Menlu Akan Dampingi Presiden Lakukan Diplomasi Ekonomi, Kemanusiaan dan Perdamaian

Harian 9 author photo


JAKARTA| HARIAN9
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha C. Nasir didampingi  Direktur Afrika, Daniel Tumpal Simanjuntak dan Direktur Asia Selatan dan Tengah (Asselteng), Ferdy Nico Yohannes Piay memberikan  taklimat media di ruang Palapa, Kemenlu, Jumat (19/1).

Press Briefing membahas rencana kegiatan Menlu Retno  L.P. Marsudi mendampingi kunjungan kenegaraan dan kunjungan kerja Presiden Jokowi ke  lima negara di wilayah Asia Selatan dan Tengah dalam rangka Diplomasi Ekonomi, Dilomasi Kemanusiaan, dan Diplomasi Perdamaian. 

Di samping itu press briefing juga membahas rencana penyelengaraan Indonesia-Afrika Forum (IAF) yang akan berlangsung di Bali pada 10-11 April mendatang.

“Sebagaimana diketahui dalam penyampaian Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) pada (9/1) Menlu Retno menyampaikan Indonesia-Afrika Forum menjadi salah satu fokus dari Diplomasi Indonesia dan kerja Kementerian Luar Negeri di tahun 2018," kata Nasir.

Kunjungan Presiden ke Asia Selatan

“Ibu Menteri menurut rencana akan berangkat menuju Sri Lanka pada (23/1) mendahului untuk persiapan kunjungan Presiden Jokowi yang berangkat pada (24/1). Tema kunjungan mengenai kerja sama ekonomi, Opening New Opportunities," ungkap pria yang akrab disapa Tata ini.

Wilayah Asia Selatan dan Tengah merupakan pasar non tradisional Indonesia yang memiliki banyak peluang untuk dikembangkan. 

“Jumlah penduduk empat negara yang akan dikunjungi Bapak Presiden bisa mencapai lebih dari satu miliar manusia. Empat negara ini merupakan pasar non tradisional yang memiliki potensi yang cukup besar. Selama ini kerja sama dengan keempat negara masih banyak peluang yang belum kita kembangkan," jelasnya.

Selain fokus pada kerja sama ekonomi, kunjungan Presiden Jokowi juga akan membawa Diplomasi Kemanusiaan ke Bangladesh dan Diplomasi Perdamaian ke Afghanistan.
  
“Kunjungan ini juga akan mengangkat isu Diplomasi Kemanusiaan dan Diplomasi Perdamaian khususnya terkait dengan rencana kunjungan Presiden Jokowi mengunjungi penampungan pengungsi di Cox's Bazar di Bangladesh dan rencana kunjungan Presiden ke Afghanistan," lanjutnya.

Menurutnya, kunjungan ini juga menjadi bagian dari visi Polugri 2018 terkait dengan upaya mengembangkan kawasan Indo-Pasifik yang stabil, damai, dan sejahtera. 

“Kunjungan ini merupakan upaya untuk mendukung upaya tersebut," imbuhnya.

Sementara Ferdy Nico Yohannes Piay dalam penjelasannya terkait kunjungan Menlu Retno mendampingi Presiden Jokowi menyampaikan, “Ibu Menlu akan mendampingi kunjungan Presiden Jokowi ke lima negara.   Empat yang bersifat kunjungan kenegaraan (state visit), yaitu Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan serta satu kunjungan yang bersifat kunjungan kerja ke India." ungkapnya selaku Direktur Asselteng.

Dijelaskannya dalam kunjungan kerja, secara spesifik Presiden Jokowi akan menghadiri perayaan hubungan 25 tahun ASEAN-India sekaligus menjadi Guest of Honour dalam perayaan India Republic Day. Kunjungan akan bersifat back to back.

“Pada tanggal (24/1) di Kolombo diteruskan menuju ASEAN-India pada (25/1), pada (26/1) menghadiri Republic Day, selanjutnya pada (26/1) menuju Islamabad untuk prosesi kunjungan resmi (27/1) dan pada (28/1) Presiden secara khusus akan melakukan kunjungan ke Cox's Bazar tempat penampungan pengungsi dari Rakhine State, kemudian rangkaian akan ditutup dengan kunjungan kenegaraan ke Kabul, Afghanistan pada (29/1)," jelasnya.

