. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar


Komentar