Keluarga Korban Minta Polres Padangsidimpuan Tangkap Pelaku Penganiayaan

Harian 9 author photo
Korban penganiayaan Irfan Sembiring memperlihatkan luka dikepala akibat dipukul dengan benda keras oleh pelaku AUS, saat korban sedang melaksanakan ibadah Shalat Maghrib di Masjid Assuhada Siparau Kelurahan Batunadua Julu Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan. (Foto : Ist)                                                                                               


PADANGSIDIMPUAN| HARIAN9
Istri korban penganiayaan, Dermina Ritonga (46), warga Lingkungan III, Kelurahan Batunadua Julu, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, meminta aparat kepolisian Polres Padangsidimpuan menangkap AUS, pelaku penganiayaan terhadap suaminya Irpan Sembiring yang saat kejadian sedang melaksanakan ibadah Shalat Maghrib di Masjid Assuhada Siparau Kelurahan Batunadua Julu Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan.

AUS, yang juga warga setempat dilaporkan ke Polres Padangsidimpuan sesuai Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor: STPL/15/I/2018/SU/PSP, yang diterima Kapolres Padangsidimpuan melalui Kanit SPKT "A" Aiptu Endi Tarigan tertanggal 13 Januari 2018, atas kasus penganiayaan terhadap korban Irpan Sembiring dengan cara memukul korban pada Jumat (12/1) sekira pukul 18.30 WIB lalu.

Peristiwa penganiayaan itu sendiri diduga akibat dipicu dendam pelaku terhadap korban atas persoalan antara korban dan pelaku yang sebelumnya sudah diselesaikan oleh Lurah, Kepling, Polmas dan tokoh masyarakat.

“Saya merasa sedih, sampai saat ini atau sudah hampir dua minggu setelah membuat laporan pengaduan, Polres Padangsidimpuan belum juga menangkap pelaku. Bahkan kami juga belum menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dari Polisi,“ ujar istri korban Dermina Ritonga, Rabu (24/1).

Menurut Dermina, persoalan ini berawal dari dia dan suaminya yang sebelumnya tinggal di Padanglawas Utara, membeli sebidang tanah berikut rumah milik Delima Siregar dengan harga sebesar Rp.85 juta yang berada di Lingkungan III, Kelurahan Batunadua Julu Kota Padangsidimpuan pada 14 Juli 2017.

Setelah tanah berikut sebuh rumah dibeli, korban tinggal dan menetap di rumah tersebut dan mengusahai kebun karet yang ada di sekitarnya. 

Proses jual beli dan domisili korban di daerah itu juga sudah diketahui oleh Kepling III Soritua Siregar dan korbanpun sudah terdaftar sebagai anggota Serikat Tolong Menolong (STM) setempat.

Ironisnya, sekitar lima bulan kemudian tepatnya bulan Desember 2017, muncul persoalan antara korban dengan pelaku, yang mana korban menuduh pelaku telah merusak tempurung penampung getah rambung milik korban. 

Tuduhan itupun menjadi permasalahan besar di kampung tersebut hingga beberapa lama.

Karena perseteruan antara korban dan pelaku sudah jadi perbincangan masyarakat di desa mereka, pada 20 Desember 2017, persoalan itupun segera diselesaikan oleh aparat pemerintah setempat yang dihadiri Lurah Batunadua Julu Partahian Tarihoran, Kepling III Soritua Siregar, Bhabin Kamtibmas dari Polres Padangsidimpuan Aiptu Sy. Dalimunthe, disaksikan delapan orang warga.

Dalam proses perdamaian tersebut, korban secara tertulis telah mengaku salah karena menuduh pelaku telah merusak tempurung tempat penampung getah rambung milik korban.

Selain meminta maaf, korban juga berjanji akan pindah bersama keluarganya dari tempat domisilinya di Lingkungan III, Kelurahan Batunadua Julu, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, terhitung dua pekan sejak surat pernyataan tertulis yang ditandatangani korban dalam proses perdamaian.

Namun dikarenakan kondisi ekonomi yang belum mengijinkan untuk pindah serta dibutuhkan biaya untuk mengangkut barang-barang milik korban serta biaya untuk mengintrak rumah di tempat lain, batas waktu yang dijanjikan korban untuk pindah domisili sesuai surat pernyataan korban melebihi waktu hingga satu minggu.

Pada Jumat (12/1), saat korban sedang melaksanakan shalat Maghrib di Masjid Assuhada Siparau, Kelurahan Batunadua Julu dan baru menyelesaikan satu rakaat, tiba-tiba pelaku datang dan memukulkan benda tumpul keras ke belakang kepala korban, hingga korban tersungkur. 

Sementara pelaku yang sudah dikenal warga langsung melarikan diri.

Akibat pukulan itu, korbanpun pingsan dan mengalami luka robek di kepala bagian belakang. Jamaah yang selesai menjalankan ibadah langsung menolong korban dan memberitahukan kejadaian tersebut ke istri korban, selanjutnya korban dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padangsidimpuan dan menjalani perawatan karena luka yang dialami korban hingga harus mendapat 15 jahitan di kepala korban.

Menanggapi persoalan tersebut, Gubernur Lembaga Informasi Rakyat Tapanuli Bagian Selatan (LIRA Tabagsel) Eddy Ariyanto Hasibuan SH menyesalkan peristiwa dugaan penganiayaan yang menimpa korban, mengingat kejadiaan saat  korban sedang beribadah.

Atas nama LIRA Tabagsel ia meminta Polres Padangsidimpuan untuk segera menindaklanjuti kasus yang sangat rentan terhadap persoalan sosial masyarakat ini, sebab jika dibiarkan berlarut akan menjadi polemik di tengah masyarakat, mengingat peristiwa penganiayaan dilakukan pelaku saat  korban sedang beribadah.

"Terkait penanganan kasus atas laporan istri korban, kami atas nama lembaga LIRA Tabagsel sudah konfirmasi langsung ke pihak Sat Reskrim Polres Padangsidimpuan, yang mana menurut keterangan pihak Sat ReskrimPolres Padangsidimpuan, penyidikan terhadap kasus tersebut sedang berproses,“ sebut Eddy sembari berjanji akan terus mengawal kasus tersebut. (Wan9)
Editor: Mardan H Siregar  












Komentar Anda

Berita Terkini