Indonesia Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Perbatasan Melalui Kerja Sama Ekonomi Subregional

Harian 9 author photo


JAKARTA| HARIAN9
Indonesia, Malaysia, dan Thailand berkomitmen untuk fokus meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kerja sama konektivitas dan infrastruktur di daerah perbatasan. 

Kesepakatan tersebut dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Indonesia, Malaysia, Thailand–Growth Triangle (IMT-GT) ke-11, kemarin, Sabtu (28/4) di Singapura. 

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita hadir mendampingi Presiden RI Joko Widodo.

Mendag menyampaikan kembali pesan Presiden Joko Widodo yang menegaskan bahwa negara anggota harus berperan aktif dan berkontribusi nyata dalam meningkatkan perdagangan dalam IMT-GT.

“Presiden mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersama-sama mengembangkan kerja sama IMT-GT menjadi kerja sama yang lebih inovatif dan kompetitif agar dapat memberikan manfaat konkret bagi masyarakat Indonesia, terutama 10 provinsi yang masuk dalam kawasan IMT-GT, terlebih lagi bagi masyarakat yang berada di daerah perbatasan Malaysia dan Thailand,” ungkap Mendag.

IMT-GT merupakan kerja sama subregional antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand di bidang ekonomi yang melibatkan 10 provinsi di Sumatra, 8 provinsi di Malaysia, dan 14 provinsi di Thailand. 

Kerja sama ini diharapkan berperan dalam meningkatkan perekonomian di kawasan dan berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi seluruh wilayah ketiga negara, bahkan ASEAN secara keseluruhan.

“Dukungan dan kerja sama yang baik antara pelaku usaha, pemerintah daerah dan pusat, serta masyarakat sekitar sangat diperlukan terutama dalam menyusun dan melaksanakan proyek pembangunan untuk mewujudkan wilayah subregional yang berdaya saing, terutama di era ekonomi global,” ujar Mendag.

Menandai peringatan hari jadi ke-25, para Kepala Negara IMT-GT mencatat dan mengapresiasi capaian ekonomi yang diraih. Selama periode 2016, pertumbuhan ekonomi 32 provinsi IMT-GT mencapai 4,4 persen mendekati pertumbuhan ekonomi ASEAN yang mencapai 4,8  persen. 

Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita penduduk di wilayah IMT-GT mencapai USD 14.557, atau meningkat 26,5  persen dibandingkan PDB tahun 2011 yang sebesar USD.11.508.

Capaian lain yang cukup signifikan adalah pertumbuhan infrastruktur yang menghubungkan ketiga kawasan IMT-GT, khususnya konektivitas udara. 

Dari semula hanya 9 bandara internasional di tahun 1995, diproyeksikan tumbuh menjadi 28 bandara internasional pada tahun 2018. Sementara
itu, konektivitas laut yang khusus menghubungkan Indonesia (Sumatra) dengan Malaysia yang sudah sejak lama dicanangkan, yaitu jalur pelayaran untuk Ro-Ro Dumai–Melaka, disepakati akan mulai beroperasi pada tahun 2019.

Ketiga Kepala Negara juga menegaskan kembali komitmennya memperkuat daya saing wilayah IMT-GT dengan mengimplementasikan 38 proyek pembangunan infrastruktur konektivitas (Physical Connectivity Projects) senilai USD 47 miliar. 

Di dalamnya termasuk pembangunan dan perbaikan konstruksi jalan, jembatan, pelabuhan laut, bandara, fasilitas kepabeanan, serta infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK). 

Diharapkan perbaikan tersebut dapat meningkatkan jaringan produksi dan memastikan lancarnya arus barang, jasa, dan penumpang di kawasan IMT-GT.

“Dengan tersedianya infrastruktur yang melancarkan konektivitas di kawasan IMT-GT, diharapkan ketiga negara mampu meningkatkan daya guna dan nilai tambah dari sumber daya alam, khususnya di bidang agro-industri seperti kelapa sawit dan karet, sehingga wilayah IMT-GT dapat dikembangkan menjadi basis produksi subregional untuk komoditas pertanian tersebut,” imbuh Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo.

Sebelum menutup pertemuan, para Kepala Negara mendorong partisipasi aktif dari pelaku usaha dan UMKM dalam kegiatan Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines East ASEAN Grouth Areal (BIMP-EAGA) and IMT-GT Trade Expo ke-4 yang akan dilaksanakan bulan Juli mendatang di Thailand. 

Kegiatan yang dilakukan secara bergiliran setiap dua tahun sekali ini diharapkan dapat meningkatkan minat sektor swasta untuk meningkatkan perdagangan di antara sesama wilayah IMT-GT dan juga ke pasar internasional. Kerja sama IMT-GT dibentuk pada 20 Juli 1993 pada Pertemuan Tingkat Menteri IMT-GT ke-1.

Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi di daerah perbatasan. Anggota IMT-GT terdiri dari 32 provinsi yang tersebar di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Ada 10 provinsi di Pulau Sumatra merupakan bagian dari IMT-GT Indonesia, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu, BangkaBelitung dan Lampung. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar


Komentar Anda

Berita Terkini