Jelang Pelaporan SPT PPh Tahunan, DJP Memberi Himbauan

Harian 9 author photo


MEDAN| HARIAN9
Pada saat menjelang periode pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan beberapa himbauan, yaitu bagi Pemberi Kerja/Bendaharawan, maka bukti  pemotongan  1721  A1/A2  merupakan  dasar  pengisian SPT  PPh  Tahunan  oleh  Wajib Pajak  Orang  Pribadi  serta  penyediaan  SPT  Tahunan pre-populated.  

Dengan demikian, Ditjen Pajak  mengingatkan  seluruh  pemberi  kerja  dan  bendaharawan agar melaksanakan pemotongan PPh Pasal 21, serta mengisi dan melaporkan SPT Masa PPh  Pasal  21/26 Masa  Desember  2017  (termasuk  formulir  1721-I)  secara  benar  dan tepat  waktu.

Kepala DJP Sumut I, Mukhtar mengatakan, selain itu juga Bagi Wajib Pajak Badan akan ada tambahan Dokumen  terkait  Peraturan  Menteri Keuangan  Nomor  169/PMK.010/2015. 

Wajib Pajak yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia dan modalnya terbagi atas saham-saham serta memiliki utang dan mengurangkan biaya pinjaman dalam penghitungan  penghasilan  kena  pajak  wajib  menyampaikan  laporan penghitungan besarnya  Perbandingan  Antara  Utang  dan  Modal  sebagai  lampiran  SPT.

"Dalam  hal  Wajib  Pajak  memiliki  utang  swasta  luar  negeri,  Wajib  Pajak  juga  wajib menyampaikan  laporan  utang  swasta  luar  negeri  sebagai  lampiran  SPT  Tahunan Pajak Penghasilan  Wajib Pajak  Badan. Juga tambahan  dokumen  tersebut di  atas  tidak berlaku bagi Wajib Pajak yang  bergerak  di bidang  usaha  perbankan, pembiayaan,  asuransi,  infrastruktur,  pertambangan  tertentu, atau  yang atas  seluruh penghasilannya dikenai  PPh yang  bersifat  final," tuturnya Senin (22/01/2018).

Dijelaskannya, Wajib Pajak  Peserta Amnesti  Pajak yaitu peserta  amnesti  yang  menyatakan  akan  melakukan  repatriasi  aset  memiliki  kewajiban untuk  menyampaikan  laporan  pengalihan  dan  realisasi  investasi  harta  tambahan  secara berkala setiap  tahun  selama  tiga  tahun.   

Peserta  amnesti  yang  mengungkapkan  harta  tambahan  yang  berada  di  dalam  negeri memiliki  kewajiban  untuk  menyampaikan  laporan  penempatan  harta  tambahan  secara berkala setiap  tahun  selama  tiga  tahun. 

"Batas waktu penyampaian laporan pengalihan dan realisasi investasi dan laporan penempatan  harta  tambahan  mengikuti  saat  berakhirnya  batas waktu penyampaian  SPT Tahunan  PPh  Tahun  Pajak  2017  untuk  laporan  tahun  pertama," katanya.

Ditambahkannya, tahun  Pajak 2018  untuk laporan  tahun  kedua, dan  Tahun  Pajak  2019 untuk laporan tahun  ketiga. Ketentuan  lengkap  terkait  tata  cara  pelaporan  ini  dapat dilihat  pada  Peraturan  Dirjen  Pajak Nomor  PER-03/PJ/2017. 

"Bagi masyarakat/Wajib Pajak yang membutuhkan informasi lebih lanjut seputar perpajakan dan  berbagai  program  dan  layanan  yang  disediakan  Ditjen  Pajak,  kunjungi www.pajak.go.id  atau hubungi  Kring  Pajak  di  1500  200.  Penyampaian  SPT  Tahunan dapat  dilakukan  melalui  layanan elektronik  melalui  sistem  DJP  Online  pada https://djponline.pajak.go.id," pungkasnya. (jae9)
Editor: Mardan H Siregar



Komentar Anda

Berita Terkini