Menurutnya fokus kunjungan Presiden adalah membuka kesempatan atau peluang-peluang pasar baru di negara-negara Asia Selatan, khususnya seperti Sri Lanka, Pakistan dan Bangladesh. “Surplus perdagangan Indonesia dengan India cukup besar. Indonesia juga mengalami surplus dengan tiga negara lainnya walaupun masih kecil. Sehingga relatif perdagangan kita masih bisa diperkuat," jelasnya lagi.

Fokus kerja sama ekonomi dan perdagangan akan dilakukan ke Pakistan, Sri Lanka dan Bangladesh. Saat kunjungan PM Bangladesh 2017 sudah didorong keinginan bersama untuk memperkuat kerja sama perdagangan, begitu juga saat  kunjungan Presiden Sri Lanka juga ingin memperkuat hubungan perdagangan dengan status Preferential Trade Agreement (PTA). 

Dengan Pakistan sudah ada PTA selanjutnya akan dilakukan upaya untuk memperdalam dan mem-balance perdagangan. Serta memperdalam PTA di kawasan Asia Selatan yang sangat potensial dan cukup dekat konektivitasnya dengan Indonesia. 

Peluang yang akan dijajaki ke situ adalah mendorong kerja sama ekonomi.

Pemimpin Indonesia sudah cukup lama tidak melakukan kunjungan kenegaraan ke wilayah Asia Selatan. 

“Semisal kunjungan ke Kabul, Afghanistan terakhir dilakukan pada masa Presiden Sukarno tahun 1961. Demikian juga kunjungan ke Sri Lanka juga sudah 40 tahun, sementara hubungan diplomatik sudah berlangsung selama 40, 50 bahkan 60 tahun," ujarnya.

Khusus untuk India, karena tema utamanya lebih banyak tentang ASEAN-India, kegiatan Presiden lainnya menurut rencana adalah menghadiri India Business Forum.

Pada perayaan India Republic Day, 10 kepala negara ASEAN diundang untuk menjadi Guests of Honour. Hal ini merupakan menjadi pertama kalinya dimana para kepala negara ASEAN menjadi Guests of Honour dalam rangka Republic Day.

Sementara pada kunjungan Presiden Jokowi ke Bangladesh terdapat penekanan khusus. Indonesia ingin mendorong diplomasi kemanusiaan dan diplomasi perdamaian, Indonesia sangat berperan dalam upaya mengatasi dan memberikan solusi atas masalah pengungsi dari Rakhine State.

Sejak tahun lalu Ibu Menlu telah melakukan banyak hal terkait upaya-upaya shuttle diplomacy. Dalam kunjungannya ke Bangladesh Presiden Jokowi secara spesifik akan menyampaikan pesan secara langsung kepada Presiden Sheikh Hasina. 

Menurut rencana sekiranya situasi dan kondisi memungkinkan, telah diagendakan dan akan diupayakan agar Presiden dapat melakukan kunjungan ke kamp pengungsi untuk melihat langsung keadaannya.

Indonesia juga diminta untuk memberikan dukungan bagi proses peace building di Afghanistan. 

“Setelah kunjungan Presiden Ashraf Gani ke Indonesia pada 2017, Indonesia secara spesifik diminta ikut berperan dalam proses perdamaian di Afghanistan. Ada pemikiran untuk mendorong High Peace Council (HPC) Dewan Tinggi Perdamaian Afganistan yang diberikan tugas dan mendapat mandat untuk mengupayakan perdamaian di Afghanistan berkunjung ke Indonesia," katanya

“Kunjungan HPC Afghanistan ke Indonesia telah dilakukan pada bulan November 2017 dan bertemu dengan Presiden Jokowi dan Wapres JK. HPC Afghanistan juga bertemu berbagai pihak di Indonesia termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan melakukan kunjungan ke Pesantren, Katedral dan Istiqlal. Kunjungan dipandang sangat sukses, sehingga sangat mengharapkan Indonesia bisa berperan dalam perdamaian Afghanistan melalui peace building process. Pada Desember lalu, Wapres Afghanistan datang ke Indonesia, sehingga wajar ada kunjungan Presiden RI ke Kabul, Afghanistan," tutupnya.

Menurut Jubir pertemuan ASEAN-India akan menghasilkan Delhi Declaration yang saat ini masih dibahas oleh  para expert. Tujuannya adalah untk memperkuat dan memperdalam kerja sama ASEAN-India selama ini terkait dengan politik, ekonomi, sosial budaya, konektivitas dan upaya untuk memperkecil development gap.

“Beberapa isu yang menjadi perhatian dalam Delhi Declaration antara lain adalah kerja sama anti terorisme, kerja sama penanggulangan transnational organized crime, kerja sama  maritime transport dan bidang energi. Sementara di bidang budaya akan fokus pada kesehatan dan pendidikan serta upaya untuk meningkatkan digital connectivity di antara negara-negara ASEAN dan ASEAN-India.  Dalam konteks kerja sama pembangunan, kerja sama dilakukan untuk mengurangi development gap baik di dalam negara sendiri dan antar negara-negara ASEAN," pungkas jubir.

Indonesia-Afrika Forum (IAF)

​Pada PPTM 2017 Menlu Retno Marsudi telah menyampaikan beberapa strategi diplomasi Indonesia ke Afrika. 

Di tahun yang sama Presiden Jokowi di sela-sela G-20 juga menyampaikan bahwa Indonesia dalam isu Afrika akan melaksanakan Indonesia-Afrika Forum. Dalam pernyataan PPTM 2018 Menlu Retno disampaikan bahwa Indonesia-Afrika Forum akan diadakan di Bali bulan April 10-11 April.

Tujuan dari Indonesia–Afrika Forum adalah Forum yang bersejarah dalam konteks diplomasi Indonesia, karena untuk pertama kalinya Pemerintah secara lebih konkrit berupaya mengesplorasi, menjajaki, kerja sama ekonomi konkrit dengan negara-negara Afrika. 

Sebagai forum untuk melihat, membahas dan mungkin diharapkan mendapat pengumuman beberapa  business deals baik yang dilakukan oleh pihak Indonesia maupun Afrika.

Saat ini IAF dalam persiapan menuju Indonesia-Afrika Forum tersebut tersebut, Pemerintah bekerja sama dengan swasta terutama dengan KADIN dan BUMN coba menjajaki apa-apa yang menjadi achievement dalam Indonesia-Afrika Forum.

Kenapa Afrika? Pertama dari segi politis sejak Indonesia menginisiasi Konferensi Asia Afrika (KAA) kerja sama di bidang ekonomi, bagaimana mengkonversi modal politik yang sudah kita punya menjadi kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Direktur Afrika menyampaikan gambaran sekilas tentang Afrika. “Afrika adalah benua termuda, diperkirakan  pada tahun 2034 Afrika akan memiliki usia produktifnya 62 persen di bawah 25 tahun yang akan penting untuk pertumbuhan ekonomi global di masa depan. 

Pada tahun 2016, Afrika Utara merupakan kawasan yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di kawasan setelah ASEAN di Asia. Dua kawasan yang menikmati pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. 

Sementara IMF juga memperkirakan pada 2020 Afrika akan tetap bisa mempertahankan momentum pertumbuhan ekonominya diperkirakan sebesar 4 persen. Sehingga dari sisi ekonomi akan sangat dalam konteks perdagangan," jelasnya lagi.

Hal-hal lain yang akan dibahas dalam IAF adalah Indonesia memiliki bantuan Kerja Sama Teknik yang dapat dibahas untuk membantu dan juga kolaborasi antara Indonesia dan Afrika," tutupnya kepada media.

​Indonesia-Afrika Forum (IAF) merupakan upaya Indonesia menjadikan kerja sama Indonesia-Afrika menjadi lebih konkrit dari hubungan yang sudah sejak lama dilakukan. (kemlu/03)
Editor: Mardan H Siregar



Komentar Anda

Berita Terkini